Yogyakarta – Setiap individu dilahirkan dalam perbedaan. Justru itu sebuah keunikan yang patut disyukuri. Tetapi, perbedaan sering kali hadir sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bersama. Namun, perbedaan tidak selalu harus berujung pada jarak, apalagi perpecahan. Di sinilah justru di tengah keberagaman, manusia diajak untuk belajar mendengarkan, memahami, dan menemukan ruang perjumpaan.
Sebuah Dialog Perdamaian bertema “Hakikat Perbedaan: Merawat Harmoni dan Mendengarkan Kisah Kerinduan Bangsa” diselenggarakan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bekerja sama dengan Rumi Institute (Kirana Budi Rumi), di Ruang Audiovisual, Kampus II, Gedung St. Thomas Aquinas UAJY, Jumat, 2 Oktober 2026.
Rektor UAJY Dr. G. Sri Nurhartanto, Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Kuswaidi Syafi’ie, dan Direktur Rumi Institute Muh. Nur Jabir hadir menjadi pembicara dalam dialog yang dipandu oleh Pdt. Yane F. Tarigan dari Gereja Batak Karo Protestan (GBKP).
Forum ini selain menjadi ruang untuk berbicara tentang perdamaian tetapi juga mendedikasikan diri menjadi ruang perjumpaan dari berbagai perspektif. Di dalamj forum ini sebuah erbedaan dapat dirawat sebagai kekuatan dalam kehidupan bersama. Nilai-nilai seperti integritas, unggul, inklusif, dan humanis ini sejalan dengan nilai-nilai yang terus dihidupi UAJY.
Wakil Rektor III UAJY, Ir. Yosef Daryanto, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan kegiatan ini mencerminkan nilai-nilai yang dipegang UAJY, yaitu integritas, unggul, inklusif, dan humanis. Menurutnya, kampus UAJY perlu terus menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari beragam latar belakang agar mereka terbiasa hidup berdampingan dan saling memahami.
Yosef Daryanto juga menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan. Kampus juga memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang perjumpaan agar mahasiswa terbiasa berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, keyakinan, dan cara pandang yang berbeda.
“Saya kira kegiatan ini juga bisa menjadi satu aktivitas kami untuk bisa memberikan peran positif, memberikan dampak positif dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Perbedaan dan Ketahanan Bangsa
Dalam perspektif kebangsaan, Dr. G. Sri Nurhartanto mengingatkan pentingnya ketegasan pemerintah dalam menjaga kehidupan bersama. Negara, menurutnya, tidak boleh kehilangan pijakan ketika berhadapan dengan berbagai tekanan maupun kepentingan kelompok yang berusaha memaksakan kehendak.
Ia menilai lemahnya sikap pemerintah dapat berpengaruh terhadap ketahanan bangsa. Karena itu, nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia perlu kembali dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita perlu menanamkan kembali semangat gotong royong, tepo seliro, toleransi, musyawarah mufakat, dan nilai lainnya yang merupakan nilai asli bangsa Indonesia,” ucapnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, bukan sekadar konsep yang berhenti dalam ruang diskusi. Gotong royong, toleransi, dan musyawarah merupakan pengalaman hidup masyarakat Indonesia yang telah lama menjadi modal sosial dalam menjaga kebersamaan.
Di tengah masyarakat yang semakin beragam dan cepat berubah, nilai-nilai itu menjadi penting agar perbedaan tidak mudah berubah menjadi kecurigaan maupun konflik.
Belajar dari Rumi: Menemukan Jalan Melalui Cinta
Perspektif berbeda hadir dari Kuswaidi Syafi’ie dan Muh. Nur Jabir yang mengajak peserta melihat persoalan keberagaman melalui pemikiran Jalaluddin Rumi.
Bagi Rumi, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan manusia untuk saling menjauh. Sebaliknya, manusia perlu menemukan sesuatu yang lebih mendasar yang dapat mempertemukan satu dengan yang lain: cinta.
Kuswaidi dan Muh. Nur Jabir menekankan bahwa ilmu dan agama semestinya menjadi jalan yang mempersatukan manusia, bukan menjadi alat untuk membangun sekat. Ketika agama dan pengetahuan kehilangan cinta, keduanya dapat dengan mudah ditarik ke dalam kepentingan ego dan identitas kelompok.
“Rumi ingin menjelaskan jalan terbaik menuju Tuhan itu adalah dengan cinta, karena cinta itu bisa memeluk semuanya, tapi kalau tanpa cinta biasanya dia melihat kepada egonya sendiri,” jelasnya.
Dalam pandangan tersebut, cinta bukan sekadar perasaan personal. Cinta menjadi cara manusia memandang orang lain secara lebih utuh—menerima keberadaan orang lain, mendengarkan kisahnya, dan memberikan ruang bagi perbedaan.
Dengan demikian, merawat harmoni tidak berarti menghilangkan perbedaan. Harmoni justru lahir ketika manusia mampu hidup bersama tanpa harus menyeragamkan satu sama lain.
Dari Ruang Dialog ke Masyarakat
Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah satunya Ibnul Hafiz, yang mengapresiasi UAJY karena membuka ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan tentang perdamaian dan keberagaman.
Menurutnya, perbedaan seharusnya ditempatkan sebagai kekuatan untuk membangun persatuan, bukan sebagai alasan untuk menciptakan perpecahan.
“Saya kira perbedaan itu menjadi alat untuk pemersatu bukan untuk alat perpecahan. Mungkin cara yang tepat untuk merawat perbedaan itu dimulai dari pemerintah menurut saya. Di samping itu jika pemerintah sudah berjalan, masyarakat-masyarakat di akar rumput harusnya juga menyuarakan itu bersama-sama,” tuturnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa merawat keberagaman bukan hanya tanggung jawab pemerintah ataupun lembaga pendidikan. Perdamaian membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas, termasuk komunitas-komunitas di tingkat akar rumput.
Pada akhirnya, perdamaian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari kesediaan seseorang untuk mendengarkan orang lain, dari keberanian menerima perbedaan, dan dari kemauan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.
Melalui Dialog Perdamaian ini, UAJY dan Rumi Institute mengingatkan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan keberagaman yang harus dirawat bersama. Toleransi, cinta kasih, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan bukan hanya nilai yang dibicarakan, melainkan sikap yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk berjumpa. Dan dari perjumpaan yang dilandasi keterbukaan serta cinta, harmoni dapat tumbuh.







