Spiritualitas pelayanan adalah roh yang harus dimiliki setiap orang yang dipanggil dalam tugas pelayanan. Orang-orang yang dipanggil itu di antaranya pengurus lingkungan dan stasi.
Beberapa waktu lalu Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat menyelenggarakan pembekalan khusus bagi pengurus lingkungan dan stasi. Pembekalan diikuti sekitar tiga ratus peserta yang berasal dari 24 lingkungan dan dua stasi yang ada.
Narasumber acara yakni Rm. Yustinus Hilman Pujiatmoko, Pr selaku Pastor Kepala Paroki Bunda Maria Cirebon yang sebelumnya baru melepas jabatan Vikaris Jenderal Keuskupan Bandung setelah dua tahun menjabat.
Pada awal pemaparannya, Rm. Hilman mengingatkan bahwa pengurus lingkungan memiliki peran penting dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada umat karena mereka adalah ujung tombak Gereja.
“Tim pastores yang terdiri dari tiga pastor dan satu frater tidak mungkin mampu memberikan pelayanan kepada umat paroki yang berjumlah 4.500 jiwa. Maka, kehadiran pengurus lingkungan dan stasi sangat membantu untuk melanjutkan tugas pelayanan Gereja,” papar Rm. Hilman.
Betapa penting dan strategisnya tugas pengurus lingkungan, maka pastor perlu untuk membekali para pengurus dengan semangat dan spiritualitas pelayanan supaya pelaksanaan tugas terarah, efektif, dan mencapai hasil yang baik, yaitu semakin mengajak umat dekat dengan Tuhan, menyelamatkan jiwa-jiwa, dan membawa sukacita damai sejahtera.
Ada dua dasar blibis yang dirujuk dalam pembekalan itu. Pertama, Mzm. 118:24, “Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak sorai dan bersukacita di dalam-Nya.” Kedua, Mat. 20: 28, “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan untuk banyak orang.”
Berdasarkan kedua perikop itu, tugas pelayanan adalah sebuah keputusan yang telah diambil sekalipun di dalam prosesnya mungkin ada penolakan atau berbagai penghindaran. Keputusan itu membawa konsekuensi: pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya.
Pengorbanan waktu misalnya harus meninggalkan waktu bersama keluarga maupun waktu bersantai pribadi. Demikian juga tenaga. Pelayan harus melakukan berbagai pekerjaan yang mungkin menguras tenaga, bahkan biaya. Hal ini tidak bisa dihindari pada saat kita mengambil keputusan untuk melayani.
Namun, di lain pihak keputusan yang kita ambil untuk melayani tidak akan sia-sia. Para pengurus lingkungan akan menerima buah pelayanan, yaitu sukacita. Sukacita adalah perasaan bahagia yang muncul dari dalam hati (internal) bukan dorongan eksternal, misalnya karena menerima hadiah.
Video pendek berisi sebuah kartun menggambarkan jika ada satu orang yang rela melayani, maka pelayanan itu akan terjadi dan sukacita dirasakan oleh banyak orang. “Apalagi kalau orang yang rela melayani itu ada berpuluh-pupuh orang di paroki ini. Pasti paroki ini akan menjadi paroki yang maju dan akan banyak orang yang diselamatkan,” ujar Rm. Hilman mengomentari tayangan itu.
Dengan diselingi gerak dan lagu untuk menggugah daya konsentrasi peserta, Rm. Hilman melemparkan sebuah pertanyaan, “Mengapa kita harus melayani?”
Ada empat alasan mengapa kita melayani. Pertama, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (lih. 1Yoh. 4:19-21). Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Berdasarkan ayat itu, kita melayani berarti mengasihi Allah dan sesama karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita melalui berbagai saluran berkat yang kita terima sehari-hari.
Kedua, kita mengasihi sesama. Dengan perikop yang sama, kita melayani karena kita mengasihi sesama. Jika ada orang yang berkata “aku mengasihi Allah” akan tetapi membenci sesamanya, berarti dia seorang pendusta. Sebab, siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, maka tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.
Ketiga, karena perintah Tuhan. Dengan sumber Injil yang sama, kita melayani karena hal itu perintah Tuhan. Inilah perintah yang kita terima dari dia, siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
Keempat, karena melayani adalah anugerah Tuhan. Dengan dasar biblis 1Ptr. 4:11, “Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannnya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah.” Jadi, tugas pelayanan bukan hal yang sifatnya kebetulan, atau tugas dari sesama manusia, melainkan sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita dipercaya oleh Tuhan untuk mengerjakan tugas karena kita dianggap mampu serta punya daya dan talenta untuk bekerja.
Sekalipun melayani juga berarti kita bekerja, akan tetapi berbeda dengan pekerjaan. Perbedaan itu ditandai dengan beberapa hal. Di antaranya tujuan utama untuk mendapatkan upah, untuk mencapai kesuksesan, dan akan berhenti bekerja ketika kita tidak mendapat ucapan terima kasih, dan lain-lain. Sedangkan pelayanan memiliki karakteristik bekerja untuk Tuhan, demi kesetiaan kita terhadap Tuhan dan tugas pelayanan, dan kita akan tetap bekerja sekalipun tidak mendapat ucapan terima kasih atau penghargaan.
Ada tiga tipe orang dalam melakukan tugas pelayanan. Pertama, orang yang seperti bola biliar. Tipe ini ditandai, harus didorong-dorong dalam melakukan tugas pelayanan. Kalau tidak didorong atau disodok, dia diam.
Tipe kedua, orang seperti perahu layar. Mereka yang melakukan pelayanan bergantung kepada arah angin bergerak. Angin mendorong ke selatan, maka ia akan bergerak ke selatan, demikian sebaliknya. Jadi, belum memiliki kemandirian dalam pelayanan.
Tipe ketiga, seperti jam dinding. Jarumnya akan selalu bergerak ke kanan tanpa harus disodok atau ada dorongan angin ke kanan.
Tipe manakah model Anda dalam melaksanakan pelayanan? Silakan cocokkan.
Tuhan senantiasa mengharapkan kepada kita bahwa dalam setiap pelayanan selalu harus ada sukacita. Kita diingatkan Surat Santo Paulus kepada jemaat di Kol. 3:23, “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk sesama.” Perikop ini menegaskan bahwa pelayanan harus dilakukan dengan segenap hati (ada sukacita) dan ditujukan untuk Tuhan.
Bagaimana supaya di dalam pelayanan ada sukacita? Ada beberapa hal yang perlu dilakukan atau disikapi. Pertama, pelayanan yang kita lakukan harus mengandalkan atau memohon kekuatan Roh Kudus. Biarlah Roh Kudus bekerja dalam setiap jengkal tugas pelayanan kita. Sebab, jika pelayanan itu hanya mengandalkan kekuatan manusia, kita akan banyak mengalami kesia-siaan. Bahkan, kekecewaan, stres, dan beban berat.
Kedua, kita harus bersyukur. Dengan bersyukur akan ada sukacita yang bersumber dari Allah sendiri. Bersyukur boleh melaksanakan tugas pelayanan. Dan, perlu kita imani perikop yang mengatakan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetpai Akulah yang memilih kamu.” Bandingkan dengan orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan tugas pelayanan. Mereka tidak akan bersyukur karena tugas pelayanan.
Ketiga, dengan dasar biblis Surat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia bahwa pelayanan itu adalah satu kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama terutama kepada yang seiman (Gal. 6:10). Pelayanan juga menjadi sumber berkat untuk kita dan untuk yang kita layani.
Pelayanan itu sebuah kesempatan bagi kita untuk mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Lagu Hidup Ini adalah Kesempatan menguatkan semangat panggilan melayani, mengingatkan dan mengajak kita untuk menggunakan hidup kita yang tersisa untuk melayani di lingkungan maupun stasi dan di paroki pada umumnya.








