Warna Hidup di Tengah Perbedaan

Pelita840 Views

Negara Indonesia merupakan negara dengan banyak keberagaman dan perbedaan. Perbedaan itu yakni suku, ras, etnis, dan budaya. Dari perbedaan tersebut, yang paling sering menjadi permasalahan yaitu keberagaman agama.

Indonesia memiliki enam agama yang telah diakui oleh negara, yaitu Katolik, Kristen Protestan, Islam, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Perbedaan agama sering kali menjadi momok perdebatan dan pertikaian antaragama di Indonesia.

Tidak jarang aku mendengar konflik-konflik akibat perbedaan agama yang bermunculan setiap tahunnya. Padahal, sebenarnya perbedaan-perbedaan ini bisa menjadi keindahan dan suatu hal yang unik untuk negara ini sendiri jika diiringi dengan kerukunan dan keharmonisan antarwarganya.

Aku adalah seorang yang beragama Katolik. Aku tinggal di Kabupaten Bogor yang mayoritas warganya nya beragama Islam. Tidak sedikit juga keluarga dan saudaraku yang beragama Islam. Lebih dari itu, aku memiliki grup persahabatan yang semua anggotanya beragama Islam. Hal itu tidak menjadi masalah bagiku dan justru menjadi warna baru di hidupku.

Aku dan teman-temanku telah belajar bersama dan sharing beberapa hal dan fakta baru tentang agama-agama lain, khususnya Islam, karena ketiga sahabatku beragama Islam. Aku beberapa kali menanyakan sesuatu tentang agama mereka, begitu juga sebaliknya. Hal ini menjadikan kekayaan bagiku agar aku makin mengenal agama mereka dan tidak mendiskriminasi agama mereka, demikian pula dengan para sahabatku.

Aku dan teman-teman sering bertukar cerita, pengalaman, dan pendapat, termasuk tentang hal Agama. Aku sering bertanya bagaimana pendapat dan perasaan mereka ketika memiliki teman yang berbeda agama. Dapat kusimpulkan, mereka juga tidak merasa ada masalah atau keberatan atas hal ini. Justru, mereka juga merasa senang dengan pertemanan kami yang berbeda agama.

Ini terbukti ketika aku merayakan Natal, mereka membelikan kado Natal untukku dan begitu juga denganku ketika mereka merayakan Idulfitri. Walaupun aku hidup sebagai minoritas di antara mayoritas, aku tidak merasa diasingkan ataupun dijauhi.

Sebaliknya, aku merasa nyaman dan aman bersama keluarga, teman, dan lingkunganku yang penuh dengan perbedaan ini. Dengan hal ini, sebaiknya kita dapat lebih terbuka kepada siapa saja tanpa membedakan suku, ras, etnis, budaya, dan terutama agamanya.

Paus Fransiskus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik dunia melakukan aksi persaudaraan pada kunjungannya ke Uni Emirat Arab pada 2019 lalu dan menghasilkan Dokumen Abu Dhabi.

Dokumen ini, mengarahkan kita agar dapat membangun perdamaian dan menciptakan hidup rukun dan harmonis di antara umat beragama. Ia mengajak kita juga untuk dapat bersatu dan bekerja sama untuk memajukan budaya saling menghormati dan membawa kedamaian sebagai saudara. Agama tidak boleh menjadi sumber peperangan, penyebaran sikap kebencian, dan permusuhan.

Apakah kita sebagai umat beriman yang telah dimateraikan Rahmat Baptisan berperan dalam tugas Kristus (Tri Munera Chiristi)yakni menjadi Imam, Raja, dan Nabi mau dan mampu untuk membangun persaudaraan dan solidaritas terhadap mereka yang berbeda dengan kita? Tuhan Membekarti.

Dominica Jovanna Arkatia Devi (Pelajar SMA Citra Berkat Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *