O Amelia gadis cilik lincah nian.
Tak pernah sedih, riang selalu sepanjang hari.
Gita lawas anak-anak berjudul O Amelia lumayan populer. Bapak A.T. Mahmud, sang komponis, membayangkan Amelia sebagai gadis kecil yang energik dan tak pernah murung. Tokoh kisah ini juga bernama Amelia. Bedanya, sejak kecil hidupnya tak seberuntung gadis di lagu Amelia.
Ayahnya seorang sopir bus antarprovinsi. Bapak dua putri ini mesti menempuh jarak yang jauh di atas roda. Pekerja keras ini terkena gagal ginjal di usia setengah baya akibat pola makan yang tidak teratur serta kerap minum minuman berenergi yang mengandung pengawet.
“Tumbangnya” sang ayah menjadikan istri dan kedua putrinya kehilangan tulang punggung. Untunglah, ibunda cekatan menggantikan peran suaminya. Wanita perkasa ini merantau ke Jakarta berjualan nasi bungkus dan kopi untuk para pekerja jalanan di kawasan elite, Menteng, Jakarta Pusat.
Amelia tinggal bersama kakek dan adik perempuannya di Desa Rowokele, Kebumen, Jawa Tengah. Ia berperan ganda menjadi orang tua sekaligus kakak bagi adiknya. Tak seperti remaja sebayanya yang hanya berpikir sekolah dan bermain, ia mesti mengurus rumah tangga dan adiknya serta mengelola uang kiriman ibunya agar cukup untuk biaya hidup sekeluarga.
Hebatnya, hidup tanpa pendampingan orang tua tak mendorongnya kehilangan arah. Amelia tetap berjalan tenang di jalur lurus hidupnya. “Sebenarnya saya ingin jadi polwan atau pramugari, Mbak. Tetapi Ibu mendorong saya jadi perawat supaya cepat bekerja. Biaya masuk pendidikan polwan dan pramugari ‘kan mahal,” ujarnya.
Di STIKES Muhammadiyah Gombong, Amelia memancarkan “kilau emasnya”. Ia berhasil mendapat beasiswa dan menang lomba esai. Hebatnya, semuanya ia lakukan sembari mengurus kakek dan adik perempuannya. Ibunya hanya pulang setahun sekali. Kakeknya berpulang ketika ia duduk di semester 4.
Ditemani sepeda motor setianya, gadis berpostur tinggi ini menembus pekatnya malam dan dinginnya udara dini hari ketika berangkat dan pulang kuliah selama empat tahun. Bila musim hujan tiba dan jalanan licin, Amelia mesti sigap mengemudikan sepeda motornya di lintasan yang masih berbukit-bukit itu.
Pengalaman tak terlupakan sewaktu ia praktik klinik di RSJ Prof Dr Soerojo Magelang, Jawa Tengah selama dua minggu. “Saya menyaksikan langsung banyak wanita terguncang jiwanya akibat perselingkuhan, KDRT, ataupun anaknya meninggal. Ada pula anak-anak muda yang kecanduan game dan judi online. Setiap saat saya siaga mengamati pasien RSJ karena mereka bisa kambuh sewaktu-waktu,” ceritanya.
Menjadi tenaga kesehatan (nakes), papar Amelia, memerlukan kondisi fisik dan mental yang tangguh. Jam kerja panjang, tuntutan pekerjaan yang berat dan banyak, kondisi pasien yang tak terduga, dan tekanan dari keluarga pasien merupakan hal-hal tak menyenangkan yang ia mesti hadapi. Di waktu luangnya, ia mengunjungi pasien stroke dan mengobati luka decubitus mereka.
Kisah hidup Amelia membuka mata saya bahwa apa pun yang terjadi pada kita, kita selalu memiliki pilihan. Apakah kita akan terhanyut dalam masalah kita ataukah kita menghadapinya dengan ketegaran dan semangat juang?
Sejak muda, kedewasaannya telah tertempa lewat masalah keluarganya. Amelia berusaha memekarkan harapannya di tengah krisis yang melanda hartanya yang paling berharga itu. Ia kini boleh memetik buah perjuangannya dan memberikan kebanggaan bagi ibu dan adiknya.
Ivonne Suryanto














