Aku bersyukur dalam perjalanan panggilan ini, karena aku ditemani oleh Sang Bunda yang setia mendampingiku. Setiap hari aku mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke gua Maria dan bercerita kepadanya segala keluh kesahku. Di bawah patung itu tertulis “Gua Maria Ratu Kebijaksanaan”. Gua ini berada di kompleks Seminari Menengah Wacana Bhakti dan SMA Kolese Gonzaga.
Setelah lulus dari seminari menengah, aku ingin sekali berziarah ke Gua Maria Sendangsono untuk memohon doa restu Bunda Maria bagi perjalanan hidupku selanjutnya sekaligus menenangkan ketakutanku. Pada suatu hari, aku berdoa pada Bunda, “Bunda, aku ingin sekali pergi ke Gua Maria Sendangsono.” Ternyata, kondisi tidak mengizinkanku untuk pergi. Selain tabungan yang tidak cukup, angka kasus COVID-19 yang meningkat juga menghentikan langkahku.
Akhirnya, aku hanya bisa berdoa dari patung Maria yang ada di rumahku. Dengan penuh pengharapan dan berpegang pada penyertaan Tuhan, akhirnya, 25 Juli 2021, kumasuki perjalanan panggilanku sebagai Frater Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Agung Jakarta (TOR-KAJ). Rumah formasio kami bernama Wisma Puruhita yang terletak di Klender, Jakarta Timur.
Perjalanan panggilanku di Wisma Puruhita tidaklah selalu berjalan mulus. Ada saat-saat hati merasa gembira, tetapi ada juga saat-saat kering. Dalam berbagai kondisi hati, di dalam lubuk hati ini kusimpan sebuah nazar. Jikalau aku diizinkan lanjut, maka aku mau pergi berziarah ke Sendangsono sebagai pengganti perjalananku yang gagal di tahun lalu. Syukur pada Allah, dalam retret akhir, Pastor memberi izin kepadaku untuk melanjutkan formasio ini. Mulai dari saat itulah aku mulai semangat untuk mewujudkan harapanku sekaligus membayar nazarku untuk berziarah bersama Sang Bunda.
Ketika pulang dari retret, aku mulai mempersiapkan perjalananku. Dalam sebuah perbincangan bersama ibu dapur, tiba-tiba ia mengatakan bahwa ada temannya yang akan menjemputku di stasiun dan mengantarku ke Sendangsono. Aku kaget sekaligus bersyukur karena ada jalan yang Tuhan berikan agar aku dapat pergi berziarah dengan lancar karena aku tidak tahu apa pun tentang Yogyakarta. Tidak hanya itu, untuk tempat tinggal selama di Yogya, aku juga dibantu oleh ibu dapurku. Aku sangat bersyukur karena berkat doa Sang Bunda, Tuhan berkarya dalam niat baikku melalui ibu dapur itu.
Aku sangat gembira karena perjalanan ini adalah pertama kalinya aku menggunakan kereta api dalam hidupku. Setelah menempuh perjalanan 10 jam dari Jakarta, akhirnya, tibalah aku di hadapan Sang Bunda untuk bersyukur atas rahmat Tuhan yang berlimpah bagiku dan penyertaan Bunda yang tiada henti. Aku bersyukur karena aku menyadari bahwa jalan hidup ini semata-mata hanya karena rahmat Allah dan doa Bunda Maria. Ketakutan-ketakutanku yang terdahulu diubah oleh Tuhan menjadi air mata kegembiraan dan syukur. Selain itu, aku juga memohon doa restu Bunda bagi perjalanan hidupku selanjutnya. Ternyata benar, Tuhan akan mengabulkan doa di saat yang tepat bahkan melebihi apa yang kuharapkan. Akhirnya, aku hanya bisa berterima kasih pada Tuhan atas segala kebaikannya. Semoga kata-kata pemazmur ini melambangkan pujian dari hatiku atas kebesaran-Nya, “Sebab kasih setia-Mu besar atas aku” (Mzm. 86: 13). Ave Maria.
Fr. Marcelino Valerian Nainggolan
Ilustrasi: kevikepandiy.org





