Nyadran Umat Katolik, Jaga Keharmonisan dan Lestarikan Tradisi

News2243 Views

Bantul. Salah satu tradisi yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa hingga kini adalah Nyadran. Kata “nyadran” berasal dari istilah “sraddha”, yakni upacara umat Hindu di Pulau Jawa pada zaman dahulu untuk mengenang arwah seseorang yang meninggal. 

Setelah agama Islam masuk ke Nusantara, khususnya di Jawa, sraddha tetap dilestarikan dan dilaksanakan pada bulan Ruwah (kalender Jawa) atau bulan Sya’ban (kalender Hijriyah) yang jatuh sebelum bulan Ramadan. Oleh karena itu, Nyadran juga kerap disebut Ruwahan.  Dengan demikian, Nyadran merupakan akulturasi budaya Jawa dengan Islam.

Dalam kultur masyarakat Jawa, tradisi Nyadran tidak hanya dilaksanakan oleh umat Islam, tetapi seluruh warga lintas agama secara bersama-sama.

Acara terbuka bagi seluruh warga Katolik di Lingkungan Matias, tidak pandang asal-usul. (Foto: Istimewa)

Kegiatan serupa dilaksanakan umat Katolik di Lingkungan St. Matias, Geblag, Bantul, D.I. Yogyakarta yang secara khusus menggelar doa untuk arwah pada Senin, 4 Maret 2024 di Bangsal Makam RT 06 Geblag pukul 16.30 dengan dipimpin prodiakon Bonifatius Slamet.

Sesudah itu, pukul 19.30, tradisi Nyadran dilaksanakan oleh umat Islam setempat yang dipimpin oleh simbah kaum.

Yulius Sunaryo, Ketua Lingkungan St. Matias, menjelaskan bahwa acara Ruwahan umat Katolik ini rutin dilaksanakan setiap tahun untuk bersama-sama mendoakan arwah para leluhur yang telah dipanggil Tuhan.

“Keberadaan umat Katolik di Padukuhan Geblag ini tergolong besar. Keharmonisan dengan warga sekitar sudah terjaga dengan baik dan saling menghormati. Kami mengadakan doa untuk arwah ini juga bertujuan untuk menjaga keharmonisan itu. Warga sekitar bisa melihat bahwa umat Katolik juga turut melestarikan tradisi. Maka, kami tidak hanya mengadakannya pada bulan November,” ujar Naryo.

Ia pun menegaskan, acara ini terbuka bagi seluruh warga Katolik di Lingkungan Matias, tidak hanya yang tinggal dan berasal dari tiga kampung di Padukuhan Geblag. “Ya, kami tidak mengotak-ngotakkan berdasarkan asal-usul maupun cakupan wilayah (padukuhan-Red.). Umat pendatang juga dipersilakan berpartisipasi,” ungkap Naryo.

Keluarga Yulius Sunaryo, Ketua Lingkungan St. Matias, berziarah ke makam leluhur. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Boni selaku prodiakon sekaligus katekis menambahkan bahwa doa arwah ini adalah wujud nguri-uri (melestarikan) tradisi dalam terang iman Kristiani. “Inkulturasi dalam beriman sama dengan teologi lokal,” sebutnya.

Usai doa arwah, umat melaksanakan ziarah ke makam leluhur masing-masing dengan membawa bunga tabur yang telah diberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *