Sowan Ibu, Langkah Sembah Saking Manah

Mlampah Rohani OMK Santo Petrus Warak Menuju Sendangsono

News824 Views

Sleman. Pukul setengah sembilan malam (20.30 WIB), ratusan kaki mulai meninggalkan halaman belakang Gereja Santo Petrus Warak. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada aba-aba dramatis. Hanya langkah demi langkah yang pelan-pelan menghilang ke dalam malam, ke arah Kulon Progo, ke arah Sendangsono — dan barangkali, ke arah sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tempat tujuan .

Mlampah Rohani OMK Santo Petrus Warak yang berlangsung pada 26–27 Mei 2026 tahun ini bukan sekadar agenda rutin tahunan yang kembali diadakan. Di balik langkah panjang menuju Sendangsono, ada semangat baru yang lahir: keterbukaan dan kebersamaan. Mengangkat tema “Sowan Ibu, Langkah Sembah Saking Manah,” kegiatan ini membawa suasana yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya mlampah rohani lebih banyak diikuti oleh Orang Muda Katolik, tahun ini perjalanan dibuka bagi seluruh umat tanpa memandang usia maupun asal lingkungan. Dari situlah perjalanan ini menjadi lebih hidup. Kurang lebih 230 peserta ikut ambil bagian, terdiri dari panitia dan umat dari berbagai.

Yang menarik, perjalanan ini tidak hanya dipenuhi langkah anak-anak muda. Anak-anak PIA yang baru berusia sekitar sepuluh tahun berjalan berdampingan dengan para lansia yang usianya telah melewati tujuh puluh tahun. Di jalan yang sama, dalam dinginnya malam yang sama, semua berjalan dengan ritme dan doa masing-masing.

Pemandangan itu menghadirkan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan angka maupun dokumentasi. Ada anak kecil yang masih penuh tenaga berjalan sambil bercanda, ada orang muda yang berjalan sambil membawa intensi hidupnya, ada pula para lansia yang melangkah perlahan dengan napas yang mulai berat namun tetap bertahan. Perbedaan usia dan latar belakang seakan melebur menjadi satu perjalanan bersama menuju Sendangsono.

Di situlah mlampah rohani ini terasa lebih dari sekadar perjalanan fisik. Jalan malam dari Warak menuju Sendangsono perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan — antara generasi, antara pengalaman hidup, dan antara manusia dengan dirinya sendiri.

Ziarah Bukan Sekadar Berjalan
Suasana dalam langkah peziarahan

Dalam tradisi Katolik, ziarah bukan sekadar wisata religius atau latihan fisik. Ia adalah metafora yang paling jujur tentang kondisi manusia: bahwa kita semua sedang dalam perjalanan, bahwa kaki kita tidak pernah benar-benar berhenti, dan bahwa tujuan akhir yang kita tuju selalu melampaui apa yang bisa ditunjuk di peta. Itulah yang tampaknya ingin ditegaskan oleh Hilerion Ava Listyaji, ketika ia menjelaskan bahwa tema tahun ini dirancang untuk memaknai mlampah bukan hanya sebagai aktivitas berjalan, melainkan sebagai bentuk pilgrimage — perjalanan suci yang bergerak bukan hanya di permukaan tanah, tetapi di kedalaman batin.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Selasa, 26 Mei 2026, melalui Perayaan Misa Novena yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Bulan Syukur Pesta Nama Paroki Santo Petrus Warak sekaligus pembukaan resmi kegiatan mlampah rohani. Misa dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Yohanes Yunuar Ismadi, Pr.

Dalam homilinya, Romo Yohanes Yunuar Ismadi secara khusus berpesan kepada OMK dan seluruh peserta mengenai bagaimana manusia mencintai Tuhan dan menemukan Tuhan dalam perjalanan hidup. Ia mengajak para peziarah untuk menjadikan mlampah rohani ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebagai bentuk doa dan refleksi batin.

Doa paling tulus sering kali adalah doa yang paling sederhana. Bahwa setiap orang yang pergi itu akan kembali utuh — tidak hanya secara fisik, tetapi secara batin.

Misa Novena sekaligus misa pembukaan Mlampah di Gereja Santo Petrus Warak
Malam Takbir dan Jalan yang Sama

Ada sesuatu yang tidak direncanakan, namun terasa seperti hadiah, dalam perjalanan tahun ini. Ketika rombongan peziarah melintas di wilayah Sumberadi, Mlati, mereka berpapasan dengan kelompok masyarakat yang tengah mengikuti lomba takbir keliling dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha. Gema takbir memenuhi udara malam, berbaur dengan suara langkah kaki dan bising kendaraan yang sesekali lewat.

Di titik itu, jalan bukan lagi milik satu keyakinan saja. Ia menjadi milik semua orang yang sedang bergerak menuju Yang Ilahi — dengan cara dan nama yang berbeda-beda. Tim keamanan Banser dan Tim PKG Santo Petrus Warak bergerak bersama, saling membantu mengamankan arak-arakan takbir sekaligus perjalanan para peziarah. Tidak ada gesekan. Tidak ada ketegangan. Hanya kesadaran bahwa malam itu, di jalan yang sama, dua kelompok manusia sedang menjalankan kerinduan imannya masing-masing.

Momen itu menjadi pengingat bahwa perjalanan rohani tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa. Ia selalu berada di tengah dunia yang ramai, majemuk, dan penuh suara. Dan justru di sanalah kedalaman iman diuji — bukan di dalam kapel yang hening, melainkan di pinggir jalan raya yang dipenuhi gema takbir dan sorot lampu kendaraan.

Langkah-Langkah yang Menjadi Kesaksian

Ziarah selalu menghasilkan kesaksian. Dan kesaksian yang paling kuat sering kali bukan yang paling spektakuler, melainkan yang paling jujur.

Semangat para peserta menjadi wajah tersendiri dalam perjalanan ziarah ini. Namun di antara langkah-langkah panjang malam itu, ada satu pemandangan sederhana yang diam-diam menyentuh banyak hati: perjuangan peserta tertua, Ibu Sumarah yang berusia 72 tahun bersama Bapak Slamet Riyadi dari Lingkungan Santo Yosep.

Di tengah malam yang gelap, ketika sebagian orang mungkin memilih beristirahat di rumah yang hangat, keduanya justru berjalan perlahan dari wilayah Kalibawang menuju Sendangsono. Tidak ada sorot lampu besar. Tidak ada kemewahan perjalanan. Hanya cahaya kecil dari senter sederhana yang menemani langkah mereka di jalan yang minim penerangan. Kadang langkah mereka tertinggal di belakang rombongan, kadang napas harus diatur lebih pelan, namun keduanya tetap berjalan.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat orang-orang lanjut usia masih mau menempuh perjalanan sejauh itu demi sebuah ziarah. Dunia modern sering mengukur manusia dari kecepatan, tenaga, dan produktivitas. Tetapi malam itu, Ibu Sumarah dan Bapak Slamet seperti menghadirkan pelajaran lain: bahwa iman tidak selalu bergerak cepat, namun ia bertahan. Ia terus melangkah.

Dalam gelapnya jalan menuju Sendangsono, senter kecil yang mereka bawa terasa seperti simbol yang begitu manusiawi. Cahaya itu tidak mampu menerangi seluruh jalan sekaligus. Ia hanya cukup untuk menunjukkan beberapa langkah di depan. Namun justru di situlah barangkali kehidupan rohani bekerja. Manusia tidak selalu diberi terang untuk melihat seluruh masa depan. Kadang Tuhan hanya memberi cukup cahaya untuk melangkah hari ini, lalu melangkah lagi esok hari.

Perjalanan mereka juga menjadi semacam refleksi tentang usia dan ketekunan. Tubuh memang menua, tenaga berkurang, lutut mulai mudah lelah, tetapi ada bagian dalam diri manusia yang bisa tetap hidup: kehendak untuk datang, berjumpa, dan berdoa. Di usia yang tidak lagi muda, keduanya masih rela berjalan dalam dingin malam. Bukan demi prestise, bukan demi pengakuan, melainkan karena ada kerinduan batin yang tidak bisa digantikan oleh kenyamanan.

Mungkin inilah wajah iman yang paling sunyi sekaligus paling kuat. Ia tidak selalu hadir dalam kata-kata besar atau khotbah yang megah. Kadang iman justru tampak dalam langkah pelan seorang nenek di jalan gelap, dalam napas yang mulai berat namun tetap bertahan, atau dalam kesediaan seseorang untuk terus berjalan meski tubuh tidak lagi sekuat dulu.

Di zaman yang serba cepat, perjalanan Ibu Sumarah dan Bapak Slamet mengingatkan bahwa hidup rohani bukan perlombaan siapa paling cepat sampai, melainkan kesediaan untuk tetap berjalan. Sebab pada akhirnya, banyak orang mungkin mampu berlari ketika hidup terasa mudah, tetapi tidak semua mampu tetap melangkah ketika malam mulai gelap dan tubuh mulai lemah.

Dan mungkin, di situlah ziarah menemukan maknanya yang paling dalam: manusia berjalan bukan karena jalannya selalu terang, melainkan karena percaya bahwa di ujung perjalanan ada kasih yang menanti.

Gregorius Decky Krishartedi membawa cerita tentang keraguan yang perlahan meleleh di tengah perjalanan. Sebelum berangkat, ia mengaku tidak benar-benar yakin mampu menyelesaikan perjalanan. Tubuh dan pikirannya dipenuhi pertanyaan: “Apa aku kuat sampai akhir?” Tetapi malam rupanya bekerja dengan caranya sendiri. Ketika ia memasuki jalur Kalibawang yang gelap dan sunyi, berjalan seorang diri di kelompok terakhir, sesuatu dalam dirinya berubah. Jalan yang semula terasa menakutkan justru menjadi ruang hening yang mempertemukannya dengan pengalaman yang sulit dijelaskan secara logis.

“Iki kaya dudu aku,” katanya setibanya di Sendangsono.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pengalaman batin yang dalam. Ada momen-momen tertentu dalam hidup ketika manusia merasa dirinya ditopang oleh sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan dirinya sendiri. Dalam psikologi pengalaman religius, keadaan seperti ini sering muncul ketika seseorang melewati batas ketakutan dan kelelahan. Tubuh memang tetap berjalan, tetapi kesadaran tentang “aku” terasa bergeser. Rasa sakit yang sebelumnya begitu dikhawatirkan hampir tidak terasa. Yang tersisa hanyalah keberanian yang seolah datang dari luar dirinya.

Di sisi lain, Heronimus Delfrianto Westpa Gagah memilih keputusan yang terdengar nyaris gegabah: ia berjalan tanpa senter di jalur yang gelap. Namun justru di situlah perjalanan rohaninya berbicara. Dalam dunia yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu dengan kepastian dan cahaya, berjalan tanpa senter menjadi semacam tindakan simbolik — sebuah penyerahan diri. Ada kalanya manusia memang tidak bisa melihat seluruh jalan hidupnya dengan jelas. Ada tikungan yang gelap, ada masa depan yang kabur, ada pertanyaan yang tidak segera mendapat jawaban.

Tetapi manusia tetap melangkah.

Bukan karena semuanya terang, melainkan karena percaya bahwa hidup tidak hanya dipimpin oleh apa yang terlihat mata. Dalam tradisi spiritualitas, pengalaman seperti ini sering dipahami sebagai latihan kepercayaan: bahwa manusia kadang harus rela berjalan dalam keterbatasan penglihatannya agar ia belajar mendengarkan arah yang lebih dalam daripada sekadar insting takutnya sendiri. Dan malam itu, Heronimus tiba di Sendangsono dalam gelap — namun tiba dengan selamat.

Lalu ada Ibu Wiwik — Melania Rudilistyo Hartiwi — yang perjuangannya bahkan dimulai jauh sebelum keberangkatan. Anak-anaknya sempat melarangnya ikut karena kondisi kesehatan. Kekhawatiran itu masuk akal. Tubuh manusia memiliki batas, dan usia membuat batas itu semakin nyata. Namun Ibu Wiwik tidak melawan dengan kemarahan atau keras kepala. Ia menjawab keraguan itu dengan latihan kecil yang dilakukan setiap hari. Ia berjalan mengelilingi wilayah Plaosan dan Bolawen, membangun ketahanan tubuh perlahan-lahan, satu langkah demi satu langkah.

Ada sesuatu yang indah dari perjuangan seperti ini: ia tidak heroik secara dramatis, tetapi justru sangat manusiawi. Ketahanan tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk oleh pengulangan kecil yang sering kali tidak dilihat siapa pun. Ketika akhirnya Ibu Wiwik tiba di Sendangsono dengan wajah berseri, keberhasilannya bukan hanya soal fisik yang mampu bertahan. Itu adalah kemenangan batin: keberanian untuk tidak membiarkan rasa takut — baik ketakutan tubuh maupun kekhawatiran orang-orang terdekat — menjadi kata terakhir atas hidupnya.

Dan di antara semua kisah itu, Bernardinus Realino Ardi Kurniawan membawa cerita tentang kegagalan yang akhirnya dipeluk kembali. Tahun lalu ia gagal mencapai garis akhir. Ada jarak antara niat dan kenyataan yang belum berhasil ia tuntaskan. Banyak orang mungkin berhenti setelah pengalaman gagal seperti itu. Sebab kegagalan sering meninggalkan rasa malu yang diam-diam menggerogoti keberanian untuk mencoba lagi.

Namun tahun ini ia kembali berjalan.

Ketika akhirnya tiba di depan Patung Bunda Maria di Sendangsono, ia langsung berlutut dan memanjatkan doa syukur. Air mata yang jatuh malam itu bukan hanya karena rasa lelah. Air mata itu adalah akumulasi dari perjalanan panjang yang tidak terlihat: rasa kecewa, harapan yang disimpan diam-diam, pergulatan hidup yang dibawa dari rumah, serta doa-doa yang mungkin tidak pernah sempat ia ceritakan kepada siapa pun.

Kadang manusia menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang akhirnya sampai.

Dan mungkin, di situlah Sendangsono menjadi lebih dari sekadar tujuan perjalanan. Ia berubah menjadi ruang tempat manusia membawa dirinya yang rapuh, lelah, ragu, gagal, namun tetap mau berjalan. Sebab di dalam setiap ziarah, yang sesungguhnya sedang ditempuh bukan hanya jarak antarwilayah, melainkan juga jarak antara ketakutan manusia dan keberanian untuk tetap percaya.

Sendangsono: Tempat Manusia Belajar Bersyukur
Misa Pagi sekaligus misa penutup peziarahan dipimpin oleh Rm.Benedictus Aditya Relliantoko, Pr

Rabu pagi, 27 Mei 2026, Perayaan Ekaristi penutup dipimpin oleh Romo Benedictus Aditya Relliantoko, Pr. Dalam homilinya, ia mengambil refleksi dari film The Way — sebuah kisah tentang seorang ayah yang menyelesaikan perjalanan ziarah Camino de Santiago atas nama putranya yang meninggal di tengah jalan. Sebuah cerita tentang kehilangan, tentang makna yang tersembunyi di balik langkah kaki, tentang betapa ziarah mengubah orang yang menjalaninya tanpa ia sadari.

Romo Adit mengajak seluruh peserta untuk tidak lupa menghadirkan rasa syukur. Sebab, katanya, manusia kerap datang kepada Tuhan dengan membawa begitu banyak permintaan dan kegelisahan, namun lupa untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa dirinya sudah dituntun melewati begitu banyak hal. Syukur bukan tanda bahwa semua baik-baik saja. Syukur adalah tanda bahwa kita sadar bahwa kita tidak berjalan sendiri.

Sendangsono sendiri adalah tempat yang sudah lama menjadi titik tuju kerinduan umat Katolik di Jawa. Di sanalah, di tepi kali yang mengalir tenang, di bawah rindang pohon dan langit yang mulai merah oleh fajar, manusia menemukan semacam rumah. Bukan rumah dari batu dan kayu, melainkan rumah dari keheningan dan kehadiran.

Langkah Sembah yang Melampaui Usia dan Batas

Yang membuat mlampah rohani tahun ini terasa istimewa bukan hanya soal jumlah peserta atau jarak tempuh. Melainkan soal keragaman yang hadir dalam satu barisan. Anak-anak PIA berusia sepuluh tahun berjalan beriringan dengan lansia berusia tujuh puluhan. Peserta dari Paroki Kumetiran, Banteng, Medari, Stasi Bedog, Paroki Bonoharjo hingga umat dari Temanggung, menapaki jalan yang sama. Tim kesehatan Belarasa dari Kevikepan Jogja Barat hadir bukan hanya untuk mengobati lecet dan kelelahan, tetapi juga untuk mengedukasi — sebuah bentuk kehadiran yang penuh kasih.

Di pos-pos pemberhentian sepanjang perjalanan, yang tersedia bukan hanya air minum dan plester. Yang tersedia adalah pertemuan. Percakapan pendek di antara orang-orang yang saling tidak kenal, yang disatukan oleh satu hal: kaki yang lelah dan hati yang sedang mencari.

Selepas Pos 4 di kawasan Jembatan Ancol Bligo, beberapa peserta memutuskan untuk berhenti dan diantar kendaraan menuju Sendangsono. Ini bukan kekalahan. Ini adalah kearifan — pengenalan akan batas diri, yang merupakan bagian dari kedewasaan iman. Ziarah tidak menuntut heroisme yang memaksakan diri. Ia justru mengajak manusia untuk jujur tentang siapa dirinya.

Pulang sebagai Peziarah

Pukul sebelas siang, para peziarah mulai meninggalkan Sendangsono. Tubuh mereka lelah. Kaki banyak yang melepuh. Beberapa tertidur begitu naik ke kendaraan. Tetapi ada sesuatu yang terbawa pulang, yang tidak ada dalam tas atau kantong mereka ketika berangkat malam sebelumnya.

Setiap orang membawa ceritanya sendiri. Tentang kaki yang hampir menyerah di tanjakan terakhir. Tentang momen hening di jalur Kalibawang yang gelap, ketika satu-satunya suara yang terdengar adalah napas sendiri dan desir angin malam. Tentang wajah Ibu Sumarah yang tersenyum sampai di garis akhir meski usianya sudah tujuh puluh dua. Tentang air mata Ardi di depan patung Bunda Maria.

Semua cerita itu, pada akhirnya, adalah satu cerita yang sama: tentang manusia yang datang kepada Tuhan bukan dengan kesempurnaan, melainkan dengan kelelahan, keraguan, dan kerinduan. Dan Tuhan — seperti seorang ibu yang dituju — tidak pernah menolak tamu yang datang dengan susah payah.

Sebab begitulah arti “sowan” dalam bahasa Jawa: bukan sekadar berkunjung. Ia adalah tindakan merendahkan hati, mendekatkan diri, hadir dengan sepenuh hati. Dan “sembah saking manah” — penghormatan yang lahir dari hati — bukan diukur dari seberapa jauh kaki mampu berjalan, melainkan dari seberapa tulus jiwa itu datang.

Di setiap langkah menuju Sendangsono, para peziarah itu sesungguhnya juga sedang belajar pulang — pulang kepada Tuhan, dengan hati yang sembah, dengan langkah yang jujur.

Hans Salvatore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *