Ketika Tanah Berubah, Gereja Dipanggil untuk Bertumbuh (3)

HPS 2026 Santo Petrus Warak: Merawat Pangan, Merawat Rumah Bersama, dan Meneruskan Kehidupan

Jendela67 Views

Jika dibaca melalui spiritualitas Santo Ignatius Loyola, rangkaian Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 dapat dipahami sebagai proses perjalanan rohani yang bergerak dari pengalaman konkret menuju tindakan nyata.

Dalam tradisi Ignasian, manusia diajak menemukan Allah dalam segala sesuatu. Pengalaman sehari-hari bukan sesuatu yang terpisah dari iman. Justru melalui pengalaman konkret, manusia dapat mengenali gerak kehidupan, membaca kegelisahan, membedakan dorongan yang membangun dan yang merusak, kemudian mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Cara pandang ini dekat dengan semangat discernment, yaitu pembedaan roh atau proses reflektif untuk mengenali arah tindakan yang membawa manusia semakin dekat kepada kebaikan.

Kegelisahan terhadap berkurangnya lahan pertanian merupakan pengalaman awal. Kegelisahan itu kemudian tidak dibiarkan menjadi kecemasan atau nostalgia, tetapi diolah menjadi pertanyaan bersama: apa yang dapat dilakukan Gereja dan umat dalam menghadapi perubahan tersebut?

Jawabannya tidak tunggal. Ada pelatihan UMKM, budidaya tanaman, pengelolaan sampah, pemberkatan alat usaha, bazar, lomba memasak, dan solidaritas kepada lembaga sosial. Masing-masing merupakan tindakan kecil yang mencoba menjawab sisi berbeda dari persoalan kehidupan.

Dalam kerangka Ignasian, tindakan tersebut penting karena refleksi iman harus memiliki konsekuensi dalam kehidupan. Doa dan Ekaristi tidak dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari kenyataan, tetapi justru membentuk kepekaan agar manusia mampu hadir lebih dekat dengan persoalan sesamanya.

Dengan demikian, HPS menjadi semacam latihan rohani bersama: belajar melihat tanah bukan semata-mata sebagai aset, usaha bukan sekadar pengejaran keuntungan, sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, dan sesama bukan sekadar orang lain yang kebutuhannya berada di luar kehidupan kita.

Gereja yang hadir di tengah perubahan zaman

Dalam Evangelii Gaudium, khususnya nomor 176–178, Paus Fransiskus menegaskan bahwa pewartaan Injil mempunyai dimensi sosial. Iman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama dan keterlibatan terhadap sesama.

Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang bergerak keluar, bukan hanya sibuk mempertahankan aktivitas internalnya. Gereja perlu mendengarkan kenyataan, mengenali persoalan masyarakat, dan menghadirkan kabar gembira melalui tindakan yang dapat dirasakan.

Semangat ini juga sejalan dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016–2035 edisi penyelarasan 2024. RIKAS mengarahkan perjalanan pastoral Gereja untuk mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang semakin sejahtera, bermartabat, dan beriman. Dokumen tersebut juga menempatkan semangat sinodalitas, yakni berjalan bersama, sebagai bagian penting dalam membangun Gereja yang tanggap zaman.

HPS Santo Petrus Warak memperlihatkan bagaimana arah pastoral tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan komunitas. Gereja tidak hanya berbicara tentang kepedulian lingkungan melalui mimbar, tetapi membuka ruang belajar dan tindakan bersama.

Namun, rangkaian kegiatan ini juga menyisakan pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan. Apakah pengetahuan budidaya tanaman akan terus dipraktikkan setelah pelatihan selesai? Apakah UMKM yang telah mengikuti pelatihan memperoleh pendampingan berkelanjutan? Apakah pengelolaan sampah menjadi kebiasaan komunitas? Apakah kesadaran mengenai perubahan penggunaan lahan dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih luas di antara umat dan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena perubahan sosial tidak dapat diselesaikan melalui satu perayaan atau satu rangkaian kegiatan. Ia membutuhkan proses, konsistensi, evaluasi, dan keterlibatan berbagai pihak.

Gereja juga perlu terus mengembangkan keberanian untuk membaca data dan kenyataan sosial. Perubahan lahan, kondisi ekonomi keluarga, perkembangan usaha kecil, kebiasaan konsumsi, serta keterlibatan generasi muda dapat menjadi bahan refleksi pastoral yang lebih terarah. Dengan demikian, keprihatinan tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang membantu komunitas mengambil keputusan.

Menanam hari ini untuk kehidupan yang diteruskan

Pada akhirnya, tema “Tanah yang Dihidupkan, Kehidupan yang Diteruskan” mengandung sebuah pesan lintas generasi.

Tanah tidak pernah benar-benar menjadi milik satu generasi saja. Apa yang kita gunakan hari ini akan memengaruhi kehidupan mereka yang datang kemudian. Generasi sekarang menerima bumi dengan segala kekayaan dan keterbatasannya, sekaligus memikul tanggung jawab untuk tidak mewariskan kerusakan sebagai beban bagi generasi berikutnya.

Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi merupakan rumah bersama yang harus dirawat. Manusia bukan penguasa mutlak yang bebas menggunakan alam tanpa batas, melainkan bagian dari ciptaan yang mempunyai tanggung jawab moral terhadap kehidupan.

Dalam perspektif tersebut, merawat tanah berarti merawat hubungan. Merawat pangan berarti menghargai mereka yang menanam dan mengolahnya. Memperkuat UMKM berarti membantu keluarga mempertahankan martabat hidupnya. Mengelola sampah berarti mengubah kebiasaan konsumsi. Berbagi kepada panti asuhan berarti mengakui bahwa kehidupan bersama tidak boleh meninggalkan mereka yang membutuhkan perhatian.

HPS 2026 di Santo Petrus Warak mungkin tidak dapat menghentikan seluruh perubahan yang sedang berlangsung. Ia juga tidak serta-merta mengembalikan lahan pertanian yang telah berubah fungsi. Namun, perayaan ini menawarkan sesuatu yang tidak kalah penting: kesempatan bagi masyarakat untuk menyadari bahwa mereka masih mempunyai pilihan dan kemampuan untuk merawat kehidupan.

Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat sebuah wilayah berkembang, berapa banyak bangunan didirikan, atau seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan. Masa depan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga sumber kehidupannya, membangun solidaritas, dan mewariskan kebudayaan yang menghargai alam serta martabat manusia.

Barangkali, di tengah perubahan wajah Warak, pertanyaan paling penting bukan lagi sekadar berapa banyak tanah yang masih dapat ditanami. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah kita masih mempunyai kemauan untuk menanam, merawat, dan meneruskan kehidupan?

Sebab, tanah yang dihidupkan bukan hanya tanah yang kembali menghasilkan tanaman. Ia juga merupakan tanah yang menghadirkan harapan, menumbuhkan solidaritas, menghidupi keluarga, dan membuka kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk bertumbuh.

Di situlah Gereja menemukan panggilannya: bukan sekadar merayakan kehidupan, melainkan ikut merawatnya.

Tanah yang dihidupkan adalah kehidupan yang diperjuangkan. Kehidupan yang diperjuangkan hari ini adalah warisan bagi mereka yang akan datang.

Hans Salvatore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *