Generasi Z merupakan generasi yang hidup dan bertumbuh bersama dengan teknologi dalam aktivitas sehari-harinya. Hal ini menunjukkan bahwa kawula muda zaman ini memiliki kelekatan yang mendalam dengan teknologi, terutama media sosial.
Oleh karena itu, kita pun perlu menyadari bahwa teknologi membuat segala aktivitas atau sesuatu yang kita lakukan menjadi mudah dan cepat. Salah satu platform yang paling berpengaruh dengan aktivitas yang kita lakuakn ialah media sosial. Media sosial merupakan suatu situs yang disediakan di internet untuk penggunanya agar bisa melakukan segala sesuatu di dunia maya, di antaranya mengunggah foto, menonton video, membuat cerita, menyukai gambar, serta berkomunikasi dengan orang lain (bahkan di belahan dunia yang lain).
Namun, dengan masuknya media sosial yang memiliki sifat ambivalensi, muncul dampak negatif yang membuat manusia sekarang mudah terseret arus dan mengikuti derasnya perubahan.
Data yang diambil dari Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 78,19% pada 2023 atau menembus 215.626.156 jiwa dari total populasi yang sebesar 275.773.901 jiwa.
Kaum muda yang menggunakan media sosial makin hari makin meningkat. Hal ini menjadi keprihatinaan bagi generasi bangsa kita ke depan jika tidak bisa menggunakan media sosial secara positif. Media sosial menjadi tantangan bagi anak muda terutama dalam unsur pengendalian diri, karena pada zaman ini segala sesuatu yang ditawarkan media sosial membuat setiap pribadi di dalamnya mudah terjerumus, contohnya dengan munculnya tren dan challenge.
Kaum muda zaman ini cenderung untuk hidup dengan pribadi masing-masing, bahkan realitas yang terjadi membuat sebuah fenomena sosial ketika para remaja asyik dengan dirinya sendiri sehingga menjadi pribadi yang kurang mendalam.
Jika tidak digunakan dengan bijak, media sosial dapat menciptakan pribadi yang cenderung cuek dan tidak peduli kepada sesama. Hal itu muncul karena efek penggunaan ponsel pintar yang makin intens. Rata-rata orang Indonesia menggunakan internet selama 7 jam 42 menit setiap harinya. Selain itu, 98,3% pengguna internet di Indonesia menggunakan ponsel pintar.
Hal yang perlu kita sadari pada zaman ini, banyak orang tua yang sering bersifat ingin kemudahan, termasuk dalam mengasuh Generasi Z (umur 11-28 tahun, kelahiran tahun 1997-2012) yang hidup di era perkembangan teknologi yang terus berkembang. Orang tua cenderung memiliki pola asuh yang mudah serta berpengaruh bagi anaknya, terutama dalam hal pengolahan dirinya.
Kawula muda zaman ini yang diprediksikan akan menjadi tulang punggung dari generasi emas 2045, jika tidak diolah serta tidak memiliki kemendalam yang baik, akan menjadi ancaman bagi cita-cita kita dalam bonus demografi, yakni negara kita yang tercinta ini terus bertumbuh dengan jumlah pribadi produktif. Hal itu perlu dilatih dengan sebuah solusi yang baik untuk mengatasi dunia yang serbacepat ini.
Kawula muda zaman ini cenderung menjadi pribadi yang instan. Mereka cenderung memilih melakukan kegiatan di dunia maya dengan aplikasi yang sangat sering digunakan seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, Facebook, dan X. Dengan menggunakan media sosial, waktu yang kita gunakan pasti terasa cepat.
Hal lain yang terjadi, terkadang kita sering merasa insecure dengan orang lain. Terkadang pikiran yang kita gunakan perlu dilambatkan. Maksudnya, kita berani menjaga jarak dengan hening untuk bisa bertemu dengan dirinya sendiri. Sebuah petikan Kitab Suci berkata, “Ora et labora” (berdoa dan bekerja) . Dalam hening tersebut kita perlu melakukan sebuah action.
Menulis merupakan suatu aktivitas sederhana yang bahkan setiap hari hampir setiap orang melakukannya. Budaya menulis sudah hampir menghilang di kalangan kaum muda. Hal ini sangat memprihatinkan, padahal menulis merupakan suatu hal baik, yakni setiap orang memberikan sebuah karya baik.
Refleksi merupakan sebuah kegiatan menulis pengalaman hidup serta media menemukan Tuhan dalam bentuk tulisan. Dalam satu hari kita tentu menemukan pengalaman menarik, tetapi terkadang kita cenderung hanya lewat saja dengan metode refleksi. Kita bisa belajar untuk bersyukur atas apa yang kita lakukan, selain itu kita pun diajak melihat apakah yang telah kita lakukan itu berpengaruh bagi kehidupan.
Kita mulai dari perasaan yang muncul, hal apa yang bisa di pelajari. Bagaimana aku menemukan Tuhan dan diriku di dalamnya? Tak sampai di situ, refleksi mengajarkan kita untuk membangun sebuah niat baru serta apa yang bisa saya lakukan. Tentu saja hal ini membantu banyak orang karena menulis adalah salah satu metode untuk mengobati penyakit, salah satunya kanker.
Hal ini melatih kita untuk berani mengambil jarak dari dunia yang serbacepat. Bukan berarti kita menjadi pribadi yang tertutup dengan tidak menggunkan teknologi. Namun, kita diajak untuk makin bijak dengan apa yang kita kerjakan serta mengambil jarak sehingga dengan adanya teknologi kita tidak ikut terseret dengan mudah.
Sebastian Saka Irawan
Kelas XII IPS/13 SMA Seminari Mertoyudan Magelang








