Sleman. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-95, Yayasan Kanisius menggelar Perayaan 105 Tahun Kanisius pada Sabtu, 28 Oktober 2023 di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.
Perayaan ini dihadiri sekitar 1025 orang yang terdiri dari Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Badan Pengurus Yayasan, Kepala Cabang dan staf kantor, Kepala Sekolah KB-TK-SD-SMP-SMA-SMK Kanisius Keuskupan Agung Semarang, Perwakilan Guru Karyawan KB-TK-SD-SMP-SMA-SMK Kanisius Keuskupan Agung Semarang, serta pemerhati Kanisius.
“Sesungguhnya, 105 tahun Kanisius tepatnya kami rayakan pada Sabtu, 21 Oktober 2023 dengan mengusung tema ‘Berpadu untuk Kanisius Maju’. Namun, kami merayakannya hari ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Acara ini sebagai puncak dari kegiatan-kegiatan yang sudah diselenggarakan di setiap cabang, baik Cabang Yogyakarta, Cabang Magelang, Cabang Semarang, dan Cabang Surakarta,” terang Nur Sukapti, S.Pd, Kepala Cabang Yayasan Kanisius Yogyakarta.

Misa Syukur ulang tahun Kanisius ke-105 dipimpin Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ (Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia) sebagai Selebran Utama, didampingi para imam konselebran, antara lain Rm. Yohannes Heru Hendarto, SJ (Ketua Badan Pengurus Yayasan Kanisius), Rm. Ignasius Aria Dewanto, SJ (Bendahara Yayasan Kanisius), Rm. Melkyor Pando, SJ (Sekretaris Badan Pengurus), Rm. Danang Bramasti, SJ (Kepala Yayasan Kanisius cabang Magelang), Rm. Joseph MMT Situmorang, SJ (Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta), Rm. Albertus Hartana, SJ (Bendahara Badan Pengurus Yayasan Sanata Dharma), Rm. Eustachius Azismardopo Subroto SJ, (Direktur Utama Penerbit – Percetakan Kanisius), dan Rm. Cyprianus Kuntoro Adi, SJ (Rektor-Ketua Pengurus Yayasan De Britto).
Misa ini diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur atas karya Kanisius, diiringi tim paduan suara guru karyawan Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta dengan memadukan alat musik tradisonal dan modern.
Prosesi persembahan menjadi sesuatu yang menarik karena ada persembahan 4 tumpeng yang menggambarkan empat cabang Kanisius di Keuskupan Agung Semarang (KAS), yaitu Yayasan Kanisius Cabang Semarang, Yayasan Kanisius Cabang Magelang, Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, dan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta.
Sebelum berkat penutup, diadakan prosesi pemotongan tumpeng oleh Rm. Beni, sapaan akrab Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, yang diberikan kepada para Pengurus Yayasan Kanisius.
“Adaptasi adalah kunci umur panjang. Maka, kita selalu harus menemukan cara baru. Saya sadar penuh tantangan yang dihadapi oleh Kanisius di zaman ini, terutama dengan berkurangnya jumlah murid sebagai tantangan terbesar kita,” ungkap Rm. Beni.
Ia pun bertanya, masih mampukah Kanisius menghidupi cita-cita pendidikan bagi keluarga-keluarga miskin sederhana dalam situasi sekarang ini.

“Saya yakin kita masih bisa memelihara visi itu. Namun, sekarang diperlukan cara yang baru dan kreatif untuk menanggapi situasi tersebut,” lanjutnya sembari mengajak, “Marilah kita jadikan momentum ulang tahun ke-105 Yayasan Kanisius ini sebagai titik awal perubahan di dalam diri kita. Berubah menanggapi zaman sambil tetap setia pada cita-cita para pendiri.”
Sementara itu, Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam sambutan virtualnya menyatakan bahwa selama 105 tahun Tuhan senantiasa mendampingi, menyertai, dan memberkati seluruh karya pelayanan pendidikan Yayasan Kanisius.
“Begitu banyak anak-anak muda yang kita persiapkan dari waktu ke waktu untuk menjadi pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh berkualitas, dalam arti menjadi pribadi yang utuh, seimbang, autentik, sekaligus menjadi pribadi yang dewasa. Nantinya tidak hanya sampai di situ, (mereka akan) menjadi pribadi-pribadi yang beriman, cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis,” tutur Mgr. Rubi.
Itulah yang disebut Mgr. Rubi sebagai cita-cita bersama Yayasan Kanisius yang diupayakan dari waktu ke waktu hingga mencapai 105 tahun. Oleh karena itu, Kanisius layak memaknainya dengan mencoba melakukan pembaruan-pembaruan.
“Kita mempunyai suatu tekad bersama, berpadu untuk Kanisius maju. Ini merupakan tekad impian dan sekaligus rencana kita ke depan. Melalui tekad ini kita ingin mewujudkan Kanisius sebagai yayasan pendidikan yang makin menjawab kebutuhan dan perkembangan zaman, sekaligus menjawab apa yang sebenarnya menjadi kegelisan dan sekaligus harapan umat manusia, khususnya keluarga-keluarga kita,” harap Mgr. Rubi.
Usai Misa, ditampilkan pentas gelar budaya dari masing masing cabang. Tampilan diawali dengan paduan suara Cabang Semarang yang membawakan lagu Gereja dan lagu daerah yang menarik dan atraktif.

Sebelum penampilan berikutnya, acara dilanjutkan dengan peluncuran Aplikasi Sistem Akuntasi Keuangan dan My Home School sebagai wujud Kanisius One Gate System. Dalam peluncuran aplikasi ini, Rm. Heru mengajak semua elemen mendukung arah baru Yayasan Kanisius, yaitu Berpadu untuk Kanisius Maju melalui pengelolaan sekolah yang lebih Accountable, Responsible, Transparent, and Sustainable (ARTS) sehingga Kanisius makin maju, dipercaya, dan diminati oleh masyarakat. Selain itu, penerapan aplikasi My Home School (MHS) akan mendukung pengelolaan pembelajaran dengan inovatif.
Di mata Rm. Heru, Kanisius hanya akan tumbuh dan berkembang kalau berpadu, bermakna bagi begitu banyak orang kalau makin bekerja sama secara internal maupun eksternal, serta makin mampu relevan dalam pelayanannya untuk anak-anak zaman kalau sungguh terus-menerus mengembangkan semua potensi dan talenta untuk menjadi Kanisius maju.

Selama sepuluh bulan terakhir, Rm. Heru mencoba merenungkan dan akhirnya menemukan sejumlah hal. Salah satunya, keterpaduan dari sekian banyak sekolah yang dikelola oleh cabang-cabang bersama dengan seluruh yayasan sebagai keluarga besar Yayasan Kanisius.
“Yayasan Kanisius ini satu, tetapi tampil di dalam keanekaragaman. Itu juga tampak di dalam talenta anak-anak yang tampil pada siang hari ini. Kolaborasi yang erat dengan begitu banyak pihak ingin kami teruskan,” sebut Rm. Heru.
Keterpaduan untuk maju ini menjadi relevan ketika ditunjang oleh ekosistem digital yang makin mampu menjangkau siapa pun di dalam keanekaragaman. “Maka, selain bersyukur, kami juga mengembangkan sebuah tekad memeluk dunia digital untuk membangun sebuah tata kelola yang makin accountable, responsible—mengundang tanggung jawab begitu banyak pihak, yang makin transparent—tidak ditutup-tutupi lagi, tetapi juga yang semakin sustainable—yang mengelola kelangsungan dari pelayanan-pelayanan kita menjadi lebih relevan dan bermakna untuk banyak orang,” jelas Rm. Heru.
Bagi Rm. Heru, memeluk dunia digital bukanlah perkara muluk-muluk dan mahal. Namun, hal ini menjadi tantangan untuk para pengurus dan para guru sebagai orang-orang setaraf kaki lima tetapi melayani anak-anak dengan bintang lima. “Untuk itu, pada kesempatan ini, izinkan kami me-launching one gate system management untuk seluruh Kanisius,” tandasnya.

Di pengujung acara, disajikan pementasan gelar budaya anak dan guru dari Cabang Surakarta dengan tampilan dolanan anak. Tampilan ini bercerita tentang situasi dan gambaran ideal anak-anak yang begitu ceria dengan belajar sambil bermain.

Setelahnya, perwakilan Cabang Magelang menampilkan drama kolaborasi musik dan tari dengan judul “Maharajakapi Jataka”.
Tampilan terakhir ditutup dengan drama “Kuncung Bawuk” dari Cabang Yogyakarta.

Foto-foto: Dok. Panitia Perayaan 105 Tahun Yayasan Kanisius














