Laboratorium Iman, Dinamika Umat Lingkungan St. Matias Geblag

News1795 Views

Bantul. Umat Lingkungan St. Matias Geblag, Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta merayakan Pesta Nama Lingkungan dan Paskah pada Senin, 13 Mei 2024 di Pendapa Dalem Jodi Sarantan, Geblag, Bantul, D.I. Yogyakarta. Perayaan bertema “Gembira Berbagi Berkah” ini diawali dengan Misa atau Perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikaris Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Augustinus Toto Supriyanto, Pr.

Yulius Sunaryo selaku ketua lingkungan menceritakan sekilas sejarah Lingkungan St. Matias yang semula disebut kring sebagai bagian dari Wilayah Maria Tak Bernoda, Cepit. Lingkungan St. Matias baru berdiri tahun 1990 pada masa penggembalaan Rm. Venantius M. Kartasudarma, Pr.

“Sebelum terbentuk lingkungan, sembahyangan rutin sudah diselenggarakan setiap malam Jumat seperti yang sekarang masih berjalan. Begitu pula sembahyangan-sembahyangan insidental yang diselenggarakan oleh umat atau keluarga di lingkungan untuk ujud tertentu,” terang Naryo.

Umat lingkungan pun banyak yang terlibat dalam aktivitas maupun tugas di paroki. Dalam lingkup internal, lingkungan juga menggelar aksi sosial dalam rangka Natal dan Paskah serta menjenguk umat yang sedang sakit.

“Umat Lingkungan St. Matias yang tercatat dalam daftar anggota pralenan, sampai saat ini ada sekitar 76 KK (kepala keluarga), itu pun belum semua masuk atau tergabung. Apabila paroki hendak memekarkan lingkungan, sumangga (dipersilakan),” ucap Naryo terbuka.   

Pemotongan tumpeng oleh Saverius Vanny Noviandri (kanan), diserahkan kepada Yulius Sunaryo (kiri). (Foto: Willy Putranta)

Sementara itu, Saverius Vanny Noviandri selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki St. Yakobus Bantul mengajak umat Lingkungan St. Matias untuk menyadari bahwa paroki sejatinya paguyuban umat beriman.

“Lingkungan ini adalah bagian dari paroki sehingga sudah sewajarnya lingkungan ini juga sejalan dengan konsep paroki, yaitu paguyuban umat beriman,” tutur Vanny sembari menambahkan bahwa paroki maupun lingkungan dapat menjadi laboratorium iman. Artinya, lingkungan atau paroki menjadi ladang untuk mempraktikkan iman.

“Bagaimana kita peduli, mengasihi, dan berbagi berkat itu bagian dari implementasi iman yang dipraktikkan Lingkungan St. Matias. Tanpa kepedulian, kasih, dan gerakan, tidak mungkin akan ada perayaan seperti malam ini,” imbuhnya Vanny.

Ia mengakui, dari Lingkungan St. Matias muncul tokoh-tokoh yang aktif di gereja. “Gereja itu tempat pelayanan, kita tidak mencari materi di sana, tapi menjadi sarana bagaimana kita berbagi apa yang kita punya dan bisa untuk perkembangan Gereja,” pesannya.

Dalam homili saat Perayaan Ekaristi, Rm. Toto mengungkapkan bahwa St. Matias tidak pernah bercita-cita untuk digenapkan ke dalam keduabelasan rasul Yesus Kristus. Namun, karena kehendak Ilahi, ia menerima tugas perutusan itu dengan penuh sukacita.

“Lingkungan St. Matias ini punya dinamika sendiri. Sejak awal saya berpesan, lingkungan ini besar, hidup, dan menghasilkan tokoh-tokoh paroki. Itu menjadi suatu tanda lingkungan ini tumbuh dan berkembang, bahkan di dalam jumlah umat,” tutur Rm. Toto.

Beberapa baptisan baru, pandang Rm. Toto, menjadi Katolik bukan karena romo, tetapi karena terkesan dengan kesaksian hidup umat Katolik di lingkungan.  

Yulius Sunaryo bersama pasutri Sulis dan Lia, serta C.H. Mujiyati sebelum menerima potongan tumpeng. (Foto: Lucia Tri Camara Dini)

Rm. Toto lantas menceritakan, syarat orang yang menggantikan Yudas Iskariot menjual Yesus adalah orang yang mempunyai pengalaman hidup bersama dengan Yesus, mulai dari pembaptisan oleh Yohanes sampai pada kenaikan-Nya ke surga.

“Intinya mempunyai pengalaman bersama dengan Yesus. Barangkali ada orang-orang yang lebih hebat pada waktu itu, tetapi karena tidak memenuhi syarat, maka tidak bisa terpilih. Undian untuk menentukan pengganti Yudas, dimengerti sebagai pilihan dari Tuhan Allah sendiri. Lalu, pada tahun 1990, kala St. Matias dipilih sebagai pelindung untuk lingkungan ini, pasti ada pertimbangan-pertimbangan yang dibuat,” lontar Rm. Toto.

Sampai sejauh ini, dari Lingkungan St. Matias telah terpanggil tiga orang imam. Untuk tahun-tahun ke depan, Rm. Toto berharap makin banyak anak muda yang tertarik ikut menjadi imam, bruder, dan suster karena Lingkungan St. Matias sangat potensial.

Mengenai wacana dari paroki akan ada penataan wilayah dan lingkungan, Rm. Toto menyebut Lingkungan St. Matias tentu akan terkena. “Disebut di lingkungan ini ada sekitar 76 KK dan belum semua tercatat. Padahal, menurut buku pedoman, satu lingkungan jumlah KK sampai 40 saja. Jadi, Lingkungan St. Matias seharusnya sudah menjadi dua lingkungan,” sebut Rm. Toto.

Ia memahami bahwa upaya pemekaran ini tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. “Maka, bila tiba saatnya nanti akan coba ditata lagi supaya Gereja di paroki makin greget, banyak orang yang terlibat, serta tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.

Usai Perayaan Ekaristi, pemotongan tumpeng dilakukan oleh Vanny dan diserahkan kepada Naryo selaku ketua lingkungan, pasutri Yohanes Sulistya Wibowo dan Lia Kristina Sunardi yang merayakan 19 tahun perkawinan, C.H. Mujiyati (Y.B. Mulyana) sebagai sesepuh lingkungan, dan Dionisius Rizky Pramusinto dari Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan St. Matias.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *