Tuhan Memberiku Kesempatan Menjadi Ibu

Setelah melewati masa-masa pacaran, akhirnya saya dan Yohanes Priadi Wibisono, suami saya,  mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan. Suami saya berprofesi sebagai dosen IT sekaligus entrepreneur, sedangkan saya berprofesi sebagai arsitek.

Ujian pertama dalam pernikahan kami adalah tentang momongan. Pada awal menikah, kami berdua sangat menikmati pekerjaan sehingga sering keluar kota. Mungkin, itulah yang menyebabkan kami sulit memiliki momongan.

Setelah setahun menikah, kami memutuskan untuk mengurangi kesibukan dan memulai program kehamilan. Ketika diperiksa, saya mengetahui bahwa ada mioma di rahim saya yang menurut beberapa dokter harus segera dioperasi agar tidak menghalangi pembuahan. Bahkan dikatakan, jika tidak diambil, kecil sekali kemungkinan saya bisa hamil.

 Begitu berat rasanya mendengar diagnosis dokter. Untunglah, suami sungguh sangat tenang dan menguatkan. Berkat ketenangan dan kesabarannya, saya bisa ikut tenang dan optimistis. Berbagai upaya dan doa kami coba lakukan untuk memperoleh buah hati. Namun, masih belum membuahkan hasil.

Baca juga: Cinta dari Lahat, Kecantikan itu Kodrat

Hingga suatu saat, kami liburan ke rumah orang tua saya di Jayapura, Papua. Saat itu, kami dipertemukan dengan seorang pastor yang memiliki talenta indra keenam yang dapat melihat dan memberikan solusi masalah setiap orang. Singkat kata, kami didoakan dan diajarkan untuk berdoa. Dari situ kami tahu bahwa doa yang baik adalah dengan selalu mengucapkan syukur saat berdoa, bukan dengan mengeluh atau memohon. Pastor itu pun berkata bahwa semua yang kita minta sudah disediakan oleh Tuhan, tinggal bagaimana kita “mengambilnya”.

Puji Tuhan, dua bulan setelah pertemuan dengan pastor itu, kami mendapat kabar sukacita. Kerinduan kami akan hadirnya buah hati terjawab. Saya akhirnya mengandung. Bahkan, saya ingat saat pertama kali USG, dokter mengatakan saya beruntung karena saya bisa hamil dengan kondisi mioma yang diameternya cukup besar. Memang, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Puji Tuhan, sekali lagi, anak pertama kami bisa lahir dengan selamat pada 10 Maret 2012. Kami memberi nama Hugo kepada putra sulung kami ini. Ia pun tumbuh sehat sampai sekarang.

Karya Tuhan memang ajaib. Pertolongannya tiba tepat pada waktu-Nya. Saat saya kontrol kesehatan tahun lalu, mioma saya dinyatakan sudah bersih. Puji Tuhan atas segala berkat-Nya. Kami selalu percaya bahwa Tuhan selalu memberikan kebahagiaan bagi mereka yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Kekuatan doa memang sungguh luar biasa.

Inilah doa yang saya dan suami daraskan.

Allah Bapa yang Mahabaik, terima kasih atas segala berkat dan kasih karunia yang telah Kau limpahkan kepada kami sekeluarga.

Bapa, kami juga bersyukur untuk kehidupan dan cinta yang kami rasakan sepanjang hidup kami. Kami juga bersyukur karena Kau anugerahi kami putra yang sehat, baik, dan cerdas. Peliharalah kami, anak-anak-Mu, ya, Bapa, agar dapat berjalan dan berkarya seturut dengan kehendak-Mu.

Kami berdua mohon tuntunan-Mu agar dapat seia sekata dan terus bergandengan tangan untuk merawat dan membesarkan anak yang telah Kau titipkan ini, sehingga kelak putra kami dapat menjadi orang yang sesuai dengan rancangan-Mu. Segalanya kami serahkan demi kemuliaan nama-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan juru selamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Artikel ini telah tayang di Majalah UTUSAN edisi Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed