Seminaris adalah Gereja Masa Depan

Kunjungan Uskup Labuan Bajo ke Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo

News1499 Views

Manggarai Barat. Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengunjungi Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo pada Senin, 3 Februari 2025. Mgr. Maksi hadir didampingi Rm. Richardus Manggu, Pr (Vikjen Labuan Bajo), Rm. Frans Nala, Pr (Sekretaris Keuskupan), Rm. Martinus Tolen Tino, Pr.

Rm. Beny Bensi, Pr selaku Praeses (Ketua) Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo menyampaikan apresiasi setinggi-tinggi atas kunjungan Mgr. Maksi.

“Perjalanan seminari tidak terlepas dari dukungan pimpinan dari sebuah keuskupan, terlebih khusus Keuskupan Labuan Bajo. Dokumen Konsili Vatikan II sering kali mengungkapkan bahwa seminari adalah jantung yang dari sebuah keuskupan atau Gereja. Karena dari seminari inilah muncul calon-calon imam sebagai tiang penyangga utama karya-karya pastoral Gereja  di tengah-tengah dunia,” tutur Rm. Beny.

Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo didirikan Mgr. Eduardus Sangsun, SVD pada 25 Agustus 1967. Antara tahun 1987 – 2007, seminari ini dikelola Tarekat SVD. Saat itu, siswa seminari bersekolah di SMAK Ignasius Loyola Labuan Bajo karena seminari hanya punya gedung asrama dan ruang kelas. Tahun 2007 sampai sekarang, seminari ini dikembalikan kepada keuskupan dan ditangani imam-imam diosesan (praja) dan bekerja sama dengan imam Fransiskan, Ordo SMM, dan Tarekat Redemtoris.

“Saya bangga karena dari tahun ke tahun peminat seminari berkembang. Saya pikir kalau 160 seminaris saat ini kelak menjadi imam semua, Gereja bisa kaya,” ungkap Rm. Beny.

Bagi keuskupan, keberadaan seminari adalah anugerah.

Di hadapan para seminaris, Mgr. Maksi menyatakan bahwa keuskupan bergembira dan bersukacita karena keluarga besar Seminari Yohanes Paulus II tetap dalam keadaan sehat, yang terpancar dari wajah-wajah bermakna kekudusan dan kesucian.

Sepakat dengan Rm. Beny, Mgr. Maksi juga menyampaikan bahwa seminari adalah jantung Gereja. “Makanya, kalau keuskupan tidak punya seminari, tentu setengah mati. Saya pun senang, kendati Keuskupan Labuan Bajo ini keuskupan baru, tapi ada seminarinya,” katanya.

Bagi keuskupan, keberadaan seminari adalah anugerah, karena mendirikan sebuah seminari tentu tidak semudah mendirikan sebuah sekolah umum. Mendirikan sebuah seminari prosesnya panjang dan harus mendapatkan izin dari Vatikan.

“Mereka harus lihat dulu bagaimana prospeknya, dari mana saja seminarisnya, bagaimana kelanjutannya, dan apakah mereka bisa makan atau tidak,” papar Mgr. Maksi.

 Ia pun melanjutkan, “Ketika masuk ke ruangan ini, saya melihat sebuah Gereja lokal tahun 2045. Gereja yang punya harapan. Komunitas Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo ini adalah ekspresi dari sebuah harapan dan keberlanjutan kasih Tuhan.”

Para seminaris memberikan jaminan bahwa Gereja itu masih ada. 

Di sisi lain, di belahan dunia lain, banyak sekali seminari yang ditutup karena sudah tidak ada lagi siswa atau calon imamnya. Bahkan, di Belanda ada seminari tinggi yang harus mengimpor para frater dari Asia dan Afrika, termasuk tiga frater dari Ruteng dan Labuan Bajo. Di sana, banyak gedung besar dijual Gereja kepada pemerintah kemudian digunakan untuk klub-klub dan fungsi lainnya.

“Para seminaris adalah Gereja masa depan. Oleh karena itu, kita membayangkan Gereja dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang. Para seminaris inilah yang memberikan jaminan bahwa Gereja itu masih ada. Kehadiran Seminari Yohanes Paulus II akan memberikan sebuah garansi masa depan dari Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo,” tutur Mgr. Maksi.

Ia lantas mengajak para seminaris untuk berusaha menjaga jantung Keuskupan Labuan Bajo, yaitu Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo. “Kita semua menjaga agar jantung ini tetap sehat sehingga terus memompa optimisme, harapan, dan sukacita. Para seminaris semua sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk sebuah proyek di masa depan yang harus dimulai dari sekarang,” lanjut Mgr. Maksi.

Oleh karena itu, Keuskupan Labuan Bajo terus berusaha menemukan cara-cara terbaik untuk membuat para seminaris bisa bertumbuh sebagai pribadi yang baik, calon pemimpin-pemimpin Gereja dan umat di masa depan. “Kalian semua bisa memberikan tanggapan konstruktif dari semua proses formasi yang berlangsung saat ini,” pungkas Mgr. Maksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *