Program Ambyur Bangun Sedulur (MBALUR) menjadi salah satu kegiatan sosial umat Katolik di Paroki St. Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, Jawa Tengah yang bertujuan menumbuhkan semangat gotong royong dan solidaritas di tengah masyarakat.
Melalui program ini, umat diajak untuk tidak hanya peduli pada sesama di lingkungan sendiri, tetapi juga membantu masyarakat sekitar tanpa memandang agama maupun status sosial.
Istilah MBALUR merupakan singkatan yang diperkenalkan oleh Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr. Namun, semangat yang terkandung di dalamnya sudah lama dijalankan oleh umat.
Sebelumnya, umat juga telah melakukan berbagai kegiatan berbagi, seperti mengirimkan takjil ke masjid-masjid selama bulan Ramadan. Kini, semangat itu diwujudkan melalui program MBALUR yang dilaksanakan di seluruh lingkungan Paroki Wedi secara serentak dan terarah.
Setiap lingkungan mendapat bantuan dana sebesar satu juta rupiah untuk melaksanakan kegiatan produktif, salah satunya adalah Lingkungan Santo Nathanael Kalitengah. Dana tersebut digunakan untuk usaha seperti budidaya lele dan menanam sayur-mayur, antara lain cabai, tomat, kangkung, terung, dan sawi. Hasil panen kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
“Salah satu kegiatan yang paling berhasil adalah budidaya lele. Dalam waktu sekitar satu bulan dua minggu, bibit lele yang berukuran 10–12 cm sudah bisa dipanen,” ungkap Franciscus de Paula, Ketua Lingkungan Santo Nathanael Kalitengah, sekaligus penggerak utama program ini.
Kegiatan panen lele dilaksanakan pada Jumat, 31 Oktober 2025 dan berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan.
“Lele hasil panen dimasak menjadi lauk pauk seperti lele goreng dan lalapan, lalu dikemas dalam kotak mika dan dibagikan kepada sekitar 40 kepala keluarga di lingkungan sekitar, baik dari kalangan umat sendiri maupun masyarakat umum,” tambah Franciscus.

Menurut Franciscus, salah satu hambatan dalam program tersebut adalah masih kurangnya partisipasi aktif dari sebagian umat. Misalnya, pada kegiatan menanam sayur di kebun milik Yanti, hanya sebagian kecil umat yang tetap aktif setelah kegiatan gotong royong pertama selesai.
Namun, pada saat panen lele, antusiasme umat meningkat karena hasilnya bisa langsung dirasakan bersama. “Ketika umat melihat hasil yang nyata dan manfaatnya dirasakan bersama, semangat mereka tumbuh kembali,” ujar Franciscus.
Program ini juga mendapat tanggapan positif dari warga. Yayuk, salah satu anggota lingkungan yang turut aktif, menyampaikan rasa senang dan antusias terhadap pelaksanaan MBALUR. Menurutnya, program ini membawa manfaat besar karena mempererat hubungan antarwarga dan hasilnya bisa dinikmati bersama.
“Kami senang karena bisa ikut membantu warga lain. Kegiatan ini membuat kami lebih rukun,” ungkapnya. Ia juga berharap program seperti MBALUR dapat terus berlanjut di masa depan, karena telah membantu warga untuk belajar bekerja sama dan saling peduli.
Program MBALUR memberikan pengaruh positif bagi umat maupun masyarakat sekitar. Melalui kegiatan ini, umat tidak hanya terbantu dalam pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga semakin tergerak untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kepedulian, serta tanggung jawab sosial.
Ke depannya, program ini akan terus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Hasil panen juga direncanakan untuk dijual dengan harga yang lebih terjangkau sehingga makin banyak warga yang dapat merasakan dampaknya.
Diharapkan semangat gotong royong dan berbagi yang tumbuh melalui MBALUR dapat terus hidup di tengah umat serta menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk melakukan hal serupa.
Program MBALUR menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kasih dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Melalui kerja sama dan niat baik, umat Paroki Wedi menunjukkan bahwa kasih Tuhan dapat dihadirkan bagi siapa saja, tanpa batas kelompok, iman, maupun latar belakang sosial.
Henrikus Bima








