YOGYAKARTA-Yayasan Tarakanita Wilayah Yogyakarta menggelar Selebrasi Linuris (Literasi, Numerasi, dan Riset) sebagai bentuk apresiasi terhadap proses pembelajaran kreatif dan inovatif yang telah dijalankan selama satu tahun ajaran. Kegiatan ini berlangsung di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Selebrasi Linuris ini setidaknya melibatkan lebih dari 1.000 siswa dari jenjang TK hingga SMA.
Berbagai sekolah di bawah naungan Yayasan Tarakanita di Yogyakarta turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Di antara sekolah-sekolah itu adalah TK Tarakanita Bumijo, SD Tarakanita Ngembesan, SD Tarakanita Bumijo, SMP Stella Duce 1, SMP Stella Duce 2, SMA Stella Duce 1, hingga SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.

Kegiatan selebrasi menghadirkan beragam pameran dan penambilan disajikan dalam kegiatan ini. Mulai dari pameran hasil karya kelompok kerja literasi, numerasi, dan riset, podcast hasil penelitian siswa, peluncuran buku antologi dan jurnal penelitian siswa, mini bioskop film karya siswa, hingga pameran pembelajaran Linuris.
Berbagai karya siswa dan guru dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Mulai dari buku antologi puisi, jurnal penelitian, majalah sekolah, best practice numerasi, infografis numerasi, hingga film pendek karya siswa yang diputar di mini bioskop.

Di panggung pentas selebrasi, para siswa juga menampilkan berbagai pertunjukan kreatif. Seorang siswa SD Tarakanita Ngembesan dari lereng Gunung Merapi membawakan cerita rakyat “Bawang Putih dan Bawang Merah” yang mengangkat nilai kejujuran, kerendahan hati, dan kemenangan kebaikan melawan keburukan. Sementara dua siswa SD Tarakanita Bumijo menampilkan seni pantomim secara apik di hadapan para peserta.
Kepala Divisi Pendidikan Tarakanita Wilayah Yogyakarta, Aleksandrea Tri Amboro mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud syukur sekaligus apresiasi atas proses pembelajaran Linuris yang telah berlangsung selama satu tahun.
“Hari ini adalah selebrasi pembelajaran literasi, numerasi, dan riset sekolah-sekolah di bawah Yayasan Tarakanita Cabang Yogyakarta. Ini merupakan upaya kami untuk mensinkronkan pembelajaran dengan asesmen standar mutu pendidikan internasional melalui PISA (Programme for International Student Assessment) yang juga telah diadaptasi pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Alek, pembelajaran berbasis literasi, numerasi, dan riset bertujuan mengubah pola pikir siswa agar memiliki kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.
“Tujuan pembelajaran ini tidak hanya untuk kebutuhan di kelas, tetapi membekali anak-anak agar siap menghadapi kehidupan di masa depan,” katanya.
Ia menegaskan, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik atau kognitif, tetapi juga harus membangun karakter dan integritas siswa. Karena itu, selebrasi ini menjadi ruang ekspresi sekaligus penyeimbang dalam proses pendidikan.
“Ada antologi puisi, jurnal riset, media pembelajaran numerasi, hingga film pendek yang semuanya merupakan output dari proses pembelajaran Linuris selama satu tahun ini. Jadi selain nilai akademis, siswa juga menghasilkan produk nyata dari proses belajar mereka,” ujarnya.
Menurutnya, implementasi Linuris dilakukan secara terintegrasi di seluruh mata pelajaran. Literasi tidak hanya terkait Bahasa Indonesia dan numerasi tidak hanya matematika, tetapi menjadi kompetensi dasar dalam semua proses pembelajaran.
Untuk membangun budaya tersebut, sekolah menerapkan berbagai program pembiasaan, seperti gerakan membaca 15 menit setiap hari, penulisan resume, hingga pembelajaran berbasis soal-soal High Order Thinking Skills (HOTS).
“Kami ingin budaya riset itu tertanam, baik pada siswa maupun guru. Jadi tujuannya bukan sekadar lomba, tetapi membangun kebiasaan berpikir kritis, membaca, meneliti, dan berkreasi,” katanya.














