Mgr. Yohanes Hans Monteiro Ditahbiskan Jadi Uskup Larantuka

News1447 Views

Larantuka. Keuskupan Larantuka secara resmi memiliki uskup baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang ditahbiskan Rabu, 11 Februari 2026. Tahbisan dihadiri 38 uskup, para pastor, biarawan, biarawati, serta umat dari berbagai daerah di Indonesia.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan menjadi uskup baru menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang memasuki masa emeritus. Rangkaian tahbisan berlangsung pada 10 – 12 Februari 2026, diawali dengan Vesper Agung di Gereja Maria Pembantu Abadi Paroki Weri, hingga Misa Tahbisan dan Pontifikal yang berlansgung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka.

Perayaan Ekaristi Tahbisan dipimpin Mgr. Fransiskus Kopong Kung didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.

Sementara Misa Pontifikal pada Kamis, 12 Februari 2026 dipimpin Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Larantuka yang baru. Sebelumnya, pengangkatan Mgr. Hans menjadi Uskup Larantuka telah diumumkan pada Sabtu, 22 November 2025 pukul 11.00 waktu Roma atau 18.00 WITA.

Mgr. Hans memilih moto episkopal “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan) yang diambil dari Efesus 4:4. Moto ini dimaknai sebagai panggilan untuk memperkuat kesatuan umat dalam semangat persaudaraan iman dan pengharapan bersama.

Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden mengatakan, moto yang dipilih Mgr. Hans menunjukkan bahwa seluruh diri manusia disapa, mulai dari tubuh, roh, hingga pengharapan.

“Moto ini menyentuh semua kelompok, mengajak semua umat, untuk menyadari bahwa apa pun perbedaan di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama, kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu. Moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita,” tutur Mgr. Budi.

Mgr. Budi melanjutkan, perbedaan bukan alasan untuk memandang diri lebih penting dan lebih berkuasa daripada yang lain, atau lebih rendah dan tidak berarti. Kesatuan dijamin oleh pemimpin yang mau mendengarkan dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi serentak mesti menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan.

Mgr. Hans memilih moto episkopal “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan) yang diambil dari Efesus 4:4.

“Karena itu, ketaatan dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan. Membawa semua orang ke dalam kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena alasan tertentu menjauh atau dijauhi orang. Merawat kesatuan berarti mencegah satu kelompok menjadi terlalu dominan sambil menutup ruang bagi yang lain. Selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban,” jelas Mgr. Budi.

Mantan dosen STFK Ledalero Maumere ini menegaskan, mempererat persatuan menuntut usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup. Upayanya antara lain memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang menderita karena kekerasan dan kemiskinan, baik kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian, dan waktu.

“Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang berada di jurang keputusasaan, terutama anak-anak. Memelihara kesatuan memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan untuk saling mengampuni,” pungkas Mgr. Budi.

Rangkaian acara tahbisan berlangsung sangat meriah. Mulai dari penjemputan uskup terpilih pada Selasa, 3 Februari 2026 di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere oleh panitia.

Setelah dari Maumere dilakukan pemerimaan oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur, tokoh adat, tokoh agama, dan umat Paroki Santa Maria Ratu Semesta Alam Hokeng di wilayah perbatasan Larantuka-Maumere.

Selanjutnya, uskup terpilih melanjutkan perjalan ke Larantuka dan diterima oleh umat Paroki St. Yosef Lewotobi di pertigaan Desa Nobo. Di tempat ini, uskup terpilih pernah bertugas. Sampai di pertigaan Oka, Uskup terpilih kembali diterima secara adat dan budaya oleh umat Paroki Santo Yoseph Riangkemie.

Kemudian, dilakukan perarakan keliling Kota Larantuka dan sempat pula dilakukan penjemputan oleh umat Muslim Postoh Larantuka sebelum akhirnya menuju Istana Raja Larantuka dan diterima Raja Larantuka.

Mansetus Balawala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *