Terang Bagi Hati dan Nurani yang Gelap

Jendela511 Views

Rasa-rasanya, kehidupan manusia akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Gejolak-gejolak kehidupan yang sedemikian rupa telah terjadi, menimbulkan duka dan derita. Ancaman kemanusiaan makin lama makin mencuat di permukaan dan terus melebar.

Krisis-krisis kemanusiaan telah terjadi melalui banyak faktor dan dimensi yang saling memengaruhi. Bagaimana tidak? Dunia diliputi dengan kecemasan, kekhawatiran, serta ketakutan kalau-kalau akan terjadi bencana besar sebagaimana pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

Bila beberapa tahun lalu ketakutan itu berasal dari keadaan natural tanpa intervensi yang “berlebihan” dari pihak manusia melainkan secara alami bergerak dan berdampak besar bagi kehidupan, tetapi sekarang rasanya ketakutan itu tumbuh dan lahir dari intervensi dari manusia itu sendiri serta “problem kepentingan” yang tak kunjung terselesaikan sehingga menimbulkan kontroversi yang berujung pada perang, pembunuhan, dan penghilangan nyawa manusia.

Masihkah ada rasa kemanusiaan yang menyertakan seluruh usaha dan perjuangan manusia? Di mana hati dan nurani yang selalu menjadi wadah fundamental dalam setiap keputusan dan kebijakan yang diambil?

Menjadi lentera yang menerangi kegelapan bukanlah sebuah usaha yang mudah di tengah gejolak seperti ini. Sering terjadi lentera itu dipadamkan secara paksa bahkan dimusnahkan. Sebab, kegelapan adalah tempat yang aman untuk “mengeksekusikan” kepentingan-kepentingan tertentu.

Terang sering kali terhambat oleh tembok-tembok penghalang yang sengaja dibangun supaya intervensi-intervensi dari luar tidak memengaruhi usaha-usaha tersebut. Menjadi secercah sinar yang bahkan tidak dipedulikan oleh orang yang pada saat ini menuntut keberanian, pengorbanan, dan kesiapan diri untuk menjadi saksi iman yang sejati.

Secercah sinar dan terang itu tampak dalam ketidaktakutan melantang suara untuk menyerukan kebenaran, tekad yang kuat untuk tetap berdiri menghadapi badai topan yang menerjang. Ketahanan terhadap penolakan-penolakan dari pihak tertentu yang bila tidak diindahkan, nyawa adalah taruhannya.

Mungkinkah saatnya kemartiran ditunjukkan di hadapan dunia modern saat ini? Kesaksian iman yang menguatkan hingga mati menjadi tamparan bagi dunia yang makin kehilangan jati dirinya. Kita tidak dapat lagi memadamkan lampu. Biarkanlah di hadapan dunia, terang itu bersinar dan dunia itu sendiri yang memadamkannya.

Sejenak melihat keadaan

Mari kita memperhatikan sedikit keadaan yang terjadi di sekitar kita. Dalam konteks wilayah nasional, kita melihat cukup banyak persoalan dan problematika sekarang ini yang sangat memprihatinkan serta membutuhkan respons dan penanganan yang cepat karena telah menyebabkan bencana.

Di lingkup pemerintah, praktik korupsi yang makin menjadi-jadi tanpa henti, penegakan hukum dan undang-undang yang sering kali menimbulkan reaksi yang tidak baik dari warga sipil, penangan masalah dan administrasi untuk urusan kenegaraan yang tak kunjung mulus dan lancar justru ribet dan berantakan, izin pembangunan dan pertambangan yang tampak tidak adil dan ramah lingkungan sering kali lebih sering terjadi kerusakan ekologi.

Konten-konten media sosial, yang justru gencar mengkritik dan mengomentari kinerja pemerintah dan aparat penegak hukum dan penyalur aspirasi masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tidak tepat sasaran dan hanya menguntungkan sebelah pihak dan bukan rakyat. Penanganan-penanganan masalah sosial dan politik yang sering kali menjadi sumber permasalahan dalam masyarakat.

Dalam kehidupan beragama, sering kali terjadi sikap intoleran terhadap keyakinan dan agama tertentu. Keputusan-keputusan yang sering kali diambil kadang-kadang tidak memuaskan masyarakat.

Mari kita beranjak ke dunia yang lebih luas di dunia internasional. Gejolak-gejolak politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi di berbagai belahan negara di dunia ini membuat situasi masih kurang harmonis.

Lihatlah keadaan yang terjadi dalam dunia internasional saat ini. Kebutuhan akan kepentingan tertentu makin meningkat tetapi tidak didukung oleh kelompok-kelompok lain menjadi sumber dan dasar perkelahian di antara kedua belah pihak.

Perang telah terjadi di mana-mana. Perang tidak hanya tentang mengangkat rudal dan senjata untuk saling menyerang. Perang juga terjadi ketika salah satu sekutu membuat oposisi untuk bertahan mencapai kepentingannya sehingga yang lain menjadi rugi.

Perang-perang seperti ini telah banyak terjadi dan sudah berjalan cukup lama. Dalam dunia ekonomi dunia, investasi-investasi sering menimbulkan kerugian, kerja sama yang tidak saling menguntungkan serta problem kepentingan yang sangat kuat sehingga tidak memperhatikan kepentingan semua pihak.

Akhir-akhir ini, perang mengangkat senjata telah ditayangkan di hadapan dunia. Dua kubu negara yang saling menyerang telah memperlihatkan betapa besarnya kepentingan yang ingin dicapai oleh masing-masing kubu sehingga tidak ada diantara kedua kubu yang mengalah. Keduanya saling menyerang. Tetapi persoalan tidak sampai pada kedua kubu yang saling menyerang, melainkan juga sekutu-sekutu yang berada di belakang masing-masing kubu.

Kepentingan kelompok yang dibangun atas kerja sama menjadi salah satu faktor yang menyebabkan melebarnya persoalan sekarang ini. Terlibatnya banyak pihak dari oposisi tertentu menimbulkan perang besar akan terjadi. Mungkinkah seorang sahabat sejati menyaksikan penderitaan sahabat yang dilukai oleh orang lain tanpa ada pembalasan, setidaknya pembelaan.

Akan tetapi dalam konteks ini, profit dan keuntungan yang besar dari sebuah persekutuan adalah titik dasar pembelaan terhadap kelompoknya. Pengaruh besar yang diberikan oleh salah satu anggota terhadap dirinya mendorong kelompok tersebut berjuang untuk membela bahkan melakukan perlawanan pembalasan terhadap orang yang menganiayanya. Alur-alur kepentingan inilah yang akhirnya menyebabkan persoalan tak kunjung usai dan terus berlanjut sehingga menyebabkan persoalan bagi semua orang.

Menjadi terang, panggilan untuk semua orang

Mungkinkan hati dan nurani menjadi gelap? Bukankah keduanya adalah unsur segala hal yang baik dapat terjadi dan lahir? Dalam kekristenan, hati manusia adalah Bait Allah, tempat Allah hadir bagi setiap pribadi manusia. Namun, mungkinkan Allah bersemayam dalam hati manusia yang selalu berkehendak untuk melakukan yang “jahat” dan tak benar dihadapan-Nya?

Menjadi terang di antara gelapnya kehidupan adalah sebuah kesaksian yang sangat luar biasa. Setiap orang diharapkan dapat menjadi lentera yang siap menuntun dan mengarahkan orang lain pada jalan yang benar. Panggilan Kristiani adalah panggilan menjadi terang bagi semua orang. Akan tetapi, dalam keadaan yang demikian, menjadi terang bukan hal yang mudah. Kemartiran dan semangat pengorbanan adalah tuntutan besar yang harus dimiliki oleh siapa pun yang mau bersaksi.

Dengan keadaan dan situasi dunia yang makin mencekam, cinta akan solidaritas yang makin menurun, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah yang makin menurun, konflik dan peperangan yang sudah mencuat di permukaan, bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Usaha setiap pribadi rasanya akan sia-sia. Maka, menjadi terang adalah panggilan untuk semua orang. Kesadaran semua pihak yang mengharapkan akan kedamaian, kesejahteraan sangat perlu untuk memutus rantai konflik dan perpecahan yang sedang terjadi.

Semangat pengorbanan dan keberanian adalah salah satu usaha menjadi terang di tengah kegelapan hati dan nurani yang dibungkam oleh kepentingan dan keuntungan sepihak.

Berkorban dapat dilakukan dengan tidak menjadi provokasi terhadap berita-berita hoax yang beredar. Mungkin saja kita mendapat informasi yang sebenarnya, akan tetapi kita tidak menjadikan itu sebagai usaha untuk memopulerkan diri.

Keberanian dapat ditunjukkan dengan sikap tegas dan terus terang bahwa yang bersalah tetap salah dan yang mengatakan kebenaran adalah orang yang benar. Bukan sebaliknya, hanya dengan alasan ada keuntungan yang kita dapatkan sehingga menghalalkan segala cara dengan membalikan fakta.

Kita menyaksikan beragama kisah dan kejadian yang tidak menyenangkan di dunia sekarang itu. Peristiwa-peristiwa itu tampaknya telah menghantui dan menakutkan banyak orang, karena nyawa dan keberlanjutan kehidupan adalah taruhannya.

Menjadi terang berarti hadir sebagai pribadi yang menolak kekerasan dan perpecahan dan membela kebenaran, tidak menjadi agen provokator yang menyebarkan hoax atau berita bohong.

Terang sesungguhnya adalah terang yang menerangi hati dan nurani supaya terbebas dari sikap menutup diri demi kepentingan sepihak.

Bonefasius Guntur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *