Bantul. Sembilan orang anggota tim Suling (Sanja Umat Lingkungan) dari Gereja St. Yakobus Bantul hadir di Lingkungan St. Stephanus, di Niten, Trirenggo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 24 Juni 2026 di rumah Gratsias Adi Hermawan selaku ketua lingkungan.
Sanja Umat Lingkungan (Suling) diartikan sebagai bentuk perhatian Gereja melalui sanja (kunjungan) kepada lingkungan untuk menyapa umat sekaligus mengetahui perkembangan maupun keadaan umat separoki.
Suling di Lingkungan St. Stephanus dipimpin Rm. Chosmas Christian Timur, Pr yang lebih dikenal dengan nama Rm. Oot.
Gratsias Adi Hermawan, yang akrab disapa Wawan, mengemukakan seluk beluk kegiatan umat maupun kekayaan yang ada, serta memperkenalkan nama-nama dari kepengurusan di Lingkungan St. Stephanus kepada rombongan tim Suling.
Selanjutnya, rombongan tim Suling membagi pengurus yang hadir menjadi tiga kelompok, yakni kelompok tata kelola penggembalaan, kelompok tata kelola administrasi, serta kelompok tata kelola harta benda lingkungan dalam bentuk tanya jawab dengan suasana santai dan penuh keakraban.
Dalam kelompok tata penggembalaan, beberapa pertanyaan yang diajukan yakni tentang apa yang ada di lingkungan, apa yang sudah dikerjakan, apa yang akan dilakukan, bagaimana kegiatan umat, apakah ada kesulitan dalam mengumpulkan umat, bagaimana Pendampingan Iman Anak (PIA), Pendampingan Iman Remaja (PIR), Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD), Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL), adakah kunjungan orang sakit, berapa kali pertemuan lingkungan, adakah doa di lingkungan, hingga bagaimana penggalangan untuk kelompok kor kaum muda lingkungan.
Selain itu juga tentang apa saja kekayaan yang ada dalam lingkungan, bagaimana administrasi dan tata kelola harta benda, serta beberapa hal yang berkaitan dengan pelayanan kepada umat. Semuanya dijawab pengurussesuai bidang masing-masing.

Rm. Oot menilai, pada dasarnya kepengurusan di Lingkungan St. Stephanus memang sudah berjalan baik, tetapi masih bisa ditingkatkan. “Tata kelola administrasi diharapkan lebih lengkap. Demikian juga laporan-laporan dari lingkungan bisa lebih ditingkatkan, tiap bulan bisa lebih detail lagi,” tambahnya.
Beberapa catatan penting lainnya ialah tentang perlunya ditambah forum pertemuan di antara pengurus lingkungan dalam doa. “Sebelum acara yang bersifat umum, lebih baik didahului dengan doa, entah ibadat atau Rosario. Karena pertemuan antara umat adalah hal yang jarang dapat terjadi sehingga momen kebersamaan tadi bagus bila ditingkatkan dalam doa secara bersama,” usul Rm. Oot.
Menurut Rm. Oot, hal ini juga untuk mengetahui perkembangan umat, sekaligus sebagai ajang silaturahmi atau anjangsana di antara umat. “Ini semua tentu berhubungan dengan penggembalaan umat, agar umat merasa terlayani,” imbuh Rm. Oot.
Secara khusus, Rm. Oot berharap kunjungan ini semakin dapat meningkatkan pelayanannya bagi umat.
Danan Murdyantoro








