Media Sosial, Wadah Pengembangan Iman

Jendela757 Views

Zaman yang kini berkembang adalah zaman yang serba-serbi dengan teknologi modern. Semua hidup dalam dunia digital yang kini telah menguasai keberlangsungan seluruh hidup manusia.

Arus teknologi telah memberikan keuntungan dan kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Perlahan-lahan transisi perubahan zaman makin nyata dan menunjukkan dampak yang sangat konkret. Contoh konkret dari kemudahan teknologi adalah sebuah kemampuan menemukan jawaban atas pertanyaan yang terpikirkan oleh masyarakat.

Masyarakat tidak bisa lepas dari kehidupan digital yang saat ini disuguhkan. Sederet informasi dan semacamnya kini ditawarkan dalam berbagai macam pilihan yang menarik. Manusia kini dapat dikatakan sebagai homo digitalis. Homo sapiens adalah cikal bakal terbentuknya homo digitalis.

Kemampuan manusia untuk menciptakan zaman adalah sesuatu yang telah terjadi pada zaman ini. Kecerdasan manusia dan kebijaksanaan yang tertanam dalam status homo sapiens kini diwujudkan dalam tindakan konkret untuk berani menciptakan penemuan, yakni gawai.

Kini, semua informasi lebih mudah didapatkan dengan sebuah teknologi seperti gawai. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh sebuah informasi.

Kini, dengan berbekal sebuah gawai, semua mampu bertahan hidup. Data yang ditampilkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sebanyak 67,29% penduduk di Indonesia pada tahun 2023 merupakan pengguna gawai.

Teknologi kini menciptakan segala kemungkinan-kemungkinan yang ada di benak manusia. Contohnya sebuah komunikasi jarak jauh, transportasi, hingga ke titik kebutuhan primer seperti makanan. Kehebatan teknologi nyatanya memberi pengaruh pada psikis dan karakter setiap manusia. Contohnya sikap interaksi yang dilakukan masyarakat kini dimampukan lewat dunia maya.

Kebutuhan hidup kini telah semakin dipermudah dengan adanya gawai yang berkembang pesat di seluruh dunia. Semua kebutuhan mampu ditangani hanya dengan alat elektronik dan bantuan internet sebagai jaringan pengakses ke seluruh dunia. Terciptanya jaringan internet juga meningkatkan keinginan dan kebutuhan hidup manusia. Gaya hidup juga ikut terbawa karena kemajuan teknologi dan akses internet yang sangat mudah dijangkau oleh setiap manusia.

Titik awal dunia digital

Seperti yang telah diketahui, dunia pernah digemparkan dengan melandanya COVID-19. Semua berubah. Tak ada satu pun yang berani menginjakkan kaki keluar rumah selain para petugas kesehatan yang siap-tidak siap menghadapi realitas pahit ini. Interaksi antarmuka secara langsung tak lagi diminimalkan, melainkan dikekang oleh situasi yang merugikan banyak pihak.

Sisi buruk yang telah dialami tentunya tidak memperburuk status perkembangan teknologi. Justru, masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat menguntungkan pihak teknologi untuk menawarkan berbagai macam fasilitas yang menjadikan internet sebagai pengakses utamanya. Lambat laun transisi teknologi makin nyata dan diterima oleh masyarakat.

Seluruh dunia dan segala aktivitas pada masa itu menjadi terhambat dan perlu pembenahan lebih lanjut. Teknologi hadir sebagai sosok “pahlawan” bagi masyarakat. Semua lapisan masyarakat berbondong-bondong mengalihkan segala aktivitas tatap muka menjadi digital.

Sekolah dan dunia pendidikan kini memanfaatkan teknologi seperti gawai dan laptop untuk tetap melangsungkan kegiatan pembelajaran meski dalam keterbatasan. Artinya, masa-masa pandemi ini mewujudkan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin dengan adanya teknologi.

Keterpurukan telah dialami oleh berbagai macam sisi masyarakat, terkhusus dalam kehidupan rohani masyarakat. Agama adalah suatu tanda pengenal atau identitas masyarakat yang menganut sebuah kepercayaan kepada mereka yang menciptakan dunia. Agama dalam skala masyarakat menjadi sebuah instrumen yang penting supaya masyarakat tidak hanya hidup berdasarkan logika, tetapi iman akan Tuhan yang mereka percayai.

Katolik yang menjadi salah satu agama di Indonesia turut merasakan titik kejatuhan COVID-19 yang menyebar. Kejatuhan itu mengakibatkan segala dinamika yang harusnya dilaksanakan secara tatap muka, kini telah dialihkan ke dalam dunia digital. Contoh sederhana adalah Perayaan Ekaristi tidak lagi hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi kini bisa dilakukan melalui live streaming lewat berbagai platform, seperti YouTube.

Masalah kritis Gereja

Keterpurukan dunia mampu memengaruhi pertumbuhan iman bagi generasi-generasi berikutnya, tiada lain adalah para remaja. Saat ini remaja Katolik di Indonesia pada usia 15 – 29 tahun sekitar 552.770 ribu jiwa, bahkan terus-menerus mengalami peningkatan. Namun, titik permasalahannya tak berakhir pada jumlah remaja yang menganut agama Katolik. Justru, yang menjadi pusat perhatian adalah keaktifan para remaja dalam kegiatan Gereja.

Seperti yang sudah kita ketahui, remaja merupakan wujud konkret dari pertumbuhan manusia. Sebelum dikatakan dewasa secara matang, manusia akan mengalami fase remaja dalam kehidupannya. Fase remaja dapat dikatakan sebagai fase transisi manusia dari kanak-kanak menuju dewasa.

Tahap ini yang akan menimbulkan banyak pertimbangan dari seorang remaja. Ketidaksiapan dan belum matangnya psikis dan fisik remaja membuat mereka sulit menentukan setiap pilihan yang ditawarkan kepada mereka.

Kesulitan makin dirasakan di kala keadaan labil yang merupakan bagian dari pertumbuhan para remaja. Ketakutan yang sebenarnya ingin diungkapkan adalah para remaja yang kelak lambat laun akan meninggalkan Gereja. Alasannya sederhana, yakni sebuah pilihan kenikmatan teknologi yang lebih menggiurkan daripada kehidupan rohani yang monoton dan “sakral”.

Mereka adalah penerus Gereja di masa kini dan masa yang akan datang. Remaja mempunyai peran penting untuk memelihara, membangun, dan menyebarkan iman Katolik dalam keadaan digitalisasi yang semakin masif di tangan mereka. Remaja adalah harapan besar bagi Gereja untuk menciptakan Gereja-Gereja lain tanpa terhalang waktu dan zaman yang terus berkembang dan berubah.

Remaja adalah bagian dari konsumen teknologi yang saat ini tampak dan menguasai dunia. Riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia dan Pusat Kajian Univeritas Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna internet adalah remaja. Bahkan, riset Kominfo dan UNICEF menegaskan bahwa setidaknya ada 30 juta anak dan remaja di Indonesia yang menjadi pengguna dan pengakses internet.

Keterkaitan remaja dan teknologi

Remaja ingin menunjukkan pesona dirinya sebagai salah satu bagian dari dampak hormon yang mereka alami. Mereka ingin diakui ke dalam lingkungan sosial yang telah tercipta dan tumbuh. Personal branding hadir sebagai cara manusia memahami situasi yang remaja alami saat ini.

Remaja menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menunjukkan eksistensinya di dunia maya melalui sebuah gawai yang terhubung dengan jaringan internet. Teknologi adalah sarana yang tepat saat ini untuk menunjang eksistensi mereka.

Aktivitas media sosial menjadi bukti yang sangat konkret bahwa remaja hidup dengan hal itu. Tujuan utama dari sebuah eksistensi remaja didasari dari gerakan hormon dalam diri mereka sebagai manusia. Afeksi adalah yang dipakai untuk menunjukkan salah satu kebutuhan manusia, terkhusus remaja. Mereka mencari segala- galanya demi pemenuhan afeksi yang terus bergejolak.

Seiring berkembangnya teknologi pada masa-masa ini, masyarakat makin tidak menyadari antara orisinalitas dan artifisialitas kehidupan mereka satu sama lain. Mereka terjebak dalam situasi yang ada (being) dan tampak (seeming). Kini yang menjadi keprihatinan adalah manusia yang dijadikan sarana oleh media digital, bukan sebaliknya.

Homo digitalis mengalami kemerosotan menjadi homo brutalis. Sikap manusia kini tak terkendali karena adanya keinginan yang selalu dan perlu dilampiaskan. Tuntutan ini menjadikan dirinya terus bergelut dengan dunia maya dan piranti-pirantinya. Remaja pun mengalami arus yang sama, yakni tak dapat menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan mereka.

Melangkah dari kekurangan

Semua pasti mengetahui teknologi akan memengaruhi sikap remaja yang mengalami kelekatan dengan gawai yang terakses oleh internet. Akan tetapi, kita juga perlu melihat kekurangan ini sebagai kesempatan untuk menyebarkan iman bagi para remaja Katolik. Teknologi memberikan peluang emas bagi Gereja untuk bisa memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk mengenal Kristus.

Semua sepakat bahwa teknologi tentu tak lepas dari sebuah kekurangan. Akan tetapi di lain sisi, teknologi merupakan sarana perubahan zaman yang terus berkembang. Teknologi menjadi sesuatu yang menunjang segala keterbatasan kemampuan manusia. Kini Gereja turut menyesuaikan perkembangan yang telah ada saat ini. Gereja perlu keberanian untuk keluar dari zona yang telah tertinggal dan kemapuan untuk membuka diri dengan hal-hal baru yang terjadi pada dunia.

Personal branding dapat dilakukan oleh berbagai macam lembaga Gereja yang dibangun lewat platforms yang lazim di mata para remaja, seperti Instagram. Seperti yang sudah disampaikan, remaja adalah masa-masa menunjukkan eksistensinya di masyarakat. Hal ini mampu diterapkan pula oleh Gereja dengan memberikan pembinaan iman lewat media-media teknologi yang saat ini digenggam oleh para remaja.

Personal branding merupakan cara setiap individu untuk mempromosikan diri mereka di mata masyarakat. Gereja perlu ikut berkontribusi lewat teknologi yang masif bagi para remaja. Gereja kini dapat memberikan pembekalan iman dengan media sosial seperti Instagram atau semacamnya.

Gereja mampu menjadikan teknologi sebagai wadah untuk sarana pewartaan karya Allah lewat unggahan-unggahan konten di berbagai media sosial saat ini. Gereja harus mampu menjadikan kelekatan remaja pada teknologi sebagai potensi untuk pembekalan iman bagi para remaja Katolik saat ini dan di masa mendatang.

Cara yang dilakukan sederhana, seperti membuat video-video pendek mengenai cerita Alkitab. Gereja juga mampu mengemas sebuah makna dari Alkitab ataupun kisah para rasul dan nabi dengan membuat rangkaian unggahan di Instagram dan memberi sebuah stimulus dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait kisah-kisah Alkitab. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan adanya gawai dan media sosial sebagai sarana interaksi antarsesama.

Matheus Igosamon Cahyadi (Seminaris Tingkat Empat Seminari Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *