Menuju Rumah Sakit Pilihan di Jogja Selatan

Jendela959 Views

Pagi yang sejuk, di depan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, seorang perawat berlutut dan membuat tanda salib. Ia pun berdoa. Perawat perempuan itu bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth (RSSE) Ganjuran. Ia memohon rahmat agar penyertaan Tuhan menyertai tugasnya di rumah sakit yang beberapa tahun lagi akan berusia satu abad.

Hari ini Jumat, 4 April 2025, Rumah Sakit Santa Elisabeth genap berusia 95 tahun. Perjalanan panjang ditempa dengan berbagai hal tak menyurutkan niat suci untuk mengabdi pada bidang kesehatan. Pilar kemanusiaan yang di kuatkan oleh semangat iman terus berkembang untuk mengabdi. Bukan tanpa tantangan. Tetapi dalam perjalanan pengabdian itu Rumah Sakit Santa Elisabeth terus berjalan dalam satu garis pelayanan. Waktu demi waktu dalam untaian sejarahnya. yang terus dihidupinya.

Perjalanan yang membentuk

Tahun 1862, keluarga Schmutzer mendirikan pabrik gula Gondang Lipuro di Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagai penun­jang, pada 1920, Ny. Schmutzer membuka poli­klinik untuk melayani masyarakat.

Tahun 1930, atas saran seorang karyawan, poliklinik ini dikembangkan menjadi sebuah rumah sakit. Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Ny. Schmutzer menghadiahkan se­buah rumah sakit dengan nama “Rumah Sakit Santa Elisabeth” dan diresmikan pada tanggal 4 April 1930.

Demi memperlancar pelayanan dan pengelolaan, Ny. Schmutzer memohon Pim­pinan Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (Kongregasi CB) di Maastricht, Belanda agar mengutus anggota­nya untuk berkarya di Ganjuran. Empat orang suster pun diutusnya. Keem­patnya adalah Sr. Cunegundis CB, Sr. Barbarine CB, Sr. Iris Groot CB, dan Sr. Ammonia Ruyg CB. Mereka tiba di Batavia (Jakarta) pada 9 Ma­ret 1930 dan beberapa hari kemudian tiba di Yogyakarta. Pada 4 April 1930, mereka disambut dengan Misa di Gereja Ganjuran dan langsung diserahi tugas untuk mengelola RS Santa Elisabeth. Selain bertugas di rumah sakit, para suster juga secara langsung mengabdi kepada masyarakat di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah, antara lain taman kanak-kanak, sekolah rakyat, dan sekolah kepandaian putri. Di bidang sosial, para suster mendirikan sebuah panti asuhan guna menampung anak yatim piatu dan anak telantar lainnya.

Selain di rumah sakit, para suster juga mengab­di masyarakat di bidang pen­didikan dan sosial.

Momen penting yang mengubah rumah sakit

Dalam perjalanan sejarahnya, RSSE meng­alami jatuh bangun dengan segala tan­tang­annya. Pada masa pendudukan Jepang, RSSE diambil alih begitu saja oleh Jepang. Jepang hanya menguasai tanpa mengelola serta me­rawatnya sebagaimana mestinya. Pada saat itu RSSE dapat menampung sekitar 60 pasien.

Permulaan tahun 1946, RSSE diambil alih Pemerintah Indonesia dan terus berkembang dengan mendirikan dua poliklinik di Celep dan Guntur Geni. Layaknya rumah sakit lain­nya, RSSE juga diberi bantuan oleh Pemerintah Indonesia.

Tahun 1954, RSSE diserahkan kembali ke Konggregasi CB. Rumah sakit ini terus berkembang dan menambah kapasitas tempat tidur serta menyelenggarakan kursus pem­ban­tu perawat.

Tahun 1964, mendapat persetujuan dari Pemerintah Indonesia, RSSE membuka Sekolah Juru Kesehatan dengan sarana dan pra­sarana yang memenuhi syarat.

Tahun 1966, Rumah Sakit Santa Elisabeth mendirikan Sekolah Pengatur Kesehatan dan menambah kapasitas menjadi 100 tempat tidur.

Empat Suster CB pertama yang mengelola RS Santa Elisabeth Ganjuran.

Mulai tahun 1977, disebabkan oleh banyaknya sarana pelayanan kesehatan yang dibangun di sekitar Ganjuran, kurangnya dukungan dana, kurangnya jumlah tenaga kesehatan, dan menurunnya kemampuan daya saing, RSSE secara berlahan-lahan mengalami kemunduran. Kemunduran itu terus berlangsung dari tahun ke tahun, hingga pada tahun 2000 keadaan RSSE boleh dikatakan tidak memenuhi syarat sebagai rumah sakit. Hanya karena kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, RSSE tetap dibiarkan beroperasi.

Oleh karena Yayasan Carolus Borromeus sebagai badan penyelengara sudah tidak sang­gup lagi mengelola, dan demi menghi­dupkan kembali pelayanan kesehatan Katolik yang sudah ada puluhan tahun di Paroki Ganjuran, maka Yayasan Carolus Borromeus ber­niat menyerahkan RSSE kepada Yayasan Panti Rapih. Sebagai lembaga Gereja Katolik, Yayasan Panti Rapih harus melaksanakan misi Gereja Katolik, yaitu preferencial option for the poor dan perwujudan dari visi-misi Yayasan Panti Rapih. Dengan demikian, sejak tanggal 2 September 2000, RSSE resmi bergabung dan menjadi milik Yayasan Panti Rapih. Namun, pengelolaan oleh Yayasan Panti Rapih baru dimulai pada 1 Januari 2001.

Ketika terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter pada Sabtu, 27 Mei 2006, gedung RSSE mengalami kerusakan cukup berat. Dalam keadaan yang sulit dan fasilitas yang sangat terbatas, RSSE berjuang menolong ratusan orang yang mengalami cedera dan kehilangan tempat tinggal dengan mengerahkan segala pelayan kesehatan yang ada dan dukungan dari berbagai pihak yang peduli. Para pasien ditem­patkan di gedung-gedung yang tidak rusak, bahkan di tenda yang dipasang di halaman tengah.

Milestone layanan rumah sakit

Pelayanan semakin berkembang dari awal hanya IGD, klinik umum, klinik gigi, dan klinik empat dasar spesialis (spesialis penyakit dalam, anak, bedah, dan kandungan), sekarang mempunyai banyak spesialis tambahan seperti spesialis THT, mata, jiwa, saraf, bahkan jantung, rehabilitasi medik, juga subspesialis bedah tulang dan konservasi gigi. Ke depan, masih mungkin bertambah lagi jumlah dan jenis spesialisnya.

Luas bangunan awal 3.064 m2. Seiring bertambah banyaknya jumlah pasien dan pelayanan, maka perluasan dilakukan untuk area pelayanan, penunjang medik, dan parkir, se­ka­rang luasnya menjadi 4.438 m2. Teknologi alat kesehatan dan inovasi juga berkembang, dari CT Scan 2 slice menjadi CT Scan 16 slice. Laboratorium pun dimutakhirkan. Terakhir, RSSE mempunyai alat ekokardiografi jantung. Rencananya, pada 5 April 2025 akan dirancangkan bangunan tiga lantai di utara rumah sakit untuk penambahan layanan baru, yakni hemodialisa dan fisioterapi.

Akreditasi Paripurna (Bintang 5) sebagai pengakuan pemerintah bahwa Rumah Sakit Santa Elisabeth, sebagai RS tipe D dengan 50 beds, benar-benar telah melaksanakan standar-standar akan keselamatan pasien dan peningkatan mutu yang berkesinambungan. RSSE mendapatkan Akreditasi Paripurna pada tahun 2016, 2019, dan terakhir 2022.

Keberpihakan pada mereka yang miskin atau kurang beruntung di implementasikan de­­­ngan memberikan pelayanan holistik pa­­da pasien Penerima Bantuan Iuran (PBI) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. RSSE sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan mulai tahun 2014 sampai sekarang dengan mengikuti regulasi Kementerian Kesehatan dari pusat sampai de­ngan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.

Didampingi Cinta Bakti selalu oleh Suster-suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, RSSE memiliki sejarah yang kaya akan kepe­mim­pinan yang visioner. Dimulai oleh dr. Joseph Hari Kusnanto, Dr.PH. (2001), dr. Rijantono Franciscus Maria (2003), dr. Victorius Adi Mulyanto, M.P.H. (2013), dan dari tahun 2024 sampai sekarang oleh dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H. RSSE terus berkomitmen un­tuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat, sejalan dengan semangat pelayanan tulus dengan hati penuh kasih yang telah diwariskan sejak awal berdirinya.

95 tahun mengabdi, selamanya peduli

Draft kerja Rencana Strategis (RENSTRA) RSSE tahun 2026-2030 dirancang untuk men­­­jadikan RSSE menjadi rumah sakit swasta rujukan untuk geriatric (pelayanan kesehatan untuk lansia) yang terpadu, terbaik, dan menjadi pilihan utama masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta selatan. Pertimbangan ini di dasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) akan pola demografis Indonesia, khususnya DIY atau Bantul sebagai tempat yang nyaman untuk lansia.

“Kami berusaha dan sudah melakukan persiapan-persiapan, mulai dari direktur sebelum-sebelumnya, antara lain akan ada pelayanan tambahan dokter spesialis, penam­bahan gedung baru, yaitu gedung hemo­dialisa, fisioterapi terpadu, dan perkantoran. Ini akan sangat menunjang RS Santa Elisabeth sebagai rujukan geriatric di Jogja selatan,” papar dr. Tandean.

Kepedulian RSSE kepada lansia diwu­judkan melalui membuat program pelatihan layanan caregiver pada awam, agar masyarakat umum dapat merawat lansia yang tingkat kemandiriannya belum berat (caregiver ialah orang yang bertugas merawat dan mengasuh orang lain yang memiliki keter­batasan untuk mandiri). RSSE juga membina komunitas lansia yang selalu berolah­raga atau senam di halaman rumah sakit, pemberian edukasi kesehatan dan gizi, juga pemeriksaan deteksi dini. Di samping itu ada program mobil keliling untuk pelayanan homecare keluarga.

“Kalau sudah berat, otomatis ditangani oleh perawat profesional di rumah sakit. Kon­disi lansia ada batasnya sehingga tidak selalu bisa dilakukan di rumah,” terang penulis Rubrik Menjadi Sehat di Majalah UTUSAN ini.

Dokter Tandean Arif Wibowo, direktur RS Elisabeth Ganjuran.( Yutta).

Pengembangan RSSE tidak hanya me­nya­sar pada lansia saja, tetapi juga pada generasi muda dengan melakukan kegiatan rutin pro­gram edukasi kesehatan dan deteksi dini setiap jumat pertama di aula Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran serta pengembangan markom (marketing communication) digital SOBAT ELSA, menyasar pada orang muda untuk mengenal edukasi kesehatan melalui game dan kuis yang berbasis web di RSSE. Program ini juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja pada saat menunggu di poliklinik atau di rawat inap. Setiap pengguna SOBAT ELSA akan tertantang menjadi pionir untuk hidup sehat dan paham akan kesehatan.

“Sejalan dengan harapan sebagai ru­mah sakit pilihan utama masyarakat DIY se­latan, ter­utama terkait pembangunan di jalur Pansela (Pantai Selatan), RSSE beren­cana mem­­buat program pelayanan kegawatdaruratan dan bencana. Konsepnya, RSSE akan me­latih bantuan hidup dasar dan disaster plan di instansi dan kedinasan di area itu sehingga Pantai Selatan sebagai pintu masuk DIY bisa tertangani di RSSE ” lanjutnya.

Dengan berlokasi di sebelah kompleks Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran yang ter­kenal dengan candinya, RSSE termasuk da­lam kawasan “miniatur Maastricht”, Kongregasi CB di Belanda. “Di sini satu kompleks terpadu ada rumah sakit, gereja, sekolah pendidikan, panti asuhan dan Karya Sosial Permata Hati. Banyak peziarah dari seluruh negeri termasuk luar negeri yang datang untuk ziarah dan berdoa di gereja dan candi. De­ngan menjadikan satu kawasan yang terpadu, maka akan tercipta sinergisitas yang saling melengkapi antara spiritualitas dan kesehatan yang menunjang. Bagaimana kiprah RSSE terlibat di dalamnya, bisa dengan medical check up, edukasi dan konsultasi penyakit atau nutrisi gizi, maupun edukasi pera­watan paliatif sederhana,“ angan dr. Tandean.

Sembilan puluh lima tahun bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru. Sebab, cinta sejati tidak mengenal batas waktu. Ia akan terus tumbuh, mengalir, dan mengubah dunia—satu nyawa dalam satu waktu, “pelayanan tulus dengan hati penuh kasih” selalu menjadi cahaya bagi mereka yang membutuhkan. Dan, harapan menuju 100 tahun Rumah Sakit Santa Elisabeth dijiwai dengan semangat Love that Renews…. Without limits, Unstopable and Forever.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *