“Aku, kamu, dan mereka, satu Rahim Indonesia, asal kita memang berbeda tapi tetap saudara. Satu nusa satu bangsa itulah kita, berbeda–beda tetapi tetap satu jua. Beragam dan tetap damai, itulah kita temui dalam keberagaman.”
Sepenggal lagu berjudul Harmoni Keberagaman karya Fahmy Arsyad Said ini menggambarkan Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keberagaman agama, suku, dan bahasa.
Keragaman ini menjadi salah satu ciri khas yang membentuk identitas bangsa dan menciptakan tantangan serta peluang untuk hidup berdampingan secara damai dalam keragaman. Meski memiliki perbedaan, tetapi tetap satu, satu nusa dan satu bangsa.
Indonesia secara resmi mengakui enam agama yang dapat tercatat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan diakui oleh negara. Adapun agama yang ada di Indonesia adalah Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Selain enam agama besar yang diakui secara resmi oleh negara, Indonesia juga memiliki berbagai kepercayaan lokal dan agama tradisional yang banyak dianut oleh kelompok masyarakat di daerah-daerah tertentu.
Love without limits
Love without limits adalah konsep yang mengandung makna tentang cinta yang tidak mengenal hambatan, batasan, atau syarat. Dalam konteks ini, cinta dianggap sebagai suatu yang murni, tulus, dan tanpa pamrih serta tidak terbatas oleh ruang, waktu, ras, agama, dan status sosial.
Cinta tanpa batas dalam konteks religius diartikan sebagai cinta Tuhan yang tidak terhingga. Tuhan mencintai semua umat-Nya tanpa batas dan menerima kembali hambanya yang tersesat.
Saya mengangkat tentang kekuatan cinta karena saya mengalaminya dalam kehidupan saya. Saya lahir ke dunia ini karena cinta Tuhan yang begitu besar dalam kehidupan saya.
Satu hal yang saya syukuri, saya telah ditangkap Tuhan menjadi seorang biarawati, Itu semua karena cinta Tuhan. Saya menanggapi panggilan Tuhan dengan mempersembahkan diri saya untuk mengabdi kepada-Nya lewat kongregasi yang telah saya pilih.

Perbedaan adalah kekayaan
Kamis, 1 Agustus 2024, pertama kali saya menghirup udara sejuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi saksi bisu kedatangan saya.
Selama perjalanan dua jam dari Medan ke Yogyakarta, saya menikmati pemandangan yang sangat indah. Sikap optimis dan penasaran menghantui pikiran, karena ini adalah momen pertama kali saya menginjakkan kaki di Yogyakarta.
Yogyakarta adalah tempat perutusan saya saat ini untuk menimba ilmu di salah satu universitas yang cukup familier di Indonesia, yaitu Universitas Sanata Dharma (USD). Tentunya, perutusan studi ini adalah pengalaman baru jika dibandingkan dari perutusan sebelumnya. Selama ini saya menghabiskan waktu di tempat karya.
Salah satu ciri khas USD adalah keberagaman agama. Meskipun dikelola oleh Yayasan Sanata Dharma yang berbasis pada ajaran Katolik, USD memiliki komitmen untuk menerima mahasiswa dari berbagai agama dan latar belakang yang berbeda.
Universitas ini menekankan nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan keberagaman dalam pendidikan. Oleh karena itu, mahasiswa yang berasal dari agama yang berbeda seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Protestan dapat belajar bersama di lingkungan yang saling menghargai perbedaan.
Ini juga mencerminkan upaya universitas untuk mendidik generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki rasa toleransi dan pengertian terhadap perbedaan keyakinan dan budaya.
Salah satu dosen kami yang mengampu mata kuliah Pendidikan Agama memberikan tugas untuk mempresentasikan agama-agama yang ada di Indonesia. Tentu ini menjadi pengalaman yang menarik. Pengetahuan saya makin bertambah dengan mempelajari agama lain.
Dari berbagai agama yang dipresentasikan setiap kelompok, ternyata agama yang ada di Indonesia ini memiliki keunikan dan ciri khas yang berbeda. Perbedaan agama dapat dilihat dari berbagai aspek, termasuk keyakinan, simbol agama, pandangan tentang moralitas dan etika dan ajaran praktik ibadah. Perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kekayaan dan harta yang berharga yang harus dijaga dan dirawat.
Toleransi dalam dunia global
Saya merasa begitu terinspirasi dan bersemangat pada suatu pengalaman yang sungguh memberi saya perspektif baru yang luar biasa. Pengalaman ini berawal ketika saya bersama satu angkatan prodi (program studi) mengadakan perjalanan lintas agama.
Pengalaman yang menarik bagi saya ialah saat mengunjungi Fuk Ling Miau Temple, Klenteng Yogyakarta. Agama Konghucu sangat berbeda dengan agama-agama monoteistik maupun agama-agama lainnya dalam pendekatan terhadap Tuhan, kehidupan setelah kematian, serta fokus pada ajaran yang lebih mengarah pada etika sosial dan harmoni hidup bersama. Sementara agama monoteistik dan agama-agama India seperti Hindu dan Buddha memiliki fokus pada kehidupan spiritual.
Agama Hindu memiliki banyak dewa dan dewi (politeisme), tetapi juga percaya pada satu Tuhan tertinggi yang disebut Brahman yang melampaui segala bentuk dewa-dewi. Ada satu kalimat yang sangat menarik bagi saya, yang diucapkan oleh salah satu petugas di sana, “Jika agama tidak menghidupi spiritualitas, akan goyah.” Kalimat sederhana tetapi memberi tamparan keras.
Perjalanan dialog agama ini tidak berhenti di sini, kami masih melanjutkan perjalanan ke pesantren. Dalam momen dialog ini, kami sangat antusias mendengarkan narasumber yang hadir bersama kami. Yang menarik, agama Islam juga mengajarkan nilai-nilai moral dan etika serta menghormati agama-agama lain.
Saya makin mencintai negara saya. Saya sangat berharap kekayaan yang ada di Indonesia ini tetap dipertahankan dan dilestarikan. Saya sangat berharap bahwa rakyat Indonesia saling menghargai dan menghormati.
Di tengah zaman digital ini, sangat penting untuk membangun toleransi agama. Terutama bagi kaum muda. Perkembangan dunia digital membawa dampak yang luas dan mendalam, baik positif maupun negatif.
Untuk memanfaatkan potensi penuh dari dunia digital, dibutuhkan adaptasi dari individu, masyarakat, dan pemerintah, serta kebijakan yang mendukung transformasi digital yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Kaum muda memegang peranan penting sebagai generasi bangsa yang akan menentukan arah perkembangan masa depan suatu negara. Sebagai kelompok yang penuh potensi, mereka memiliki energi, ide-ide segar, dan inovasi yang diperlukan untuk memajukan bangsa.
Dalam keberagaman agama kita temui pelbagai warna yang melukis kehidupan. Setiap keyakinan, meskipun berbeda, sejatinya adalah aliran yang menuju tujuan yang sama: kedamaian dan cinta kasih.
Biarlah perbedaan ini menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan. Mari kita hargai setiap agama sebagai cermin bagi jiwa, tempat kita belajar untuk saling memahami dan menghormati.
Sr. Febyola Silaban KSFL (Mahasiswi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma)














