Tak Sekadar Ikut Tren, Bisnis Mesti Dijalankan dengan Hati

News593 Views

Yogyakarta. Pelantikan pengurus baru Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Periode 2026–2030 diselenggarakan di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Yogyakarta pada Jumat, 26 Juni 2026.

Prosesi pelantikan dilaksanakan setelah homili dalam Perayaan Ekaristi Konselebrasi yang dipimpin Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr (Vikaris Episkopal/Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang/KAS) bersama Rm. Adrianus Maradiyo, Pr (Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur), Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr (Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat), Rm. Yohanes Sigit Heryanto, Pr (Romo Moderator PUKAT DIY), dan Rm. F.X. Sukendar Wignyosumarta, Pr (Romo Paroki HKTY Pugeran).

Dalam homilinya, Rm. Santo menegaskan bahwa modal tidak selalu berupa uang, tetapi bisa berupa koneksi atau jaringan serta keterampilan. Dalam konteks Yogyakarta, persaingan di sektor pariwisata atau hospitality sangat ketat sekali.

“Tanahnya sempit, tapi banyak pengunjung. Kalau orang ke Bali, rata-rata tujuh sampai delapan hari. Kalau ke Jogja, dua hari cukup,” lontar Rm. Santo.

Ia pun menyebut, pariwisata yang prospeknya bagus adalah pariwisata religius, yakni adanya tempat-tempat peziarahan, seperti Gua Maria Sendangsono atau Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, yang kerap dikunjungi secara rutin.

Penyerahan Pataka dari Julius Yunus Tedja kepada Yuvensius Sasongko Iswandaru.

Rm. Santo lantas menegaskan, bisnis hendaknya tidak sekadar ikut-ikutan atau karena sedang tren, tetapi sungguh-sungguh dijalankan dengan hati, memanusiakan manusia. “Bisnis yang menghargai manusia, memuaskan batin, itu lebih cocok di Jogja,” tutur Rm. Santo sembari menambahkan, “Kelebihan Jogja itu pada rasa kekeluargaannya, kemanusiaannya, dan sapaannya.”

Sementara itu, Rm. Sigit kepada para pengurus baru menyatakan, “Kita semua punya masalah, baik di level bangsa-negara, Gereja, paroki, dan pribadi. Masalah itu selalu ada.”

Maka, Rm. Sigit mengajak para pengurus untuk tidak berfokus pada masalah, melainkan melakukan sesuatu untuk mencari solusi. “Kalau kita punya cinta yang tulus, kita akan selalu berpikir tentang jalan keluar,” ujarnya.

Ia pun yakin para pengurus memiliki cinta yang besar untuk PUKAT, Gereja, dan masyarakat. “Maka kita lakukan segala sesuatunya, sekecil apa pun, dengan cinta yang besar,” tandasnya.

Ketua Umum PUKAT Nasional, Julius Yunus Tedja, mengatakan PUKAT sebagai salah satu bentuk kerasulan awam dalam Gereja, menyadari tanggung jawabnya untuk menghayati dan menjalankan panggilan hidup demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

Para pengurus diajak untuk menjadikan masa bakti 2026–2030 sebagai kesempatan untuk meninggalkan jejak pelayanan yang nyata.

“Melalui karya dan profesi yang dijalankan, kita diajak untuk mengangkat nilai pekerjaan menjadi suatu panggilan yang luhur dan mulia, yang menghadirkan kasih serta kebaikan Tuhan di tengah masyarakat,” papar Tedja.

Ia melanjutkan, “Sebagai umat Allah dan anggota Gereja, kita diundang dan diutus untuk mewujudkan nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dengan berjalan bersama, bergerak bersama, dan saling mendukung dalam semangat persaudaraan yang terwujud melalui wadah PUKAT.”

Selanjutnya, R.Y. Kristian Hadiyanto, Ketua PUKAT Keuskupan Agung Semarang, juga mengupas tentang Yogyakarta yang menurutnya memang istimewa. “Jogja menjadi barometer untuk pendidikan, juga menjadi kota dan cagar budaya, sehingga saya berharap PUKAT mulai betul-betul memperhatikan profesionalnya, yaitu para guru, dosen, dokter, dan sebagainya,” pesannya.

Ia menyebut, banyak orang berpikir profesional PUKAT adalah para usahawan. “Tidak,” tegas Kristian. “PUKAT itu profesional dan usahawan. Kita punya banyak pebisnis, eksekutif, dosen, serta guru yang bisa dilibatkan dalam aktivitas ini. Saya rasa, Jogja gudangnya.”

Kemudian, Yuvensius Sasongko Iswandaru selaku Ketua Umum PUKAT DIY yang baru dilantik mengajak seluruh pengurus untuk melayani dengan hati yang gembira, tulus, dan penuh sukacita.

Rm. Yohanes Sigit Heryanto, Pr. Yakin para pengurus memiliki cinta yang besar untuk PUKAT, Gereja, dan masyarakat.

“Jangan melayani demi popularitas atau jabatan, tetapi karena cinta kepada Tuhan dan sesama. Pelayanan yang dilakukan dengan hati yang bahagia akan menjadi berkat, bukan beban,” kata Sasongko.

Ia pun mengungkapkan keprihatinan bersama, yakni semakin banyak sekolah Katolik yang mengalami penurunan jumlah murid. Menurutnya, ini bukan sekadar persoalan pendidikan, tetapi juga menyangkut masa depan kaderisasi dan pelayanan Gereja.

Oleh karena itu, salah satu fokus pelayanan jangka pendek PUKAT adalah mendukung kebangkitan sekolah-sekolah Katolik. “Kita perlu menghadirkan gagasan dan terobosan agar sekolah Katolik kembali menjadi pilihan utama masyarakat,” teekad Sasongko.

Caranya antara lain melalui pengembangan Sekolah Katolik Plus yang unggul dalam iman, karakter, bahasa asing, teknologi, kewirausahaan, olahraga, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan generasi masa depan.

Selain itu, PUKAT juga ingin hadir mendampingi para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) melalui pelatihan, workshop, dan pendampingan yang membantu mereka berkembang, memperluas pasar, serta meningkatkan daya saing usaha mereka.

“Saya percaya PUKAT memiliki kekuatan besar karena di dalamnya berhimpun para profesional, akademisi, dan usahawan dengan berbagai keahlian. Bila potensi ini kita satukan, kita dapat menghadirkan karya yang sungguh bermanaat bagi Gereja dan masyarakat,” yakin Sasongko.

Ia pun mengajak para pengurus untuk menjadikan masa bakti 2026–2030 sebagai kesempatan untuk meninggalkan jejak pelayanan yang nyata. “Bukan sekadar membuat program, tetapi menghadirkan perubahan. Bukan sekadar berkegiatan, tetapi membawa harapan,” pungkasnya.

Willy Putranta & Slamet Riyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *