“Ketika saya berada di lorong gelap yang sempit dan gelap, selalu ada cahaya yang menyinari supaya saya bisa terus melangkah ke depan” (Maria Sumarsih, ibu alm. Wawan, korban tragedi Trisakti ‘98).
Beberapa waktu terakhir, saya berlatih menyetir mobil. Memang terlambat saya belajarnya. Koordinasi mata, tangan, dan kaki saya tidak lagi baik. Bila naik sepeda atau sepeda motor dan hendak berbelok cukup mudah.
Namun, menyetir mobil harus memperhatikan kanan dan kiri serta ruang. Beberapa kali saya terlambat memutar kemudi. Akibatnya, mobil hampir menabrak kendaraan yang sedang parkir atau tiang listrik.
Saya menyadari pekerjaan seorang supir itu tak mudah. Tanggung jawabnya besar. Jam kerjanya panjang. Apalagi kalau mereka mengemudikan bus lintas provinsi.
Hidup ini jika direnungkan seperti berlatih menyetir. Misalnya saja mengenai jalur. Setiap kendaraan sudah mempunyai jalannya masing-masing. Ada yang berjalan lambat, ada pula yang cepat. Begitu pula hidup manusia. Masing-masing orang memiliki lajur hidupnya. Tak perlu risau bila sesama kita sepertinya melaju lebih cepat. Karena nasib orang tidaklah sama.
Lantaran baru mengemudi, saya memegang setir mobil erat-erat. Pelatih mengatakan, “Rileks saja, jangan terlalu tegang. Kemudi itu akan kembali lagi ke tempatnya kok.”
Hidup ini tak perlu dijalani dengan penuh ketegangan. Tak semua keadaan gawat darurat. Ada saatnya kita bersantai, menikmati alunan musik, sembari berbincang bersama teman. Tak perlu terlalu ketat memegang “kemudi” hidup kita. Seperti kata pelatih, kemudi itu akan kembali ke tempatnya lagi. Kita pun kelak pulang ke naungan kasih Sang Pencipta.
Sering kali saya terkesima dengan bangunan yang saya lewati atau kendaraan yang melintas di kanan dan kiri saya. Hal itu merusak konsentrasi saya. Sama halnya bila kita asyik membicarakan hidup orang lain, kita jadi lupa memperhatikan langkah hidup kita sendiri. Alhasil, kita bisa tersandung.
Sesuatu yang kelihatannya bagus tak selalu indah seperti pepatah “not all glitters are gold” (Tidak semua yang berkilau itu emas). Kehidupan orang lain yang gemerlap tak selalu membahagiakan. Sebaliknya, orang yang kita pandang bernasib kurang baik ternyata lebih bahagia.
Saya kerap memandang kaca spion. Kaca spion itu seperti masa lalu. Sementara horizon masa depan terbentang luas. Manusia sering mengingat memori masa lalu. Akibatnya, langkah menuju masa depan terhalang. Ada sebuah film kartun yang mengatakan, “No matter how painful your life is, keep moving forward” (Betapapun terlukanya hidupmu, melangkah majulah).
Sesekali bolehlah kita memandang masa lalu sebagai pengingat diri. Namun, jangan lupa untuk menikmati kehidupan kita sekarang. Memang enak berjalan di jalan raya yang lapang dan luas. Namun, kemudahan itu tak meningkatkan kemampuan menyetir saya. Saya ditempa dengan melintasi jalan kecil dan berkelok-kelok, belokan tajam, dan jalan yang menanjak dan menurun.
Kenyamanan tidak mendewasakan seseorang. Justru lewat pengalaman pahit dan kegagalan, manusia bisa bertumbuh. Terkadang pelatih menegur dan mengingatkan saya bahwa arah kemudi saya tidak lurus. Tuhan pun demikian. Bila kehidupan saya melenceng, Ia menegur lewat orang lain. Ia meluruskan kembali haluan hidup manusia.
Saya percaya diri mengemudikan mobil karena ada pelatih yang mendampingi saya. Manusia berani menjalani kehidupan yang berat dan sulit karena percaya penyertaan Tuhan. Ia membukakan mata dan hati kita lewat pengalaman keseharian.














