Bersama Menimba Rahmat di Jatiningsih

HUT Ke-37 Gua Maria Ratu Perdamaian (GMRP) Sendang Jatiningsih Paroki Klepu

News1365 Views

Sleman. Gua Maria Ratu Perdamaian (GMRP) Sendang Jatiningsih Paroki Klepu di  Jitar Kulon, Sumberarum, Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merayakan hari jadi ke-37 pada Minggu, 10 September 2023.

Digelar dalam Novena VIII dengan tema “Syukur atas Rahmat Persaudaraan Sejati Lintas Iman” dan “Syukur 37 Tahun GMRP Sendang Jatiningsih”, Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Adolfus Suratmo, Pr (Pastor Paroki Klepu sekaligus Ketua PGPM) serta Rm. St. Istoto Raharjo, Pr (imam asal Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu yang berkarya di Paroki St. Kristoforus Banyutemumpang).

Rm. Istoto menuturkan, GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu sungguh membawa berkah bagi banyak orang. “Tempat doa dan ziarah ini juga melibatkan orang-orang zaman dahulu yang memberi hatinya untuk kita. Mereka yang tidak seiman juga ikut mendukung tempat ini menjadi tempat berkat,” ungkapnya.

Lalu, Rm. Istoto menceritakan sejarah Sendang Jatiningsih. Dulu, sendang ini aslinya bernama Sendang Pusung. Kata “pusung” merupakan keratabasa atau bakronim (frasa yang dibentuk untuk mengartikan sebuah kata dengan menganggap kata itu sebagai sebuah akronim) dari “nek ngapusi marai busung”.

Artinya, kalau seseorang berbohong di tempat ini, maka akan kena tulahnya. Bagi Rm. Istoto, ini adalah sebuah falsafah Jawa yang luar biasa. “Maka, kita diajak untuk menjadi pribadi yang terbuka, jujur apa adanya,” tegasnya.

Rm. Istoto berfoto bersama para pemenang Lomba Mewarnai Tingkat Kelas 1 – 3 SD.

Sekitar tahun 1952, beberapa warga Jitar dibaptis menjadi Katolik. Simbah Purwo Widono pun berbaik hati mewakafkan sebagian tempat ini untuk dijadikan sebagai gua Maria yang diberkati oleh Rm. JB Mardi Kartono, SJ pada 8 September 1986.

Rm. Istoto juga menceritakan, dulu di area tersebut ada banyak pohon jati arum. Nama sendang pun diganti menjadi Jatiningsih, jatining rahmat, sumber rahmat yang melimpah. “Dan benar, banyak sekali rahmat yang tumbuh di sini,” ucap Rm. Istoto mengakui.

Menurut catatan, pada 2002, alm. Mgr. Julianus Sunarka, Uskup Purwokerto (2000 – 2016) yang juga berasal dari Paroki Klepu, menemukan sumber air baru di belakang gua yang kemudian dialirkan dengan pipa. “Bapa Uskup Agung Semarang saat itu memberi nama tempat ini Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih,” sebut Rm. Istoto.

Sementara itu, Rm. Ratmo menyatakan bahwa pada tahun lalu Sendang Jatiningsih mendapatkan surat keputusan (SK) penetapan pendirian tempat peziarahan dengan nama Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih.

“Status tempat ini adalah milik paroki. Maka betul, pemiliknya PGPM (Pengurus Gereja dan Papa Miskin-Red.) yang membentuk tim pengelola yang diketuai Pak Putut bersama dengan teman-teman. Mereka dipercayakan untuk mengelola tempat ini dengan pertanggungjawaban kepada PGPM Paroki dan itu sudah terjadi,” jelas Rm. Ratmo.

Setelah SK penetapan turun, pengelolaan GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu kemudian terlihat geliatnya serta berbenah untuk fasilitas kepada peziarah. Gua Maria ini pun tidak punya umat secara teritorial, tetapi umatnya adalah kaum peziarah.

Rm. Ratmo berfoto bersama para pemenang Lomba Mewarnai Tingkat PAUD – TK.

“Belajar bersama untuk mendalami iman dan berdevosi secara rutin di tempat ini adalah cara kita untuk bersama menimba rahmat Allah dalam kebersamaan dengan Bunda Maria yang pasti berdoa untuk kita semua,” tutur Rm. Ratmo di hadapan seluruh umat yang hadir.  

Ia pun mengajak umat untuk terus bersyukur dan berkegiatan di GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu. “Mari kita hidupi iman kita dan kita lanjutkan doa-doa kita di tempat ini sebagai oasis, tempat yang nyaman, teduh, menenangkan, menenteramkan,” gugah Rm. Ratmo.

“Kita pun bersyukur tempat ini akhirnya menjadi tempat yang baik, mudah dijangkau, cukup aman, nyaman, dilindungi secara hukum, dan semoga menjadi fasilitas yang membuat kita semua berani menekuni iman kita dan mencoba menantang keberanian untuk mengikutinya secara sadar,” lanjut Rm. Ratmo memungkasi.

Kemudian, Ds. Putut Hadi Santoso, Ketua Tim Pengelola GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu, memaparkan bahwa acara hari jadi ini tidak selalu identik dengan kemewahan.

“Partisipasi serta kebersamaan dari seluruh umat peziarah dapat memberikan makna yang berbeda pada perayaan hari jadi tahun ini. Semoga acara ini tidak hanya dimaknai sebagai suatu perayaan, tetapi dapat memotivasi kita semua, umat peziarah, untuk merasa andarbeni (memiliki) demi memajukan tempat ziarah, terutama GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu,” harap Putut.

Putut berfoto bersama para pemenang Lomba Menggambar Tingkat SD Kelas 4 – 6.

Pria yang gemar mengenakan blangkon ini menjelaskan, rangkaian acara hari jadi GMRP Sendang Jatiningsih tahun ini dibagi menjadi tiga bentuk kegiatan. Pertama, kegiatan dalam bentuk aksi berupa lomba-lomba yang diikuti anak-anak PAUD sampai siswa SMP.

Tujuan lomba adalah menanamkan spiritualitas Bunda Maria Ratu Perdamaian dan mengenalkan tempat ziarah GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu kepada anak-anak sejak usia dini.

Para pemenang Lomba Cerdas Cermat Alkitab Tingkat SMP.

Aksi lain yakni berziarah ke makam para pendiri GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu yang dilaksanakan pada Sabtu, 9 September 2023 oleh Tim Pengelola.

Kegiatan yang kedua dalam bentuk refleksi, yakni novena hari jadi selama sembilan hari yang dilakukan oleh Tim Pengelola mulai Rabu, 30 Agustus 2023 hingga Kamis, 7 September 2023.

Pameran hasil karya para peserta lomba menggambar dan mewarnai.

Kegiatan ketiga dalam bentuk selebrasi, yakni puncak acara berupa Novena kebangsaan VIII dan Perayaan Ekaristi Syukur Hari Jadi Ke-37 GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu yang dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba dan pesta umat. Umat peziarah dipersilakan menikmati nasi kuning yang telah disiapkan oleh Tim Pengelola.

Menyambung Putut, Hendrikus Suryatno dari PGPM Room Katolik Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu mengucapkan terima kasih kepada Tim Pengelola dan para pendiri Sendang Jatiningsih. “Oleh usaha baik mereka, Jatiningsih memberi warna bagi kasih Tuhan, terutama di tempat ini dan sekitarnya. Hari-hari dan kesempatan yang akan datang semoga akan makin baik,” harap Suryatno.

Suryatno lantas mengenang masa lalu ketika ia bersama teman-teman tidur di sisi timur kapel. “Dulu tempatnya belum sebagus ini. Atasnya masih pakai kayu. Di bawah belum dikeramik, baru diplester saja. Suatu ketika, saat melihat ke atas, ada ular. Itu yang saya ingat. Kalau berdoa di depan gua, saya duduk di bawah pohon. Tapi sekarang pohonnya sudah tidak ada,” cerita Suryatno.

Di mata Suryatno, GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu adalah tempat yang sungguh menghadirkan rahmat yang ingin dicari bersama. Tidak hanya umat Katolik, tetapi juga umat beragama lain. “Maka, salah satu tema hari ini adalah persaudaraan lintas iman. Jatiningsih juga sungguh menghadirkan persaudaraan lintas iman,” tegasnya.

Suasana pesta umat dengan hidangan nasi kuning.

Ia pun mendengar dari para karyawan GMRP Sendang Jatiningsih Paroki Klepu yang menceritakan banyak umat beragama lain juga hadir di sana untuk berdoa dengan caranya sendiri. “Mereka juga menimba rahmat di tempat ini,” ujar Suryatno.

Ketika ia dan teman-temannya dulu tidur di tempat tersebut sampai pagi, mereka melihat masih ada orang yang hilir mudik untuk menimba rahmat. “Kepada Sendang Jatiningsih yang menghadirkan rahmat ini, yang pada hari ini berulang tahun ke-37, saya ucapkan selamat. Semoga makin hari makin baik dan memberikan kehadiran rahmat yang nyata di dalam kehidupan kita semua,” ucap Suryatno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *