Usia Mapan Lebih Dapat Kembangkan Hobi dan Mengabdi

Rekoleksi Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD) Paroki St. Yakobus Bantul

News1352 Views

Bantul. Pada era globalisasi sekarang, adanya media sosial rupanya banyak memengaruhi pola pikir seseorang dalam bertindak. Untuk menjaga semangat keimanan dan pendampingan orang dewasa (usia 36-60 tahun) baik secara pribadi maupun keterlibatan dalam kegiatan menggereja, serta agar tetap waras dalam berpikir dan bertindak, maka perlu sekali keimanan dijaga, dibekali, serta dipupuk agar tetap hidup dan bertumbuh seturut ajaran Tuhan.

Oleh karena itu, tim Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD) Paroki St. Yakobus Bantul mengadakan rekoleksi dengan tajuk “Semakin Dewasa dalam Iman, Keluarga, dan Menggereja” dengan narasumber dr. Vista Nurasti Pradanita, Sp.KJ. dan Sr. Agatha M. Untari, RGS pada Minggu, 22 Juni 2025 di aula SMA Putratama Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diikuti perwakilan umat dari masing-masing lingkungan.

Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr mengatakan, acara ini merupakan perpanjangan dari program kerja Tim Pelaksana Bidang Pewartaan dan Evangelisasi untuk membentuk Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) yang mulai tahun ini digalakkan oleh Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Langkah ini dimulai dari Pendampingan Iman Usia Dini (PIUD), Pendampingan Iman Anak (PIA), Pendampingan Iman Remaja (PIR), Pendampingan Iman Orang Muda (PIOM), Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD), dan Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL) sehingga lebih dapat belajar, berbenah, dan berbuah di gereja masing-masing.

Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. Rekoleksi PIOD, program kerja Tim Pelaksana Bidang Pewartaan dan Evangelisasi untuk membentuk Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB).

Selanjutnya, dr. Vista dalam paparan bertema “Menata Hati Meniti Iman” menjabarkan, kebiasaan dalam tahun pertama atau disebut usia dini dalam pernikahan atau kisaran tiga puluhan tahun, seseorang masih pilih-pilih kawan dalam pergaulannya. “Hal itu masih wajar,” tegasnya.

Dalam usia madya atau umur empat puluhan, seseorang sudah dikatakan lebih dewasa sehingga dapat mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan sesuai dengan yang diperbuat. Dia dapat menyeimbangkan antara pekerjaan dengan lingkungan gereja atau masyarakat tempatnya tinggal. Dalam usia tersebut, dia juga dapat bergabung dalam kelompok tertentu sesuai minatnya, misalnya bertugas melayani atau terlibat di gereja.

“Dalam usia ini secara finansial sudah mapan sehingga dapat lebih mengembangkan hobi selain pekerjaan utamanya, juga dapat mengabdikan diri terlibat dalam lingkungan atau komunitas mereka berada,” tambah dr. Vista.

Kemudian, Sr. Agatha yang mengangkat tema “Spiritualitas Orang Dewasa Katolik” menyatakan, seorang dewasa tentu mempunyai tanggung jawab yang besar dalam masyarakat setempat. “Wujudnya bisa melalui talenta yang kita miliki. Berbagi dengan orang lain, juga merasakan kasih Tuhan secara nyata melalui talenta yang kita miliki,” sebutnya.

Sr. Agatha M. Untari, RGS. Doa perlu diopeni (dirawat) dan dibiasakan dalam keluarga.

Sr. Agatha pun menekankan dalam bentuk pertanyaan, “Apakah kita sempat mengosongkan diri barang sekejap, meluangkan waktu untuk kehadiran Tuhan melalui pekerjaan kita, melalui orang yang kita cintai, melalui hari yang kita lalui, melalui peristiwa yang kita alami?”

Ia pun menyebutkan, doa adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Doa perlu diopeni (dirawat) dan dibiasakan dalam keluarga agar Tuhan hadir dalam keluarga maupun lewat keindahan alam semesta sebagai wujud rumah bersama.

“Melalui tanaman yang ada di sekitar, kita disadarkan untuk mengubah gaya hidup dengan lebih mencintai lingkungan, dengan merawat, sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan. Itulah perwujudan nyata sikap dewasa pada zaman ini,” rangkum Sr. Agatha.

Danan Murdyantoro 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *