Membasuh Luka Bumi dengan Kasih

Belajar Pertobatan Ekologis Lewat Sebotol Ekoenzim

News879 Views

Sleman. Di salah satu sudut halaman SMP Kanisius Kalasan, Kamis, 23 April 2026, nampak sekelompok murid kelas 7 dan 8 berkumpul dengan penuh antusias. Tangan-tangan muda mereka tampak sibuk meremas potongan-potongan buah yang telah melewati masa fermentasi selama beberapa bulan. Aroma segar khas asam buah pun menyeruak, menandakan sebuah proses alam sedang mencapai puncaknya: panen ekoenzim.

Bagi kami, kegiatan ini adalah sebuah “liturgi kehidupan” sederhana untuk menjawab seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. Di tengah bising dan debu pembangunan jalan tol yang kini melingkari sekolah kami di Kalasan, kami memilih untuk berhenti sejenak dan mendengarkan jeritan bumi melalui tindakan nyata.

Para Suster FCJ memberi pelatihan tentang Ekoenzim kepada siswa-siswi SMP Kanisius Kalasan (Foto: SMP Kanisius Kalasan)

Didampingi oleh Suster Meta, FCJ, dan Suster Agnes, FCJ, anak-anak diajak untuk melihat bahwa tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Tuhan. Kulit buah yang biasanya dibuang begitu saja, ternyata bisa bertransformasi menjadi cairan multifungsi yang mampu memulihkan kesuburan tanah.

Saat saya melihat anak-anak dengan telaten menyaring cairan tersebut dan memasukkannya ke dalam botol bekas, saya tersadar bahwa mereka sedang belajar tentang kesabaran. Menunggu beberapa bulan untuk sebuah hasil adalah latihan rohani untuk menghargai waktu dan proses Tuhan. Cairan cokelat yang mereka hasilkan kemudian langsung digunakan untuk menyiram tanaman di sekitar sekolah. Sebuah gerak syukur untuk mengembalikan kebaikan kepada alam yang telah memberi kita nafas.

Kegiatan pembuatan ekoenzim (Foto: SMP Kanisius Kalasan)

Kebahagiaan anak-anak semakin lengkap saat para Suster FCJ juga mengajarkan cara membuat sabun cair cuci baju dari bahan ramah lingkungan. Workshop ini menjadi bekal berharga bagi mereka. “Sabunnya bisa dipakai ibu di rumah ya, Bu?” tanya salah satu murid dengan mata berbinar.

Di situlah titik baliknya. Pertobatan ekologis tidak akan efektif jika hanya berhenti di ruang kelas. Ia harus dibawa pulang ke rumah, masuk ke dapur, dan meresap dalam kebiasaan keluarga. Dengan membawa pulang sabun buatan sendiri, anak-anak sebenarnya sedang mewartakan kabar baik tentang gaya hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan.

Foto: SMP Kanisius Kalasan

Sebagai seorang guru dan juga seorang ibu, harapan saya sederhana. Saya ingin setiap tetes ekoenzim yang disiramkan ke tanah Kalasan ini menjadi benih cinta di hati anak-anak didik saya. Semoga mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman nurani untuk menjaga “Rumah Kita Bersama”.

Melalui hal-hal kecil seperti memilah sampah dan mengolah enzim, kita sebenarnya sedang membasuh luka-luka bumi dengan kasih. Karena pada akhirnya, mencintai Sang Pencipta berarti juga menjaga dan merawat setiap jengkal ciptaan-Nya.

Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si
Guru SMP Kanisius Kalasan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *