Gereja: Wadah Hidup Baru dalam Kristus

News1320 Views

Orang Kristen zaman ini sedang menghadapi banyak tantangan dengan segala kerumitan hidup keberimanan mereka. Entah itu dari cara pandang tertentu, lingkungan tertentu, bahkan gaya hidup tertentu. Hal inilah yang sekurang-kurangnya memengaruhi bahkan mengganggu pemahaman serta penghayatan hidup religiusnya di tengah-tengah masyarakat.

Masalah yang sering muncul tidak hanya seputar dosa, hawa nafsu, ketidakkudusan, tetapi lebih kepada perasaan rendah diri, pesimistis yang berlebihan untuk mengakui diri sebagai pengikut Kristus. Tantangan hidup yang berat itu tidak hanya menekan sisi psikologi dan nalar semata, tetapi juga menyentuh kebebasan orang Kristen dalam hal mengaktualisasikan imannya dalam tindakan mereka setiap hari.

Berbagai pengalaman sulit yang dihadapi membuat orang Kristen berada pada situasi yang tidak aman dan pahit. Semisal pengalaman ditinggalkan, kecelakaan, sakit yang berkepanjangan, pembunuhan, pemerkosaan dan pelecehan, doa-doa yang tidak pernah terkabulkan, dan lain sebagainya. Semua ini pada akhirnya membawa dampak serius serta banyak yang akan berpandangan bahwa hidup sebagai pengikut Kristus sangatlah berat.

Belum lagi ada juga orang-orang Kristiani yang merasa kurang pantas disebut sebagai pengikut Kristus yang sejati. Mereka beranggapan bahwa ketidaklayakan mereka untuk tampil sebagai pengikut Kristus dikarenakan masih cenderung berbuat dosa.

Walaupun sudah dibabtis menjadi orang Kristen, mengakui dosa, mengikuti Ekaristi, serta telah menerima sakramen penguatan, itu semua tidak menjamin kepantasan mereka untuk tinggal dalam Kristus.

Bagi mereka, hidup dan tinggal dalam Kristus merupakan sesuatu yang terlalu sempurna untuk dicapai dalam hidup keseharian. Akan tetapi, di satu sisi ada kerinduan untuk membina hidup yang saleh sebagai pengikut kristus, di mana pun mereka berada, entah itu di rumah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, bahkan di tengah Gereja.

Tetapi lagi-lagi, karena kurangnya pengetahuan iman serta ajaran yang mereka terima, kembali membawa mereka pada kesimpulan bahwa hidup dalam Kristus adalah suatu ketidakmungkinan.

Pengalaman-pengalaman sulit yang dialami oleh orang-orang Kristen di atas ternyata dihayati secara dangkal dalam terang iman. Orang Kristen cenderung melihat pengalaman buruk dalam hidup untuk mendasari iman mereka akan Tuhan. Seolah-olah dalam seluruh hidup mereka tidak pernah ada hal baik, semua hanya ada hal buruk. Praktik dan cara pandang semacam ini menujukkan situasi jatuh-bangunnya kehidupan rohani orang beriman Kristiani dewasa ini.

Orang mulai melihat dosa sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka, padahal kita semua tahu bahwa Kristus yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit telah menyelamatkan manusia dari dosa. Tetapi dalam konteks kehidupan sekarang ini, sikap keragu-raguan akan Tuhan serta karya penyelamatan-Nya di dunia tetap dan masih tampak.

Dengan ini seakan mengarahkan orang Kristiani kepada sikap dan tindakan yang bertentangan dengan rencana dan maksud Allah. Walau di satu sisi orang Kristiani ingin dengan usahanya membentuk sebuah model kehidupan yang bebas dari penderitaan dosa, tetapi di sisi yang lain mereka menemukan bahwa penderitaan dan dosa itu sering hidup di dalam diri mereka. Alhasil, hidup kerohanian yang mereka bangun dijalankan tanpa makna yang mendalam.

Kitab Suci dengan jelas mengisahkan bahwa dosa itu masuk ke dalam dunia pertama kali oleh Adam dan menjalar kepada semua orang (Rm. 5:12). Jadi, dosa bukanlah hal yang baru dalam kehidupan manusia. Dosa telah menjadi “warisan” turun-temurun dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Dosa dilihat sebagai hal yang menakutkan karena membawa manusia kepada kematian. Kematian yang tidak hanya memisahkan manusia dengan sesamanya, tetapi juga memisahkan manusia dengan Allah.

Perjanjian Baru dengan jelas menujukkan “nilai kekekalan” hidup di dunia ini ditentukan oleh seberapa dekat hubungan manusia dengan Kristus (Yoh. 3:36; 5:24). Mengenal Kristus berarti sama dengan mengenal Allah dan mengenal yang demikian akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 17:3).

Secara sederhana, yang ingin disampaikan di sini ialah, setiap orang yang mempunyai hubungan iman yang begitu rupa dengan Kristus, akan memperoleh hidup kekal sehingga bukan lagi kita yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (Gal. 5:25). Relasi dan hidup yang demikianlah yang akan membangun hubungan yang erat dengan Kristus.

Itulah sebabnya, orang-orang yang percaya selalu berharap bahwa setelah kematian akan memperoleh kehidupan yang kekal (Tit. 1:2; 3:7). Maka, hidup kekal tidak pernah ada tanpa Kristus dan hidup kekal ialah hidup yang terus-menerus di dalam Kristus (Tes. 4:17).

Untuk memperoleh keselamatan dan hidup kekal, sebagai orang Kristen kita diharuskan senantiasa berpegang pada iman akan Kristus. Mendasari setiap usaha, perbuatan, kerja, relasi, dan hubungan dengan sesama pada penghayatan akan sabda Tuhan. Walau tak jarang, sering kali terjadi dalam diri orang-orang Kristiani kekaburan dalam memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan setiap hari.

Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman akan hidup baru dalam Kristus. Tentu dengan ini, iman akan mengalami keguncangan ketika berhadapan dengan realitas dunia dengan segala macam persoalan dan tantangannya. Dalam keguncangan iman semacam ini, orang-orang Kristiani mendapati diri mereka sebagai manusia yang lemah, pesimistis, skeptis, dan rapuh dalam hidup rohaninya.

Mereka akan terus hidup dalam bayang-bayang kuasa dosa yang membuat mereka semakin mengalami krisis iman. Akibatnya laku tobat, doa, dan Ekaristi serta segala kegiatan rohani yang diikuti menjadi hambar. Pengalaman konkret membina relasi dengan Tuhan menjadi renggang dan dangkal pemaknaannya. Orang Kristiani kemudian menjadi kurang atau bahkan tidak sama sekali merefleksikan pengalaman imannya.

Tetapi di sini, satu hal yang harus diresapi dan menjadi patokan ialah walaupun umat kita sebagai Kristiani merasa tidak pantas karena kedosaan, percayalah bahwa dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus, Allah berkarya untuk menangani kemelut dosa yang dihadapi manusia. Inilah cinta nyata dan kasih-Nya yang tak terperikan kepada manusia.

Kasih Kristus itu tercurah dalam Gereja karena di dalamnya kita menemukan tubuh mistik Kristus. Ini adalah kasih sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia kehidupan adikodrati yang Gereja curahkan ke atas para anggotanya.

Orang Kristiani telah bersatu dalam Kristus, maka tugas yang harus diemban ialah terus memelihara hubungan dan kesatuan dengan Kristus serta lebih mengerucut pada bagaimana hidup yang seharusnya dibangun di dalam dan bersama Kristus.

Fr. Petrus Ronaldo Lile Hurint CSsR

Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *