Pembebasan dan Rahmat Tuhan dalam Perayaan Ekaristi Indulgensi

News1430 Views

Sleman. Umat Katolik Kevikepan Yogyakarta Timur memadati Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 19 November 2025, untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Indulgensi dalam rangka Tahun Yubileum 2025. Sebelum Ekaristi, umat terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat yang dibuka sejak pukul 15.00.

Perayaan ini dipimpin Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr. Robertus Rubiyatmoko yang juga menganugerahkan Berkat Kepausan bagi umat yang hadir untuk memperoleh indulgensi penuh.

Mgr. Rubi menyampaikan bahwa Tahun Yubileum adalah tahun rahmat Tuhan, saat umat diajak mengalami pembebasan dan pemulihan rohani. “Kita pantas berbahagia hari ini karena Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengalami kasih kerahiman-Nya. Yang menggerakkan kita hadir adalah kerinduan untuk menerima rahmat pembebasan itu,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa Yubileum pada zaman Israel menjadi masa ketika utang dihapuskan dan tanah dikembalikan kepada pemiliknya sebagai sebuah simbol dimulainya kembali hidup dari awal. Gereja kemudian memaknai Yubileum sebagai kesempatan pembebasan dari hukuman-hukuman atas dosa melalui indulgensi.

“Paus Fransiskus menetapkan Tahun Yubileum 2025 dengan anugerah indulgensi, penghapusan hukuman sementara atas dosa-dosa yang sudah diampuni,” jelas Mgr. Rubi seraya menekankan pentingnya pertobatan sejati sebagai bagian dari syarat menerima indulgensi.

Mgr. Rubi pun menegaskan, pertobatan berarti meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah dan melakukan yang berkenan kepada-Nya. “Itulah jalan untuk semakin dekat, akrab, dan bersatu dengan Kristus,” sebutnya.

Mgr. Rubi menandatangani prasasti Jembatan Pengharapan.

Ia turut mengapresiasi antusiasme umat Kevikepan Yogyakarta Timur yang secara rutin mengikuti pelayanan pengampunan dosa dan Ekaristi Yubileum.

“Semoga sampai akhir tahun kita mendapatkan kesempatan yang semakin berlimpah untuk mengupayakan hidup yang suci, membangun pertobatan yang sejati. Mumpung Gereja memberikan kesempatan, mari kita manfaatkan,” ajaknya.

Mgr. Rubi juga mengingatkan bahwa indulgensi penuh yang diterima umat merupakan penghapusan hukuman akibat dosa-dosa yang sudah diampuni.

“Tahun Yubileum tidak berhenti pada akhir tahun ini. Tahun Yubileum mengutus kita menjadi pembawa pembebasan bagi sesama. Kita teruskan perjuangan menjadi murid Tuhan, menjadi cahaya, berbagi kebahagiaan, menginspirasi, dan berbagi kesejahteraan sampai kapan pun,” tegasnya sembari menambahkan, “Selama lima tahun ke depan, kita akan memulai dan menjalani pelaksanaan dengan tema menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.”

Selain menekankan rahmat pengampunan, Mgr. Rubi juga mengajak umat mewujudkan kasih Tuhan dalam tindakan konkret kehidupan sehari-hari. “Jangan-jangan selama ini kita justru menindas anggota keluarga kita sendiri,” lontarnya sembari mengajak umat untuk refleksi.

Ribuan umat memenuhi gereja hingga pelataran luar, mengikuti perayaan dengan penuh kekhusyukan. Perayaan ini menjadi kesempatan istimewa bagi umat untuk mengalami pembaruan rohani, merasakan damai Tuhan, dan memperdalam relasi dengan Kristus.

Yasinta Sagulu & Henrikus Bima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *