Siswa SD Kanisius Kenalan Jalan Salib di Perbukitan Menoreh, Berdoa untuk Bumi dan Penghentian Perang Timur Tengah.

News1097 Views

MAGELANG-Puluhan anak-anak SD Kanisius Kenalan di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pagi itu penuh semangat naik dan turun perbukitan Menoreh. Sebuah salib dipanggul oleh seorang siswa dan berapa kali bergantian. Gunungan hasil bumi, bakul berisi sayuran dan hasil bumi pun turut dibawa serta dalam kegiatan ini.

Pukul 08.15 menit Jalan Salib mengenang wafat dan kebangkitan Yesus Kristus mereka laksanakan bersama para guru Senin, 30 Maret 2026.  Tanpa keluhan dan berteman semangat siswa-siswi sekolah di bawah naungan Yayasan Kanisius ini penuh kegembiraan melaksankan Jalan Salib Pemerdekaan ini.

Siswa-siswi SD Kanisius Kenalan, Borobudur, Magelang pada sebuah perhentian dalam jalan salib diperbukitan Menoreh, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Jalan salib dengan empat belas perhentian ini dipungkasi pada perhentian keempat belas di bukit Watu Putih. Dari tempat ini pun disuguhkan pemandangan yang luas dengan kehijauan tetumbuhan dan pepohonan tanaman yang menghidupi warganya.

Menapaki jalanan pedesaan yang menaik dan menurun dalam empat belas perhentian seperti Kristus yang mengalaminya, siswa-siswi diajak untuk turut merasakannya dalam kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus.

Siswa-siswi SD Kanisius Kenalan, Borobudur, Magelang melaksanakan jalan salib diperbukitan Menoreh, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Dalam setiap perhentian ini terpasang foto perhentian pertama hingga terakhir di pohon, diranting, atau disebuah bak penampungan air. Disetiap perhentian mereka diajak untuk menghayati sengsara Yesus. Mereka juga diajak untuk mengkonstektualkan dengan kehidupan sehari-hari dan pengalaman hidup mereka serta keadaan dunia kini. Sejenak mereka berdoa dan merenungkan di hadapan foto Yesus. Mereka memanjatkan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi sesama dan alam semesta.

SIswa-siswi SD Kenalan pada Jalan Salib di perhentian di sebuah bak tampung air bersih dan berdoa untuk kelestarian air untuk hidup diperbukitan Menoreh, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Yosef Onesimus Maryono, Kepala SD Kanisius Kenalan merefleksikan, kegiatan bertajuk Jalan Salib Pemerdekaan ini adalah simbol kepedulian terhadap bumi yang kian terbebani. Gunungan hasil bumi menjadi pengingat akan kasih Tuhan melalui kesuburan tanah. Melalui aksi ini, pihak sekolah berharap para siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi tumbuh dan memiliki kepekaan ekologis untuk menjaga kelestarian lingkungan di masa depan.

“Terhadap Air, tanah, terlebih pangan, saat ini kita punya tantangan untuk bagaimana ketersediaan pangan. Terlebih untuk kami yang ada di pedesaan. Kegiatan ini adalah perjalanan iman sekaligus ajakan untuk menjadi pembela kehidupan. Anak-anak kami ajak untuk berefleksi mensyukuri bersama dalam laku jalan salib di sekitar sekolah ini,” tuturnya.

Seorang siswa tengah memimpin doa pada perhentian jalan salib di perbukitan Menoreh. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Sekolah berpelindung Santo Petrus Kanisius ini ingin mengajak anak-anak berkesadaran bahwa bumi saat ini sedang memikul salibnya sendiri akibat ulah manusia. Sebagai calon pemimpin masa depan, mereka juga disiapkan masa depannya. Mereka didik untuk menyiapkan diri sejak dini untuk bisa hidup dengan penuh kesadaran dan keterampilan.

“Maka kesadaran inilah yang harus dibangun untuk peduli akan sumber hidup di sekitar kita. Dan momentum Paskah ini kami gunakan sebagai bentuk pembelajaran luar ruang untuk membangun kesadaran dan kepedulian,” tambahnya.

Gambar perhentian Jalan Salib ketika Tuhan Yesus terjatuh dalam perjalanan memanggul salib-Nya menuju Bukti Golgota. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Doa dan kepedulian pun dipanjatkan pada perhentian terakhir Yesus Kristus dimakamkan. Mereka diajak untuk berkesadaran akan kepedulian dan mendoakan para korban perang di Timur Tengah. Mereka mendoakan anak-anak sekolah korban perang yang kehilangan rumah, keluarga atau orang tua akibat perang. Tentu tak terlupakan doa ujud Bapa Paus bulan Maret 2026, doa untuk pelucutan senjata dan perdamaian pun dilantunkan.

“Semoga bangsa-bangsa mengusahakan pelucutan senjata yang efektif, khususnya pelucutan senjata nuklir, dan pemimpin dunia memilih jalan dialog serta diplomasi daripada kekerasan,” demikian doa itu berkumandang dari Bukit Watu Putih di Pegunungan Menoreh.

Romo Adit, Pr (kanan) berjalan membersamai siswa-siswi SD Kanisius Kenalan dalam Jalan Salib Pemerdekaan di Perbukitan Menoreh, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Romo Benedictus Aditya Relliantoko, Pr Vikaris Paroki Promasan, Kulon Progo pun turut dalam Jalan Salib ini. Kepada utusan.net  mengatakan, ia bersyukur bisa mengikuti mengikuti jalan salib kecil, sederhana bersama dengan siswa-siswi SD Kanusius Kenalan ini.

“Mereka bersama-sama membawa gunungan berupa hasil bumi untuk mensyukuri rahmat Tuhan. Walau masih siswa sekolah dasar dan kecil-kecil tetapi sudah ikut ambil bagian dalam doa dan juga melaksanakan ujud Bapa Suci Paus Leo XIV. Doa untuk untuk perdamaian dunia saat ini,” ungkap Romo Adit.

Siswa-siswi SD Kanisius Kenalan, Borobudur, Magelang melaksanakan jalan salib diperbukitan Menoreh pada perhentian keempatbelas, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Siswa siswi ini berjalan naik dan turun jalanan yang tidak mudah. Mereka kuat dan penuh semangat. Di momen Prapaskah ini mereka berjalan melewati perkampungan, perkebunan dengan diiringi doa dan saling bahu-membahu membawa gunungan itu. Kata Romo Adit, inilah bukti langkah konkrit anak-anak belajar untuk berbuat silih.

“Apa itu silih? Silih itu lebih-lebih pada mereka bersama-sama diajak untuk mendoakan dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Karena konflik, karena peperangan, karena hal-hal yang membuat orang-orang itu merasa sombong dan egois satu sama lain dan lebih-lebih mendoakan untuk perdamaian di seluruh dunia agar kedamaian dapat diwujudkan di antara bangsa,” terang Romo Adit.

Disebuah semak jalan setapak dengan penuh semangat siswa-siswi SD Kanisius Kenalan mengikuti jalan salib diperbukitan Menoreh, Senin, 30 Maret 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Perjalanan Jalan Salib suci melewati perkebunan dan juga beberapa rumah warga mengajarkan terang Romo Adit, mereka diajak untuk juga mencintai alam dan juga senantiasa mengasihi sesama.Setelah tiba diperhentian terakhir, doa pun dipimpin seorang siswa. Doa untuk keutuhan alam, bumi, kerukunan serta kedamaian dunia termasuk perang yang menghancurkan kehidupan dan jauh dari kasih pun didaraskan. Romo Adit menutupnya dengan berkat penutup.

Menikmati bekal makanan seusai jalan salib. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Dalam kelegaan dan kegembiraan mereka menuju tempat berteduh dan membuka bekal makannya masing-masing dan menikmatinya bekalnya dalam rasa syukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *