Tak Mungkin Cintai Agama Lain Tanpa Paham Sejarah

Tri Panca Warsa PT Pohon Cahaya

News1675 Views

Yogyakarta. Keluarga besar PT Pohon Cahaya merayakan Tri Panca Warsa atau ulang tahun ke-15 pada Senin, 6 Mei 2024 di kompleks perusahaan, Jl. Bantul No. 55-57 Yogyakarta.

Dengan mengusung tema “Melangkah Bersama Wujudkan Impian”, perayaan diawali dengan Misa Syukur yang dipersembahkan Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr (Vikaris Episkopalis Yogyakarta Barat), Rm. Antonius Invarien Alpha Andriyanto, Pr (Vikaris Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran), Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr (Pastor Kepala Paroki St. Yakobus Bantul), Rm. Martinus Joko Lelono, Pr (staf pengajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta).

“PT Pohon Cahaya yang hari ini genap 15 tahun melaksanakan kerasulan untuk mengembangkan iman umat. Kita bersyukur, di dalam Gereja kita ada begitu banyak khazanah, warna-warna kerasulan dan pewartaan. Bagi masyarakat pada umumnya, melalui buku orang diajak untuk membuka lebih luas dunia yang ada di sekitarnya,” buka Rm. Suwondo.

Dari kiri ke kanan: Rm. Merdi, Rm. Suwondo, Rm. Joko, dan Rm. Andri.

Selanjutnya, General Manager PT Pohon Cahaya, Yuvensius Sasongko Iswandaru, mengungkapkan rasa syukur atas berkat Tuhan yang menyertai PT Pohon Cahaya selama 15 tahun dengan berbagai dengan berbagai macam pergulatan, termasuk pada masa pandemi COVID-19, Pilkada, serta Pilpres.

“PT Pohon Cahaya didirikan medio 2008, ketika terjadi krisis sehingga ribuan perusahaan gulung tikar. Saat itu saya masih bekerja di sebuah percetakan yang cukup besar di Yogyakarta dan boleh dikatakan sudah mapan. Namun, ketika melihat pergumulan dari perusahaan lain, kemudian banyak yang di-PHK, kami tergerak untuk mendirikan sebuah usaha atau bisnis baru yang bisa melayani banyak orang dan membuka lapangan pekerjaan,” kisah Sasongko.

Usai Misa Syukur dilaksanakan Bedah Buku “Jalan Perdamaian” dan Obrolan Kebangsaan “Merajut Perdamaian”. Menurut Sasongko, Buku “Jalan Perdamaian” karya Rm. Martinus Joko Lelono, Pr dipersembahkan untuk kerukunan umat beragama. Selain Rm. Joko, bedah buku menghadirkan Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M (Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta/UAJY) dan Aan Anshori (Koordinator Jaringan Islam Anti-Diskriminasi/JIAD).

Yuvensius Sasongko Iswandaru. Tergerak mendirikan bisnis baru yang bisa melayani banyak orang.

Setelah menerima buku “Jalan Perdamaian”, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI DIY) Wawan Arif Rahman menyatakan, tidak banyak penerbit yang melibatkan banyak pekerja. PT Pohon Cahaya adalah salah satu yang tidak banyak itu, termasuk menjadi penyintas dalam berbagai tantangan.

“Ke depan, tantangan masih banyak lagi, misalnya tiba-tiba berhadapan dengan dunia digital. Dulu, buku fisik ada bajakannya. Sekarang kita kenal buku elektronik, pembajakan tidak berhenti. Di media sosial ada tawaran paket buku elektronik, sekian ratus ribu rupiah sudah dapat ratusan bahkan ribuan judul buku. Itu ilegal!” tegas Wawan sembari menambahkan bahwa itulah alasan banyak penerbit masih gamang merilis e-book.

Wawan Arif Rahman. Prihatin, pembajakan buku tidak berhenti.

Dalam sesi bedah buku, Rm. Joko mengungkapkan, buku yang ditulisnya lahir dari keinginan untuk mengingatkan khalayak tentang membangun jembatan persaudaraan.  

Gereja Katolik sejak zaman Perang Salib dalam hal tertentu berseberangan dengan kaum Muslim.  Namun, Gereja Katolik punya tokoh persaudaraan, St. Fransiskus Asisi yang berani ke markas Sultan Malik al-Kamil.

“Berarti St. Fransiskus Asisi berani mati. Tapi, dalam keadaan masih ada permuhan, Sultan Malik al-Kamil juga menyadari orang yang ia temui rupanya bukan musuh. Imajinasi tentang musuh itu tidak muncul, yang muncul, ‘Kamu saudaraku, aku saudaramu. Mungkin cara kita menyembah Tuhan berbeda, tapi faktanya kita sama-sama manusia yang menuju pada Tuhan,’” terang Rm. Joko.

Menurut Rm. Joko, agama memang lahir dalam perbedaannya. Maka, satu-satunya jalan untuk hidup bersama antaragama adalah membuka pintu persaudaraan. Jika tidak, perkara kecil yang dipermasalahkan bisa menjadi alasan permusuhan.

Menanggapi kisah perjumpaan St. Fransiskus Asisi dan Sultan Malik al-Kamil, Nurhartanto menyebutnya sebagai awal mula terjadinya dialog. “Merajut persaudaraan tidak gampang, harus terus dijaga, dibina, disapa yang kemudian tumbuh benih-benih saling memahami dan akhirnya terjadi upaya-upaya perdamaian,” paparnya.

Selanjutnya, Aan Anshori menambahkan ulasan Nurhartanto bahwa Rm. Joko  dengan sangat luar biasa mencoba mengakui “dosa” dari Katolik, terutama dalam relasi dengan Islam. “Biasanya, orang kalau beragama tidak dewasa akan denial, tidak mau mengakui kalau dirinya salah. Katolik dan Islam ‘kan sama-sama punya sejarah kelam,” tutur Aan.  

Bagi pria yang akrab disapa Gus Aan ini, buku “Jalan Perdamaian” menyatakan bahwa tidak mungkin bisa mencintai agama lain bila tidak mengerti sejarah. “Buku ini benar-benar memberikan satu pledoi bahwa yang dilakukan oleh teman-teman Katolik itu juga tidak main-main. Ini yang menurut saya menjadi hal yang sangat menarik, yang perlu dibaca dalam konteks kekinian, termasuk pertemuan Sultan Malik al-Kamil dan St. Fransiskus Asisi,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *