Patologi Produktivitas Perempuan Dalam Kapitalisme Patriarki dan Toxic Femininity Menurut Iman Katolik

Bingkai180 Views

Ada satu ironi yang jarang dibicarakan dengan jujur di ruang publik modern. Perempuan hari ini sering disebut lebih bebas, lebih mandiri, dan lebih berdaya daripada generasi sebelumnya.

Namun di balik slogan pemberdayaan itu, muncul tekanan baru yang tidak kalah keras. Perempuan dituntut menjadi produktif tanpa henti. Mereka harus sukses dalam karier, tetap tampil sempurna, tetap mengurus keluarga, tetap aktif di ruang sosial, bahkan tetap terlihat bahagia di media sosial.

Semua harus berjalan bersamaan seolah tubuh dan jiwa perempuan tidak pernah lelah. Di sini muncullah sesuatu yang bisa disebut sebagai patologi produktivitas. Bukan sekadar tuntutan bekerja, tetapi tekanan psikologis yang membuat nilai diri perempuan diukur dari seberapa sibuk, seberapa sukses, dan seberapa terlihat berhasil di mata orang lain.

Tubuh perempuan menjadi ruang produksi, bukan hanya produksi ekonomi tetapi juga produksi citra sosial. Kapitalisme modern menemukan cara yang sangat efisien untuk memanfaatkan energi ini.

Dalam logika pasar, segala sesuatu harus menghasilkan nilai ekonomi. Perempuan tidak hanya menjadi tenaga kerja tetapi juga menjadi pasar yang sangat besar. Industri kecantikan, gaya hidup, kesehatan, parenting, hingga self improvement berkembang pesat dengan menjadikan perempuan sebagai target utama.

Ironisnya sistem ini sering berjalan berdampingan dengan struktur patriarki yang tidak pernah benar-benar hilang. Perempuan boleh bekerja dan berkarier, tetapi tanggung jawab domestik tetap dianggap sebagai tugas utama mereka.

Banyak perempuan akhirnya menjalani apa yang oleh sosiolog disebut sebagai double burden. Mereka bekerja di ruang publik sekaligus tetap memikul beban penuh di rumah.

Fenomena ini disebut sebagai the second shift. Setelah pulang dari pekerjaan formal, perempuan masih harus menjalani shift kedua di rumah. Tekanan ini diperparah oleh budaya yang kini sering disebut sebagai toxic femininity.

Istilah ini merujuk pada standar feminin yang justru menindas perempuan sendiri. Perempuan dituntut untuk selalu lembut, selalu peduli, selalu mengalah, selalu tampil menarik, selalu kuat menghadapi tekanan. Ketika perempuan merasa lelah atau gagal memenuhi standar itu, mereka sering menyalahkan diri sendiri. Budaya media sosial mempercepat patologi ini.

Platform digital dipenuhi dengan citra perempuan yang tampak sempurna. Ibu yang produktif, pekerja yang sukses, tubuh yang ideal, rumah yang rapi, kehidupan yang terlihat bahagia.

Semua itu menciptakan standar yang hampir mustahil dicapai oleh manusia biasa. Dalam konteks ini tubuh perempuan menjadi objek ekonomi sekaligus simbol sosial. Kapitalisme modern sering menyerap gerakan emansipasi perempuan untuk kepentingan pasar. Ide tentang kemandirian perempuan
kemudian digunakan untuk mendorong produktivitas tanpa batas.

Ajaran sosial Gereja Katolik sejak lama sebenarnya sudah mengingatkan bahaya sistem ekonomi yang mengabaikan martabat manusia. Dalam ensiklik Laborem Exercens artikel 6 yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II ditegaskan bahwa kerja manusia tidak boleh dipahami hanya sebagai alat produksi ekonomi.

Kerja harus selalu dilihat dalam terang martabat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Gereja mengingatkan bahwa manusia bukan alat bagi sistem ekonomi. Justru sistem ekonomi harus melayani manusia.

Dalam ensiklik Centesimus Annus artikel 34 Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa ekonomi pasar tidak boleh mengabaikan dimensi moral dan sosial kehidupan manusia. Prinsip ini menjadi sangat penting ketika melihat bagaimana perempuan sering ditempatkan dalam tekanan produktivitas yang berlebihan.

Tubuh perempuan diperlakukan seperti mesin yang harus terus menghasilkan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial. Katekismus Gereja Katolik juga menegaskan
kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Dalam Katekismus Gereja Katolik artikel 369 ditegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan bersama sebagai gambar Allah yang setara dalam martabat.

Pernyataan ini menolak segala bentuk struktur sosial yang menempatkan salah satu pihak sebagai lebih rendah. Kitab Suci sendiri memberikan perspektif yang berbeda tentang nilai manusia. Dalam Kejadian 1:27 tertulis bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Ia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan.

Pernyataan ini sederhana tetapi sangat radikal karena menempatkan martabat manusia bukan pada produktivitas atau keberhasilan ekonomi, melainkan pada relasi dengan Allah.

Yesus juga beberapa kali menentang cara pandang masyarakat yang merendahkan perempuan. Dalam Yohanes 4:7-26, kisah tentang perempuan Samaria menunjukkan bagaimana Yesus berbicara dengan seorang perempuan yang secara sosial dianggap tidak layak dihormati.

Dalam dialog itu Yesus tidak memperlakukannya sebagai objek sosial tetapi sebagai pribadi yang memiliki martabat penuh. Kisah lain muncul dalam Lukas 10:38-42 tentang Marta dan Maria.

Marta sibuk melayani sementara Maria duduk mendengarkan Yesus. Ketika Marta mengeluh tentang beban pekerjaan, Yesus menjawab bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik. Kisah ini sering ditafsirkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak boleh terjebak dalam aktivitas tanpa makna.

Narasi ini sangat relevan dengan tekanan produktivitas modern. Banyak orang termasuk perempuan hidup dalam ritme kerja tanpa henti seolah nilai hidup ditentukan oleh seberapa banyak yang bisa mereka kerjakan. Padahal dalam perspektif iman, nilai manusia tidak diukur dari produktivitas tetapi dari relasi
dengan Allah dan sesama.

Dokumen sosial Gereja lain yaitu Gaudium et Spes artikel 27 juga menegaskan bahwa segala bentuk penindasan terhadap martabat manusia bertentangan dengan kehendak Allah. Pernyataan ini mencakup berbagai struktur sosial yang memperlakukan manusia hanya sebagai alat produksi.

Ketika tekanan kapitalisme patriarkal dan standar toxic femininity bertemu, perempuan sering berada dalam situasi yang sangat paradoksal. Mereka didorong untuk bebas tetapi sekaligus dibebani dengan ekspektasi yang tidak realistis. Mereka dipuji karena produktif tetapi jarang diberikan ruang untuk benar-benar beristirahat. Akibatnya banyak perempuan mengalami kelelahan emosional yang dalam.

Burnout bukan hanya fenomena kerja tetapi juga fenomena sosial. Perempuan sering merasa harus terus membuktikan diri agar diakui dalam dunia yang masih penuh dengan standar patriarkal.

Ajaran sosial Gereja berusaha mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang memaksimalkan produktivitas manusia, tetapi masyarakat yang menjaga martabat manusia. Kerja memiliki nilai spiritual ketika dilakukan dalam kebebasan dan penghormatan terhadap martabat pribadi.

Dalam terang iman, manusia bukan mesin produksi. Manusia adalah ciptaan yang dipanggil untuk hidup dalam relasi, kasih, dan makna. Ketika dunia modern mengukur nilai manusia dari produktivitas tanpa batas, pesan ini menjadi semakin penting untuk diingat. Patologi produktivitas perempuan akhirnya bukan hanya soal ekonomi atau budaya populer. Ia adalah tanda bahwa sistem sosial modern sering lupa pada satu hal paling mendasar tentang manusia. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menjadi alat, melainkan untuk hidup sebagai gambar Allah yang bermartabat.

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *