Meski Punya Cacat Pusaka, Allah Menerima Manusia Apa Adanya

Sarasehan “Who Am I?” Paroki Santo Yakobus Bantul

News1408 Views

Bantul. Tim Pelayanan (Timpel) Dewan Pastoral Paroki Santo Yakobus Bantul menyelenggarakan Sarasehan “Who Am I?” pada Minggu, 12 Oktober 2025 di Gereja Santo Yakobus Bantul.

Sarasehan ini diikuti oleh umat Paroki Santo Yakobus Bantul, termasuk Orang Muda Katolik (OMK) serta para krismawan yang telah menerima Sakramen Krisma pada Minggu, 28 September 2025 dari tangan Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Hadir sebagai pembicara Pastor Kepala Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr dan AKBP Bonifatius Slamet serta F.X. Trimulyono sebagai pemandu.

Dalam kesempatan pertama, Rm. Merdi mengajak peserta untuk kembali pada asas dan dasar paling awal, yakni ketika Tuhan menciptakan manusia sudah memiliki tujuan. “Wujud atau bentuk seperti apa, dilahirkan di keluarga semacam apa, kita tidak bisa memilih,” bukanya.

Rm. Merdi menegaskan hal penting, yakni pribadi manusia diciptakan segambar dengan Allah. “Betapa seringnya kita menolak identitas diri sebagai gambar dan citra Allah. Kadang kala kita lalu merusaknya karena protes,” paparnya.

Imam yang baru saja merayakan pesta imamat ke-12 ini mengaku pernah menolak kondisi ekonomi keluarganya. Ketika masih kecil, teman-teman sekolahnya mempunyai mobil balap mainan. Ia juga ingin memilikinya, tetapi orang tuanya tidak pernah membelikannya.

Sebagai bentuk protes, ia menjadi anak bandel. “Saya mencuri uang Bapak dan Ibu, dari warung tetangga, pulang sekolah langsung main di sungai,” cerita Rm. Merdi sembari melanjutkan, “Kami yang hidup secara sederhana itu justru menjadi luka batin untuk saya. Saya kurang menyadari bagaimana Allah menciptakan saya menurut gambar dan citra-Nya yang baik adanya.”

Cacat atau luka batin, Rm. Merdi menyebutnya “cacat pusaka”, biasanya terjadi pada masa kecil atau berada dalam keluarga maupun di sekolah yang terekam sampai pada akhirnya menentukan jati diri seseorang.

“Setiap orang memiliki pengalaman luka, luka batin atau cacat pusaka. Mari kita kembali lagi mengenali luka batin. Penolakan atau pengalaman yang membuat sulit mengenali diri sendiri,” ajak Rm. Merdi.

Ia pun menambahkan, “Meskipun saya mengalami luka, luka batin, cacat pusaka, tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa Allah tetap menerima saya apa adanya. Meskipun penuh luka, kita mengalami kasih tanpa syarat dari Allah. Forgive and forget.”

Forgive artinya mengampuni, sedangkan forget artinya melupakan. Keduanya menjadi kesatuan. “Ketika kamu sudah berusaha untuk forgive tetapi kamu belum forget, ya (masalahnya) belum selesai,” tutur Rm. Merdi.

Selanjutnya, sebelum Boni sebagai pembicara kedua menyampaikan sharing-nya, Trimulyono yang merupakan filmmaker menayangkan film dokumenter berjudul Boni, Kisah Inspiratif Seorang Polisi yang diproduksinya.

Sarasehan ini diikuti oleh umat Paroki Santo Yakobus Bantul, termasuk Orang Muda Katolik (OMK) serta para krismawan yang telah menerima Sakramen Krisma.

Setelah itu, Boni menyatakan, setiap orang diberi talenta, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang dipendam, ada yang dikembangkan. “Saya kalau punya talenta mungkin hanya satu atau mungkin nol koma. Sebab, saya merasa sangat terbatas dalam hidup ini,” ungkap katekis sekaligus prodiakon ini.

Ia mengaku, pada masa kecilnya, untuk makan saja kesulitan. Ia pun merasa tidak memiliki bakat dalam bidang olahraga, kecuali lari. “Talenta saya kecil, tidak ada yang bisa diandalkan. Tapi, saya melihat Tuhan yang luar biasa. Maka, saya mencoba mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkap ayah tiga anak ini.

Dengan segala keterbatasan, Boni mencari dan mengetuk pintu pada Tuhan dengan berbagai kegiatan di gereja. “Sejak kecil saya aktif menjadi putra altar, kemudian Mudika (Muda-Mudi Katolik), sekarang disebut OMK (Orang Muda Katolik). Di situ saya dipercaya memberi renungan. Nah, suatu saat ada anjangsana Mudika dari Paroki Pugeran ke Bantul. Saya disuruh memberi renungan. Kemudian, ada pemuda anggota Mudika Pugeran yang mengatakan renungan saya bagus,” kisah Boni.

Pemuda itu memuji dan bertanya di mana Boni kuliah. Boni pun mengaku tidak kuliah karena tidak punya uang. Boni mengutip kata-kata pemuda itu, “Kuliah saja di tempat saya. Kalau nilainya bagus, bisa dapat beasiswa dan di sana murah.”

Jadilah Boni kuliah di kampus yang sekarang bernama Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (Prodi Pendikkat) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

“Karena saya aktif di gereja, Tuhan mengutus malaikat tanpa sayap sehingga saya bisa sekolah ke sana. Kemudian, saya menjadi katekis atau guru agama honorer, lalu menjadi polisi,” lanjut Boni.

Profesi sebagai polisi bermula ketika Boni sering menolong seorang anak yang kesulitan makan seperti dirinya dahulu. Suatu saat, anak itu mendaftar pegawai negeri atau tentara, tetapi tidak diterima. Anak itu lalu memberi tahu bahwa ada pendaftaran ABRI untuk sarjana. Boni pun melihatnya dan ternyata ada kebutuhan sarjana ilmu agama.

“Sekali lagi Tuhan mengutus malaikat tanpa sayap untuk saya. Kemudian, saya mencoba mendaftar tanpa memberi tahu siapa-siapa hingga saya jadi polisi. Saya pun menyadari, berarti Tuhan mengutus saya, memilih saya menjadi polisi,” ujar Boni yang mengaku sebelumnya sama sekali tidak tertarik menjadi polisi.

Bagi Boni, perutusan ini bagai domba di tengah serigala karena di sekitarnya ada orang serakah dan menyalahgunakan (wewenang atau kesempatan-Red.). Namun, Boni berpegang pada ayat dalam Kitab Ulangan untuk selalu ingat akan kebaikan Tuhan dan takut akan Allah.

“Itu yang saya gunakan di dalam menjalani utusan saya sebagai polisi hingga saat ini. Dari awal jadi polisi sampai hampir pensiun, tidak ada satu rupiah pun dalam arti suap atau yang lain sebagainya. Pure, murni anugerah dari Tuhan. Maka, bagi saya, jadi polisi boleh pensiun, tapi jadi katekis tidak boleh pensiun,” tekad Boni.

Menanggapi Boni, Trimulyono yang merupakan kakak tingkat Boni semasa kuliah, menyebut ayat emas dari Yohanes Pembaptis kepada para prajurit, “Cukupkanlah hidupmu dengan gajimu.”

“Nasihat Yohanes Pembaptis kepada prajurit itu ternyata merasuk dalam diri Pak Boni sebagai prajurit negara,” simpul Trimulyono yang pernah bekerja di pernah bekerja di Studio Audio Visual (SAV) Puskat (1994-2019) ini.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *