Menumbuhkan Pemimpin Muda Penggerak Perubahan

Kolaborasi SMP Kanisius Kalasan dan SMA Kolese De Britto

Papan Tulis623 Views

Semangat membentuk pemimpin muda yang reflektif, peduli, dan mampu membawa perubahan nyata tampak dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMP Kanisius Kalasan yang diselenggarakan pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Mengusung tema “Pemimpin Penggerak Perubahan”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang tidak hanya menekankan keterampilan organisasi, tetapi juga pembentukan karakter dan kedalaman refleksi diri.

Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi antara SMP Kanisius Kalasan dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen SMA Kolese De Britto untuk berbagi praktik baik kepada sekolah-sekolah feeder sebagai wujud nyata dari semangat Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang disampaikan Uskup KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko beberapa waktu lalu.

Melalui program 3B SMA Kolese De Britto (Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi), sekolah berupaya membangun jejaring pendidikan yang saling menguatkan dalam semangat Ignasian.

Sebagai narasumber sekaligus fasilitator kegiatan, hadir beberapa pendidik dari SMA Kolese De Britto, yakni Yoga Jati Kusuma, S.Pd., Carolus Boromeus Aditya Deddy Perdana, S.Pd., dan Christophorus Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M.

Turut berbagi pengalaman pula dua alumni SMP Kanisius Kalasan yang kini menjadi murid kelas XI SMA Kolese De Britto, yaitu Handito Permono dan Christophorus Febrian Tri Widagdo, yang memberikan inspirasi kepada para peserta tentang perjalanan kepemimpinan mereka setelah lulus dari SMP.

Kepemimpinan bukan hanya soal perintah, tetapi tentang kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan bersama.
Proses awal: menyiapkan disposisi batin pemimpin

Proses pembentukan kepemimpinan tidak dimulai pada hari pelaksanaan saja. Pada 11 Maret 2026, para peserta terlebih dahulu mengikuti Pra-LDK yang berisi pengantar tentang pemimpin penggerak perubahan, pembagian kelompok, serta berbagai penugasan awal.

Tahap ini bertujuan menyiapkan disposisi batin kepemimpinan sehingga para peserta tidak hanya datang untuk mengikuti kegiatan, tetapi juga siap berproses secara reflektif. Dalam pengantar tersebut ditekankan bahwa pemimpin sejati bukan sekadar mereka yang memegang jabatan, melainkan mereka yang mampu memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain.

Mengenal diri: langkah awal kepemimpinan

Kegiatan LDK diawali dengan doa pembuka dan sambutan pimpinan sekolah yang menegaskan pentingnya kepemimpinan yang melayani. Setelah itu para peserta diajak memasuki sesi Mengenal Diri melalui pendekatan Jendela Johari.

Dalam sesi ini para siswa diajak memahami kekuatan, kelemahan, potensi, dan sisi diri yang sering kali tidak disadari. Proses ini dilanjutkan dengan refleksi tentang disposisi batin pemimpin, yaitu kesiapan hati untuk belajar, terbuka terhadap masukan, dan berani berkembang.

Pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam kepemimpinan Ignasian, yang menekankan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesadaran diri (self-awareness).

Kegiatan ini menjadi latihan keberanian bagi para peserta untuk menyampaikan gagasan di depan orang lain.
Belajar kepemimpinan melalui dinamika dan permainan

Suasana semakin hidup ketika peserta mengikuti sesi Wide Game, sebuah rangkaian permainan kolaboratif yang dirancang untuk menanamkan nilai kepemimpinan melalui pengalaman langsung.

Dalam dinamika ini, para peserta diajak bekerja sama menyelesaikan berbagai tantangan, termasuk permainan yang menekankan nilai 1L + 3C serta nilai karakter 5K Kanisius, yaitu keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan.

Melalui permainan ini para peserta belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal perintah, tetapi tentang kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan bersama.

Melatih keberanian bersuara

Keterampilan kepemimpinan juga diasah melalui sesi Public Speaking. Dalam sesi ini, para peserta diminta menyampaikan orasi di ruang terbuka mengenai nilai-nilai karakter, sekaligus menampilkan teater mini yang menggambarkan berbagai situasi kehidupan sekolah.

Kegiatan ini menjadi latihan keberanian bagi para peserta untuk menyampaikan gagasan di depan orang lain, sekaligus belajar mengkomunikasikan nilai-nilai yang diyakini secara kreatif dan inspiratif.

Para siswa diajak memahami kekuatan, kelemahan, potensi, dan sisi diri yang sering kali tidak disadari.
Spiritualitas: Menemukan Makna Kepemimpinan

Berbeda dari pelatihan kepemimpinan yang hanya menekankan aspek teknis, LDK ini juga memberi ruang mendalam pada spiritualitas dan refleksi diri.

Para peserta mengikuti sesi Examen, sebuah metode refleksi dari spiritualitas Santo Ignatius Loyola yang mengajak peserta meninjau kembali pengalaman mereka sepanjang hari. Melalui proses ini, para peserta belajar menemukan kehadiran Tuhan dalam pengalaman mereka serta merumuskan langkah perubahan ke depan.

Refleksi ini dilanjutkan dengan Sharing Tiga Putaran, sebuah metode berbagi pengalaman dalam kelompok kecil yang membantu peserta saling mendengarkan, memahami, dan belajar dari pengalaman satu sama lain.

Menemukan makna dan komitmen perubahan

Menjelang akhir kegiatan, para peserta diajak memasuki sesi Kebermaknaan, yaitu proses merangkum dan mengikat nilai dari seluruh dinamika yang telah dijalani.

Melalui video refleksi dan sharing kelompok besar, para siswa menyampaikan pengalaman paling bermakna selama mengikuti LDK. Kegiatan kemudian ditutup dengan ibadat penutup, sebagai ungkapan syukur sekaligus penyerahan seluruh proses pembelajaran kepada Tuhan.

LDK ini tidak berhenti sebagai pengalaman sehari, tetapi diharapkan menjadi titik awal perjalanan kepemimpinan para pengurus OSIS, maka setelah kegiatan para peserta diwajibkan menuliskan refleksi atas pengalaman yang didapatkan selama kegiatan dari Pra-LDK sampai pelaksanaan LDK.

Sebagaimana ditegaskan dalam semangat kegiatan ini, pemimpin sejati bukanlah mereka yang sekadar memegang jabatan, tetapi mereka yang berani berproses, berani berubah, dan berani menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi sesama.

Dengan semangat ini, para peserta LDK OSIS SMP Kanisius Kalasan diharapkan mampu tumbuh menjadi pemimpin muda penggerak perubahan, yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki hati nurani yang peka dan keberanian untuk menjadi “man for others”.

Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M.
Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *