Menjalin relasi dengan sesama manusia yang berbeda latar belakang adalah realitas hidup yang tidak kita pilih, tetapi menjadi keniscayaan yang harus kita jalani. Selama 21 tahun tinggal di Indonesia, negeri yang kaya akan keberagaman, saya merasa bangga bisa bertumbuh dan belajar di tengah masyarakat yang heterogen.
Tentu saja dalam proses membangun relasi tersebut, komunikasi menjadi aspek mendasar yang tak terelakkan. Dari percakapan ringan hingga diskusi yang mendalam, komunikasi menjadi jembatan utama dalam kehidupan sosial.
Namun, pernahkah kita menyadari bahwa ucapan yang mungkin kita anggap remeh bisa membekas dalam ingatan seseorang seumur hidup? Sementara si penutur barangkali telah melupakannya keesokan hari.
Pengalaman pertama yang sangat membekas dalam ingatan saya terjadi ketika duduk di bangku sekolah menengah atas. Saya memiliki kondisi fisik yang, entah bagaimana, menjadi celah bagi orang lain untuk melontarkan komentar yang menyakitkan.
“Nes, orang jelek juga boleh ikut foto kok,” ujar seorang teman laki-laki ketika saya tidak ikut dalam sesi foto bersama.
Kalimat itu menghantam harga diri saya dan hingga kini, bertahun-tahun setelahnya, saya masih mengingatnya dengan jelas. Ironisnya, orang yang mengucapkannya mungkin bahkan telah lupa siapa saya.
Pengalaman serupa terulang belum lama ini, tetapi dalam konteks yang berbeda. Saya memiliki seorang teman yang berasal dari latar kepercayaan yang berbeda. Kami telah cukup lama menjalin persahabatan, dan saya merasa hubungan kami cukup kuat untuk menerima dan merayakan perbedaan tersebut.
Namun, dalam suatu perdebatan, ia berkata, “Diam ajalah, kafir.” Kalimat itu mengentak saya. Kata “kafir” yang saya pahami saat itu bermakna “orang yang tidak percaya kepada Allah”, sedangkan baginya, istilah itu hanyalah label untuk mereka yang dianggap “bukan bagian dari kelompoknya”.
Kalimat tersebut terasa sangat menyakitkan. Sama seperti sebelumnya, tidak ada permintaan maaf yang saya terima. Ucapan itu terus terngiang, sementara ia barangkali telah melupakannya hanya dalam hitungan hari.
Pengalaman ketiga terjadi tepat setelah saya mengikuti ibadah Jumat Agung, momen yang sangat sakral dalam iman saya. Hari itu, seorang teman berkelakar, “Intermezo, ya. Eh, Tuhanmu mati ya hari ini? Ha ha ha ….”
Sebuah candaan yang dilontarkan tanpa empati pada hari yang bagi saya merupakan perenungan atas pengorbanan terbesar Sang Pencipta. Ucapan itu menyayat hati saya, menorehkan luka yang barangkali tak akan mudah pudar.
Hal menjadi ganjalan di hati saya bukan semata soal intoleransi, melainkan soal ketidakpekaan dalam bertutur. Ucapan yang tidak dipertimbangkan dampaknya bisa menjadi luka mendalam bagi orang lain. Luka yang bisa tersimpan sepanjang hayat.
Kata-kata memiliki kekuatan: membangun, menyembuhkan, atau justru menghancurkan. Maka, alangkah bijaknya jika setiap dari kita mau berhenti sejenak untuk merenungkan apa yang akan diucapkan, dan jika tanpa sengaja menyakiti hati orang lain, sempatkanlah untuk mengingat dan meminta maaf. Sebab, luka karena kata bisa menetap jauh lebih lama daripada luka fisik yang terlihat.














