Meski Hati Luluh Lantak, Maria Tak Hilang Iman

“Sireng” dan Misa Selasa Pon di Candi Mater Dei

News1736 Views

Kulon Progo. “Keteguhan iman dan kerendahatian Bunda Maria adalah buah dari menghayati salib dalam hidupnya. Sejak peristiwa kabar gembira dari Malaikat Gabriel sampai akhirnya memuncak dalam peristiwa salib. Ia selalu taat dan menyimpan segala perkara dalam hatinya serta merenungkannya,” tutur Rm. Heribertus Suprihadi, Pr dalam “sireng” atau sinau bareng (belajar bersama) sebelum memulai Misa Selasa Pon di Taman Doa Candi Maria Mater Dei, Paroki Maria Mater Dei Bonoharjo, Kulon Progo, Selasa, 1 April 2025.

Rm. Supri, yang merupakan Pastor Kepala Paroki, mengajak umat menghayati dukacita Maria, khususnya saat menyaksikan penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib. Maria menyaksikan air dan darah keluar dari lambung Putranya yang tertusuk tombak. Air dan darah sebagai silih dosa umat manusia. Dalam seluruh peristiwa penting kehidupan Yesus, sosok Bunda Maria selalu hadir dan bahkan ia tetap setia di bawah salib sengsara Putranya.

“Kendati hatinya sebagai seorang ibu telah hancur luluh lantak, tetapi Bunda Maria tidak pernah kehilangan imannya, tidak ada kata pemberontakan sama sekali. Ia tetap setia memegang teguh iman kepada Allah dengan rendah hati. Wujud dan pengejawantahan dari kata-kata yang pernah diucapkannya ialah ‘aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu’,” tegas Rm. Supri. 

Misa Selasa Pon dilaksanakan secara rutin di pelataran Taman Doa Candi Maria Mater Dei. Patung Bunda Maria di taman doa merupakan karya maestro pematung Ismanto yang diukir dari batu kali setinggi kurang lebih tiga meter.

Bunda Maria digambarkan mengenakan sanggul dan kebaya khas Jawa dengan menggendong bayi Yesus. Hal ini mencerminkan bagaimana Maria ikut larut, menyatu, dan menopang dalam suka-duka keseharian umat di Bonoharjo yang masih kental dengan tradisi dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Bentuk bangunan gereja di samping taman doa yang berbentuk saron (salah satu instrumen gamelan Jawa), lukisan jalan salib berbentuk wayang purwa, dan patung Yesus serta Maria menggunakan pakaian Jawa makin menguatkan kekhasan tersebut.

Taman doa yang berada di tengah hamparan persawahan menghijau ini diresmikan dan diberkati Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko pada 15 Agustus 2023, tepat pada hari Selasa Pon (selanjutnya menjadi cikal bakal diadakannya Misa Candi Selasa Pon).

Setelah Perayaan Ekaristi selalu diadakan kembul bujana (makan bersama) untuk membangun keakraban sambil menikmati sega candi (nasi candi) yang berupa nasi kucing hangat dengan lauk oseng tempe atau sambal teri yang dibungkus daun pisang berbentuk segi tiga ala onigiri versi Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *