Salib IYD, Membawa Semangat dan Pendidikan

Visitasi Salib IYD di Gereja St. Yakobus Bantul

News1624 Views

Bantul. Indonesian Youth Day (IYD) 2023 akan diselenggarakan di Keuskupan Agung Palembang, Sumatra Selatan, 26-30 Juni 2023. Dalam rangka menyongsong pertemuan akbar Orang Muda Katolik (OMK) se-Indonesia ini, digelar Pra-IYD dalam wujud Perarakan atau Visitasi Salib IYD ke paroki-paroki.

Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta, menerima estafet Salib IYD dari Paroki St. Theresia Sedayu, Bantul pada Kamis sore, 4 Mei 2023 di Taman Doa Wajah Kerahiman, kompleks Gereja Santo Yakobus Alfeus, Pajangan, Bantul—yang merupakan satu dari dua gereja di Wilayah Maria Rosari Gesikan. Hari berikutnya, Jumat, 5 Mei 2023, Salib IYD diantar ke Gereja (Wilayah) Mater Dei Imogiri, Bantul. Baru pada Sabtu, 6 Mei 2023, salib ini diserahkan ke Gereja St. Yakobus Bantul yang disambut dengan Ekaristi Kaum Muda (EKM) dan pentas seni dengan tema “Bungah Dadi Berkah” (Gembira Jadi Berkah).

EKM dipimpin oleh Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho Pr, Vikaris Paroki St. Yakobus Bantul. Dalam homili, setelah menjabarkan isi Surat Gembala Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang yang menegaskan betapa pentingnya pendidikan bagi generasi muda, Rm. Merdi mengatakan bahwa kedatangan Salib IYD juga membawa serta pendidikan. “Pendidikannya seperti apa? Setidaknya bagi orang-orang muda bersemangat untuk kumpul,” tuturnya.

Tentang Salib IYD, imam muda yang juga Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Yogyakarta Barat ini menguraikan bahwa corpus-nya terbuat dari kayu sonokeling. Hal ini mengingatkan pada peristiwa tanggal 14 Desember 1904 ketika di suatu desa yang ada kayu sonokeling besar, yaitu Sendangsono, terjadi pembaptisan 171 orang oleh Rm. Fransiskus Van Lith SJ. Peristiwa pembaptisan ini menjadi cikal bakal Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Salibnya sendiri berasal dari kayu kleresede atau gamal. Bentuknya tidak simetris, daunnya biasa dipakai untuk pakan ternak, akarnya mengandung zat tertentu yang menyebabkan alang-alang atau rumput liar tidak bisa tumbuh.

“Bentuknya yang seperti itu membawa serta pendidikan dan menyemangati kita semua,” seru Rm. Merdi. “Bentuknya asimetris, tidak jelas, berbeda dengan salib di gereja kita ini yang rapi, simetris, dan bagus. Begitulah dunia anak muda yang dipenuhi bagian-bagian asimetris, tidak selalu sama, tetapi justru kreatif, maju terus, berkembang, dan itulah masa depan Gereja.”

Salib IYD pun tidak ada wajah serta jari tangan dan kaki. Nilai yang ingin diajarkan ialah supaya orang muda yang menjadi wajah kehadiran Yesus, tangan yang menolong sesama, dan kaki yang melangkah untuk menjumpai orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Rm. Merdi berharap pembelajaran dengan adanya Salib IYD juga menjadi pendidikan bagi seluruh umat untuk semakin memberi perhatian kepada dunia pendidikan dan sekolah-sekolah Katolik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *