Haruskah Budaya Lokal Jadi Tumbal Pembangunan?

Jendela894 Views

Pembangunan merupakan suatu hal yang tidak asing di telinga kita. Dalam segala aspek kehidupan, kita selalu berhadapan dengan pembangunan. Pembangunan menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dalam berbagai realitas hidup umat manusia dewasa ini.

Hemat saya, pembangunan telah menjelma menjadi seperti hamparan lautan luas tanpa batas. Semua ranah kehidupan manusia telah dijamah oleh pembangunan.

Secara definitif pembangunan selalu mengarah pada hal-hal yang positif. Oxford Dictionary of Current English mendefinisikan pembangunan sebagai tahap pertumbuhan atau kemajuan (1988:200).

Berdasarkan pengertian tersebut, pembangunan identik dengan suatu perubahan ke arah yang lebih baik sehingga pembangunan menjadi sebuah keharusan untuk mencapai suatu pertumbuhan atau kemajuan. Hal inilah yang kemudian mendorong banyak pihak atau instansi, terutama pemerintah, untuk melakukan pembangunan.

Perlu diakui, dalam kehadirannya, pembangunan telah menampilkan dualisme dampak yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, pembangunan membawa kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Namun, terlepas dari sisi positifnya, tidak dapat disangkal bahwa pembangunan juga membawa banyak dampak negatif pada berbagai bidang kehidupan.

Salah satu bidang yang turut merasakan dampak negatif dari pembangunan adalah budaya, khususnya budaya lokal. Pembangunan sering kali mengabaikan atau bahkan merusak warisan budaya yang telah ada selama berabad-abad.

Karena itu, melalui tulisan ini, saya akan mengkaji beberapa miskonsepsi dalam pembangunan yang membahayakan eksistensi budaya lokal. Kemudian, saya juga akan menawarkan beberapa langkah solutif untuk meluruskan berbagai miskonsepsi yang ada.

Mengorbankan budaya lokal

Kehadiran pembangunan dalam sejarah kehidupan manusia telah membawa banyak perubahan. Sayangnya, perubahan itu tidak selamanya berbau positif. Dalam kaitannya dengan budaya lokal, pembangunan sering kali mengharuskan adanya pengorbanan dengan mengabaikan budaya lokal demi tercapainya suatu kemajuan atau perubahan.

Sebagai contoh, pembangunan megaproyek yang saat ini dilaksanakan di Labuan Bajo yang mengancam eksistensi penduduk lokal dan membuat mereka terasing di kampung halaman sendiri (Syahadat dan Putra, 2020:52).

Ketika eksistensi masyarakat lokal sudah terancam dan merasa terasing dari kampung halamannya, maka di saat yang sama budaya lokalnya juga akan terancam. Sebab, budaya lokal sangat terikat dengan masyarakat yang menghidupinya.

Pengabaian terhadap budaya lokal sebenarnya tidak perlu tejadi apabila para pemangku kebijakan itu sendiri menghindarkan pembangunan dari beberapa miskonsepsi atau pandangan yang keliru. Sekurang-kurangnya terdapat tiga miskonsepsi utama yang membuat pembangunan menjadi gelombang berbahaya terhadap eksistensi budaya lokal.

Pertama, budaya dianggap sebagai penghalang. Dalam banyak praktik, pembangunan sering kali menilai budaya lokal sebagai penghalang pembangunan. Hal ini terjadi apabila budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat bertentangan dengan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan.

Dalam pembangunan, kebudayaan lokal sering diabaikan sama sekali oleh para perencana pembangunan atau dianggap sebagai “kendala” (Gardner dan Lewis, 2005:23). Pengabaian inilah yang kemudian membuat pembangunan menutup mata terhadap keberadaan budaya lokal di suatu wilayah pembangunan.

Kedua, pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Paradigma pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi hanya akan berfokus pada pendapatan ekonomi semata sehingga dalam pembangunan semacam ini akan ada banyak aspek yang tidak dipertimbangan. Salah satunya adalah budaya lokal.

Penekanan terhadap pertumbuhan ekonomi membuat prioritas pembangunan beralih dari masyarakat kepada profit ekonomi (Gesing, 2023:990). Sebuah pembangunan tidak akan dipermasalahkan selama pembangunan itu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Miskonsepsi yang terakhir (ketiga) adalah strategi pembangunan dari atas ke bawah. Dalam strategi pembangunan ini, keputusan dan kebijakan pembangunan sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah atau otoritas yang statusnya lebih tinggi. Strategi seperti ini membuat masyarakat sulit terlibat aktif dan mengambil bagian di dalam suatu pembangunan.

Kedua pakar antropologi sosial, Katy Gardner dan David Lewis (2005:94), menegaskan bahwa masyarakat sering kali terhalang untuk memainkan peran aktif dalam pembangunan karena pembangunan itu dikerjakan dalam kode-kode budaya serta bahasa yang asing bagi mereka. Sebab, berbagai rencana dan kaidah pembangunan yang digunakan sepenuhnya ditetapkan dari atas dan tidak sesuai dengan budaya lokal yang dihidupi oleh masyarakat.

Fatalnya, pihak-pihak yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan pembangunan belum atau bahkan tidak secara penuh memahami realitas yang ada di lapangan. Apabila kaidah pembangunan yang telah ditetapkan dari atas tidak selaras dengan realitas masyarakat dalam hal ini budaya lokal, maka budaya lokal itu yang akan menjadi tumbal.

Melihat ketiga permasalahan di atas, saya menawarkan beberapa butir langkah solutif yang kiranya bisa diaplikasikan dalam pembangunan kita. Langkah solutif ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai miskonsepsi dalam pembangunan, terutama yang mengancam eksistensi budaya lokal.

Ketiga solusi tersebut adalah mengintegrasikan budaya lokal dalam pembangunan, memberi ruang bagi masyarakat lokal, dan mengenali budaya masyarakat setempat.

Pertama, mengintegrasikan budaya lokal dalam pembangunan. Budaya lokal merupakan hasil dari refleksi panjang atas realitas kehidupan yang dialami oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.

Van Peursen sebagaimana dikutip oleh Paul Renwarin melihat tiga tahap perkembangan kebudayaan, yakni tahap mitis, ontologis, dan fungsional (Renwarin, 2020:5-6). Pada tahap yang terakhir, yaitu tahap fungsional, dijelaskan bahwa kebudayaan merupakan cara seorang mengekspresikan diri serta mencari relasi yang tepat dengan dunia sekitarnya.

Hal yang perlu digarisbawahi dari penjelasan tersebut adalah kebudayaan sebagai cara manusia menemukan relasi yang tepat terhadap lingkungan sekitarnya. Budaya lokal merupakan bukti pengenalan masyarakat akan lingkungan hidup mereka sehingga budaya lokal perlu diintegrasikan dalam pembangunan.

Kedua, memberi ruang bagi masyarakat setempat. Tujuan utama dari pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Masyarakat menjadi subjek sekaligus objek pembangunan (Nanto, 2020:73).

Sebagai subjek, masyarakat memiliki andil yang besar untuk terlibat aktif dalam pembangunan. Oleh karena itu, sebuah pembangunan mesti memberikan ruang sebesar-besarnya bagi keterlibatan masyarakat setempat. Dengan pengetahuan lokalnya, mereka mampu mendongkrak keberhasilan suatu pembangunan.

Ketiga, mengenali budaya lokal masyarakat setempat. Pengenalan akan budaya lokal masyarakat setempat merupakan hal yang signifikan dalam pembangunan. Hal ini bertujuan agar kaidah pembangunan yang diterapkan tidak berseberangan dengan budaya lokal yang dimiliki masyarakat sehingga pembangunan yang dijalankan tidak membawa kerusakan bagi budaya lokal masyarakat.

Berjalan bersama demi kesejahteraan

Idealnya pembangunan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Pembangunan tidak dapat dikatakan sebagai hal yang menyejahterakan apabila masih ada jiwa-jiwa yang mengalami keresahan dan keterasingan karena kehilangan budaya mereka. Apalah gunanya pembangunan, jika mereka yang sejatinya menjadi tujuan utama dari pembangunan malah menanggung banyak penderitaan.

Maka dari itu, hendaknya berbagai miskonsepsi yang ada dalam pembangunan kita diluruskan kembali. Terutama miskonsepsi pembanguan yang rawan berbenturan dengan eksistensi budaya lokal. Sebagai hasil buah pikir serta aktivitas manusia, pembangunan dan budaya lokal mesti berjalan bersama demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *