Ketika Generasi Muda Kehilangan Cara untuk Tenang

Pelita385 Views

Pernahkah kita berhenti sejenak lalu bertanya dalam hati, “Mengapa sekarang ini beberapa orang muda begitu mudah tersulut emosi?” Memang, tidak semuanya seperti itu. Masih banyak anak muda yang memilih jalan dialog, yang tetap tenang di tengah perbedaan.

Namun, kita tidak bisa menutup mata, kecenderungan itu semakin sering kita lihat. Hal-hal kecil yang dulu bisa dibicarakan baik-baik, kini berubah menjadi bentakan.

Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang untuk belajar dan saling memahami, justru berakhir dengan dorongan, pukulan, bahkan perpecahan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Coba kita lihat contoh yang nyata. Di sebuah grup WhatsApp keluarga, hanya karena salah paham soal rencana kumpul, dua orang sepupu saling sindir.

Awalnya hanya kalimat singkat, “Ya, kalau nggak niat, bilang saja dari awal.”

Namun, balasan berikutnya lebih tajam, “Jangan merasa paling sibuk sendiri.”

Dalam hitungan menit, suasana memanas, yang lain ikut berkomentar, bukan untuk menenangkan, tetapi justru memperkeruh keadaan.

Padahal, jika mereka duduk bersama, mungkin semua itu hanya akan berakhir dengan tawa.

Contoh lain, di jalan raya, seorang pengendara motor tersenggol sedikit oleh mobil. Tidak ada yang terluka, kerusakan pun nyaris tidak terlihat.

Namun, apa yang terjadi? Klakson dibunyikan keras. Pintu mobil dibanting. Suara meninggi. Hampir saja terjadi perkelahian hanya karena satu momen yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan, “Maaf, ya, tidak sengaja.”

Atau, di lingkungan sekolah. Seorang siswa merasa diejek oleh temannya. Padahal mungkin hanya candaan yang kelewat batas. Alih-alih dibicarakan, emosi langsung meledak. Dorongan terjadi. Pukulan tak terhindarkan. Akhirnya, dua pihak sama-sama terluka bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hubungan pertemanan mereka.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Mungkin, ini bukan karena mereka ingin menjadi keras. Bukan karena mereka menikmati kemarahan, tetapi karena mereka tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana caranya menjadi tenang.

Kita jarang mengajarkan bagaimana mengelola emosi. Kita lebih sering menuntut hasil daripada memahami proses batin seseorang.

Mereka tumbuh di dunia yang bising, ketika semua orang ingin didengar, tetapi sangat sedikit yang benar-benar mau mendengar.

Lihat saja media sosial. Satu komentar bisa memicu ratusan balasan. Satu perbedaan pendapat bisa berubah menjadi perang kata-kata.

Orang-orang berlomba menjadi yang paling benar, bukan yang paling bijak. Seorang anak muda membaca semua itu setiap hari.

Tanpa sadar, ia belajar bahwa cara bereaksi adalah dengan menyerang, bukan memahami.

Setiap hari, mata mereka dipenuhi pertengkaran. Jari-jemari mereka terbiasa membalas tanpa berpikir. Hati mereka pun perlahan menjadi lelah.

Lelah menahan tekanan. Lelah menghadapi tuntutan. Lelah karena sering kali merasa tidak dimengerti.

Seorang mahasiswa, misalnya, dituntut nilai tinggi oleh orang tua, dituntut aktif oleh kampus, dituntut produktif oleh lingkungan.

Namun, ketika ia lelah, tidak selalu ada ruang untuk bercerita. Akhirnya, emosi itu mencari jalan keluar dan sering kali keluar dalam bentuk kemarahan.

Bukan karena mereka kuat, tetapi karena mereka tidak tahu harus bagaimana lagi.

Yang lebih menyedihkan, kita sering kali hanya melihat kemarahannya, tanpa pernah mencoba memahami luka di baliknya. Kita begitu cepat menghakimi, “Anak muda sekarang kasar, tidak punya sopan santun.”

Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang mengajarkan mereka cara berdialog dengan baik? Siapa yang memberi teladan bahwa perbedaan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan?

Atau, jangan-jangan mereka hanya meniru apa yang selama ini mereka lihat, dari lingkungan, dari media, bahkan dari kita sendiri?

Bukankah kita juga sering meninggikan suara saat marah? Bukankah kita juga kadang lebih ingin menang, daripada ingin memahami?

Hari ini, dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tetapi dunia sangat kekurangan orang yang mau menahan diri, orang yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh, orang yang tetap memilih tenang di tengah panasnya emosi.

Sebab, sejatinya menahan amarah itu tidak mudah. Ketika disalahpahami, ingin membalas. Ketika disakiti, ingin melawan. Ketika diremehkan, ingin membuktikan dengan cara keras.

Namun, justru di situlah letak kekuatan yang sebenarnya. Kekuatan untuk tidak membalas. Kekuatan untuk tetap menghargai. Kekuatan untuk berkata, “Baik, kita bicarakan pelan-pelan.”

Bayangkan jika dalam setiap konflik, selalu ada satu orang saja yang memilih untuk tenang. Satu orang yang berkata, “Tunggu, kita tidak perlu bertengkar.”

Satu orang yang memilih mendengar lebih dulu sebelum berbicara. Mungkin, masalah tidak langsung selesai. Namun, setidaknya, api tidak semakin membesar.

Jika bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi? Jika bukan sekarang, sampai kapan kita akan terus menyaksikan kemarahan dibalas dengan kemarahan?

Mungkin, perubahan besar itu tidak harus dimulai dari banyak orang. Cukup dari satu hati yang memilih untuk tidak ikut terbakar, dan mulai menyalakan ketenangan bagi yang lain. Siapa tahu, ketenangan kecil itu, akan menular pelan-pelan hingga menjadi budaya baru yang lebih manusiawi.

Antonius Yosef Sri Kahono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *