Sleman. Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTI UAJY) meluncurkan buku Kosong yang Penuh pada Senin, 15 Juni 2026 di Auditorium Kampus III, Gedung St. Bonaventura, Jl. Babarsari, Canturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dr. Ir. Yosephine Suharyanti, S.T., M.T., IPU, dosen Teknik Industri, mengatakan kerangka penyusunan buku ini adalah Mata Kuliah Masyarakat Digital. “Kekurangan kami di masyarakatnya, sedangkan digitalnya kami belajar itu. Maka, mata kuliah ini dikemas secara kolaboratif yang melibatkan praktisi untuk membawa mahasiswa langsung ke masyarakat,” terang Yanti.

Tahun ini, masyarakat (society) yang bekerja sama ada sembilan sekolah, mulai dari tingkat TK sampai SMA. Para mahasiswa yang terjun observasi ke sekolah-sekolah ini menemukan kisah-kisah bernilai dari para siswa maupun guru.
Salah satu narasumber dalam kuliah adalah Yuvensius Sasongko Iswandaru, General Manager PT Pohon Cahaya, sebuah penerbit di Yogyakarta. “Pak Sasongko tertarik dengan aktivitas mahasiswa dan awalnya meminta mereka menuliskan pengalamannya. Karena bagus-bagus, maka diwujudkan dalam buku bunga rampai yang diluncurkan hari ini,” terang Yanti.
Ada 200 penulis yang tergabung dalam buku ini, terdiri dari sekitar 180 mahasiswa, serta para dosen dan guru sekolah yang terlibat dalam kolaborasi pembelajaran dan refleksi mengenai ruang-ruang yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Henricus Yulianto Perdana, ST selaku Ketua Gerakan Cerita Kasih mengungkapkan, penyusunan buku ini adalah satu program Cerita Kasih sebagai produk dari kolaborasi praktik Mata Kuliah Masyarakat Digital beserta Yayasan Dua Belas Cahaya Kasih dengan tim UAJY lainnya.
Tujuannya ialah membantu sekolah mitra Yayasan Dua Belas Cahaya Kasih untuk menemukan value (nilai) dan mempublikasikannya melalui masyarakat digital. “Supaya lebih banyak orang tua dan calon peserta didik merasa penting untuk memutuskan bersekolah di sekolah-sekolah mitra dari jenjang TK sampai SMA,” ujar Henricus.
Sekolah-sekolah tersebut, lanjut Henricus, adalah sumber-sumber calon mahasiswa berprestasi dan berkualitas bagi UAJY. “Mereka juga disiapkan menjadi generasi siap karya bagi Tuhan, bangsa, dan sesama,” tegasnya.

Selanjutnya, Dekan FTI Prof. Dr. Ir. Parama Kartika Dewa SP., S.T., M.T. IPU., Asean Eng mengatakan para dosen membawa mahasiswa mengenal di balik digital ada masyarakat yang harus diperhatikan.
“Rekan-rekan semua di sini menekuni kajian keinsinyuran, yang tentu topiknya adalah mesin-mesin, kalkulus, integral, beserta ‘cacing-cacingnya’, tetapi ternyata bisa berempati, memunculkan bahasa yang keluar dari hati,” tuturnya kagum.
Sementara itu, Rektor UAJY Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, S.H., LL.M mengaku gembira atas terbitnya buku ini, terlebih atas kerja sama yang baik antara FTI, Gerakan Cerita Kasih, Penerbit PT Pohon Cahaya, dan semua pihak yang telah mendukung.
Sepakat dengan Parama, ia melihat para mahasiswa yang terbiasa berkutat dengan angka-angka, kini lebih banyak melihat pada rasa atau perasaan.
“Perasaan yang menjadi hal baik ketika berada di tengah masyarakat. Tentu ini menjadi modal yang sangat bagus bagi para mahasiswa ketika nanti selesai studi dari UAJY, akan berinteraksi dengan masyarakat. Di situlah rasa itu sering kali bermain,” jelas Nurhartanto.
Menurutnya, itu tidak mudah, karena harus ngemong (menjaga) semua pihak. “Tapi tentu berada dalam koridor-koridor nilai-nilai, kepatutan, dan kepantasan yang ada di tengah masyarakat,” tegas Nurhartanto sembari menambahkan, “Kalau kita berpegang pada itu semua, kita akan merasa nyaman, hidup terasa damai, dan tidak punya musuh.”

Kemudian, Sasongko dari pihak penerbit memuji tulisan-tulisan para mahasiswa yang menurutnya hebat. “Pelatihan menulis yang saya berikan sederhana, tapi hasilnya luar biasa,” ungkapnya.
Sasongko menyoroti rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. “Dulu kita senang membaca. Dulu membaca mempunyai kedalaman, tapi sekarang kita mendapat informasi di permukaan saja. Entah benar atau tidak, semua masuk,” lontarnya.
Gerakan literasi yang dilakukan oleh FTI UAJY, meski mungkin kurang berarti, kata Sasongko, tetap memberikan dampak positif.
Buku Kosong yang Penuh setebal 424 halaman ini, nilai Sasongko, adalah prestasi yang luar biasa dan bahasanya indah-indah. Ia pun mencoba menguraikan makna judul buku ini.
“Ketika mahasiswa terjun ke sekolah-sekolah, mereka mungkin melihat kelas yang kosong, tapi penuh dengan karakter, ide-ide kreatif. Ini menjadi alat kami dan siapa pun untuk memotret sekolah-sekolah Katolik yang ada di DIY, terutama sejauh mana perkembangannya,” kata Sasongko.
Pada kesempatan ini, usai pembacaan artikel, penandatanganan dan penyerahan buku, dilanjutkan bedah buku bersama para dosen Prof. Dr. Ir. Ign. Pramana Yuda. M.Si., Ph.D., Prof. Aloysius Gunadi Brata, S.E., M.Si., Ph.D., Ir. Hadi Santono, ST., MT., Ph.D., Drs. Ign. Agus Putranto, M.Si., serta Br. Damasus Agung M. FIC, M.Pd.
Willy Putranta














