Teknologi Komunikasi, Pintu Wartakan Sabda Tuhan

Jendela548 Views

Saat ini disebut sebagai abad XXI atau abad teknologi. Dapat terlihat dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta jaringan telekomunikasi yang semakin maju. Secara sadar dapat diakui, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia.

Manusia cenderung menghidupi pola hidup yang berlandaskan pada kesuksesan, keberhasilan lahiriah, dan instan. Kecenderungan tersebut mengakibatkan kehidupan rohani orang beriman mengalami degredasi dan tidak berakar.

Hidup yang dijalani terfokus pada kenikmatan-kenikmatan fisik, tanpa dilandasi nilai kerohanian dalam kematangan iman. Hal tersebut menyebabkan banyak orang mengalami kekosongan dan kekeringan nilai kehidupan, kepekaan sosial dan sekitar yang menurun, serta kerangka berpikir yang tidak mendalam dan menyeluruh. Kekosongan dan krisis nilai kehidupan yang disebut ketidakseimbangan antara keberhasilan lahiriah dan kemajuan hidup rohani.

Dalam Ensklik Fides et Ratio, art. 56 Paus Yohanes Paulus II melihat bahwa kekosongan dan krisis yang dialami oleh manusia, terutama terjadi pada orang muda dan kaum intelektual, membawa mereka pada kekurangpercayaan akan peranan dan penyelenggaraan Allah. Manusia menjadi kurang realistis terhadap dirinya sendiri, bahkan mulai lupa dan kurang mengenal diri sendiri bahwa dirinya adalah ciptaan Allah.

Situasi zaman ini membawa banyak orang pada kesibukan yang tanpa makna dan kekosongan batin yang sangat tragis. Mereka lebih asyik dan nyaman dengan dirinya sendiri, dan mereka tidak mau membuka ruang untuk bertemu Allah, tidak peduli terhadap sesamanya yang miskin, menderita, dan papa. Keprihatinan seperti ini lebih banyak dialami oleh orang-orang muda yang sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Banyak orang muda pada zaman ini tidak dapat melepaskan diri dari cengkeraman pengaruh modernisasi yang sangat kuat, terutama di bidang teknologi dan komunikasi, baik itu berupa hiburan, ekonomi, dan sosial-politik. Hal tersebut menyebabkan orang muda tenggelam dalam arus konsumerisme, hedonisme, individualisme, bahkan krisis moral dan iman. Mereka semakin lama semakin kehilangan nilai, identitas diri dan arah hidup.

 

Penggunaan teknologi komunikasi

Manusia dalam menjalankan aktivitas kesehariannya tidak terlepas dari bantuan teknologi. Menurut Tibertius Catur, “Teknologi sebagai alat atau sistem yang menyederhanakan hidup manusia, membantu memberikan kemudahan di segala bidang.” Inilah alasan manusia bergantung pada teknologi.

Menurut McLuhan dalam Morrisan, teknologi komunikasi menjadi penyebab utama perubahan budaya. Interaksi manusia dengan manusia telah digantikan menjadi interaksi manusia dengan teknologi. Sering kali tidak disadari teknologi dapat mengurangi interaksi seseorang secara langsung dengan orang-orang terdekat yang ada di sekitar (misalnya ketika dalam perjalanan menggunakan kereta api, jarang sekali ada komunikasi yang terjadi dengan orang yang duduk di sebelah dirinya dengan alasan tidak mengenal) padahal dengan membangun komunikasi akan mengenal orang tersebut.

Gereja Katolik bersifat terbuka akan kemajuan teknologi yang selalu membawa dampak bagi banyak orang dalam skala yang cukup besar. Media komunikasi, khususnya ponsel, merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari dan akan selalu bersifat dinamis.

Dalam dokumen Konsili Vatikan II, adanya internet dan media sosial sebenarnya dapat membantu mereka (orang muda Katolik) untuk mencapai kekudusan dengan berbagai fitur yang diberikan. Kenyataannya, media sosial menghalangi untuk mencapai kekudusan. Dengan komunikasi secara virtual, membuat orang muda enggan mengikuti kegiatan di gereja yang melibatkan banyak orang.

www.canva.com

Media sosial memiliki banyak sekali manfaat untuk berkomunikasi, berpastoral, dan berkatakese. Orang muda Katolik yang sudah terbiasa dengan adanya media sosial, secara tidak sadar telah masuk ke dalam pengaruh media sosial. Hal ini tampak dalam pergaulan mereka di gereja saat mengikuti kegiatan Gereja dan antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan paroki sangat kurang.

Perkembangan teknologi tentu membawa dampak positif bagi kehidupan orang muda, seperti kerasulan dalam mengoperasikan alat untuk mendukung perayaan Ekaristi, seperti bergabung dalam Komisi Sosial (Komsos). Orang muda yang sudah terbiasa menggunakan teknologi sangat membantu Gereja, karena orang muda sebagai tulang punggung Gereja masa kini.

 

Apa yang dapat dilakukan?

Media sosial memiliki kekuatan pada usergenerated content (UGC), yaitu konten dihasilkan oleh pengguna, bukan oleh redaktur atau jurnalis, sebagaimana di instansi media massa. Sebagai orang muda dan sebagai pengguna media sosial, haruslah menjadi pengguna yang bijak dengan memberikan konten-konten rohani yang menarik, kreatif, dan bersifat mengajak.

Orang muda adalah tulang punggung Gereja. Peran yang lebih banyak dan lebih besar dalam mengemban misi Gereja, misi sebagai pewarta Kabar Gembira dan pembawa damai, baik dalam komunitas Gereja maupun dalam masyarakat, terkhusus di tengah arus globalisasi yang semakin tak terbendung

Orang muda Katolik bukan seperti orang muda biasa, letak perbedaannya pada iman mereka. Iman Katolik menjadi daya, arah, dasar, serta patokan dan inspirasi dalam proses pertumbuhan orang muda Katolik. Orang muda sebagai subjek adalah pribadi yang bebas dan bertanggung jawab atas semua tindakannya. Dengan rahmat kebebasan yang diterima, orang muda diajak untuk semakin berkembang dan bertanggung jawab atas panggilan hidup mereka.

Kasih Kristus menjadikan orang muda hidup dalam sukacita injil. Menjadi saksi Kristus bukan sebatas berbicara kebenaran tetapi menghidupi dan mewujudkan dalam hidup keseharian. Dalam sukacita yang dimiliki, orang muda diwajibkan untuk mewartakan Injil dengan cara dan dengan dunia mereka.

Misalnya pewartaan dengan media sosial, yang merupakan salah satu cara yang baik dan dibutuhkan pengembangan agar seiring berjalannya waktu sesuai dengan pola kebutuhan pewartaan. Pewartaan harus diubah dari pola lama ke pola yang baru atau modern, misalnya dengan menggunakan media sosial.

Orang muda atau generasi muda lebih mudah memahami yang berhubungan dengan visual, tanpa berpikir yang sulit tetapi dapat dengan mudah dipahami. Misalnya dengan video atau animasi yang dibuat dengan panduan dari Injil atau pengalaman rohani, dan video tersebut diperankan oleh tokoh-tokoh yang kenyataannya relevan dengan kehidupan yang sedang dialami. Dengan demikian, model pewartaan tidak dengan perumpamaan, tetapi dari kisah yang dibuat sedemikian rupa agar menjadi lebih nyata.

Akan tetapi, semua isi kebenaran lewat media sosial harus bercirikan Katolik dan tidak menyimpang dari pesan Injil. Sesuai porsi dan konteks sangat perlu, jika tujuan dari membuat animasi atau video haruslah ditentukan target yang ingin dituju. Kepada para orang-orang dewasa atau remaja harus dibedakan.

Orang muda haruslah menganggap internet atau teknologi sebagai sebuah pintu yang terbuka ke dunia yang memikat dan mengasyikan dengan pengaruh formatif yang sangat kuat. Orang muda menjadi penggerak untuk memulai pewartaan dengan kolaborasi internet dan teknologi agar dapat menjadi gerakan bersama. Orang muda Katolik, ayo selaraskan hati dan tindakan.

Agustino Dua Putra (Seminaris tahun keempat Seminari Mertoyudan, serta Solisitan Ordo Salib Suci)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *