Athanasius dari Alexandria, Pembela Ajaran Nicea

Jendela839 Views

Kehidupan Santo Athanasius dari Alexandria adalah sebuah kisah tentang iman, keberanian, dan ketekunan. Sebagai Uskup Alexandria, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perdebatan teologis yang sengit hingga penganiayaan dari pihak berwenang. Namun, dengan iman yang teguh, ia berhasil melewati semua cobaan itu dan meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi Gereja.

Kehidupan Athanasius mencakup periode yang menentukan dalam sejarah kekristenan dan kekaisaran Romawi. Ia lahir pada tahun-tahun terakhir abad ketiga ketika penganiayaan besar-besaran yang dilakukan oleh Diokletianus terhadap orang-orang Kristen di Mesir.

Ketika Konstantinus menjadi kaisar Romawi pertama yang memeluk agama Kristen pada tahun 312, Athanasius hampir dewasa, dan masa jabatan uskupnya yang panjang dari tahun 328 hingga 373 menjadi saksi dari tahun-tahun krusial ketika agama Kristen bertransformasi menjadi agama yang dominan di dunia Romawi (David M. Gwynn, 2012).

Athanasius menjadi uskup di tengah pergolakan iman Kristen. Ia memberikan pelayanan pastoral bagi mereka yang hendak menjadi orang Kristen. Dari sisi ajaran, ia menghadapi tantangan perumusan iman Kristiani. Ia melawan ajaran Arius yang mengatakan demikian:  “Allah Putra merupakan ciptaan Bapa yang sempurna…sebelum adanya waktu dan sebelum segala abad” (Agus Widodo, 2023). Persoalan ini terletak pada faktor keilahian Allah Putra. Di mana, Allah Putra tidak sama dengan Bapa. Ia hanya anak.

Perdebatan Kristologi yang dipicu oleh ajaran Arius menciptakan kekacauan dalam Gereja. Arianisme, yang mengajarkan bahwa Kristus adalah makhluk ciptaan dan bukan Allah sepenuhnya, mendapat banyak pengikut. Kekisruhan ini menyebabkan perpecahan di antara umat Kristen dan menimbulkan ketegangan teologis.

Kaisar Konstantinus, yang menginginkan stabilitas dan kesatuan dalam kekaisaran, melihat pergolakan ini tidak kunjung mereda. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengadakan Konsili Nicea pada tahun 325 untuk menyelesaikan konflik ini.

Konsili Nicea I adalah konsili ekumenis pertama. Dalam Konsili, Athanasius mengatakan, “Bapa menciptakan segala sesuatu melalui Putra dalam Roh Kudus.…” Gagasan ini tidak menerima pandangan dari Arius. Di mana, Allah Putra sehakikat dengan Bapa dalam Roh Kudus.

Konsili ini memberikan pandangan demikian, “Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, anak Allah yang tunggal, dilahirkan dari Bapa, yakni dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan bukan diciptakan, sehakikat dengan Bapa.” 

Jawaban ini menegaskan bahwa Yesus Kristus itu Allah dan sehakikat dengan Bapa. Dengan demikian, peristiwa inkarnasi menjadi momen di mana ada pertukaran yang mengagungkan: Allah menjadi manusia agar manusia menjadi anak Allah (Wijnand Adrianus Boezelman, 2023).

Konsili Nicea tidak mampu membendung ajaran Arius yang mendapat dukungan dari Kaisar Konstantinus. Athanasius, pembela ajaran Nicea, mendapat ancaman dari Kaisar agar menerima pandangan dari Arius. Akan tetapi, ia tidak menerima pandangan Arius. Ia ingin membela ajaran yang benar.

Dalam Konsili Nicea I, Athanasius mengatakan, “Bapa menciptakan segala sesuatu melalui Putra dalam Roh Kudus.…” (Ilustrasi: id.wikipedia.org)

Ia mengungkapkan rasanya dalam suratnya kepada Epictetus dari Korintus yang menegaskan kembali visinya tentang keselamatan dan melihat ke arah kontroversi tentang kodrat Ilahi dan kodrat manusiawi Kristus. Dalam tulisannya, dia membagi Gereja menjadi dua faksi yang terpolarisasi: “ortodoks” (yang dia wakili) dan “Arian” (semua orang yang dia lawan).

Pembagian ini bertujuan untuk melihat siapa lawan-lawannya dan teman-temannya. Pada tahun 335, Athanasius dihukum oleh Konsili Tirus dan diasingkan ke barat oleh Konstantinus. Ini adalah yang pertama dari lima periode pengasingan yang dialami Athanasius di bawah empat kaisar yang berbeda, yang secara keseluruhan berlangsung selama 15 tahun (David Neal Greenwood, 2017).

Gereja Roma dan Gereja Timur pada milenium pertama

Pada Mei 380, tujuh tahun setelah kematian Athanasius, Gregorius dari Nazianzus memberikan sebuah penghormatan kepada Athanasius karena pandangannya pada Nicea. Dia menginspirasi semua orang dalam iman, tidak hanya para uskup tetapi umat awam, dan memastikan kemenangan doktrin-doktrin yang pertama kali dikhotbahkannya di Nicea.

Ia adalah salah satu Bapa Yunani yang berhasil menarik banyak pengikut di Gereja Roma dalam masa hidupnya. Masa-masa pengasingannya di Galia dan Italia selama tahun 330-an dan 340-an telah menanamkan akar yang kuat, dan pada tahun 350-an, pembelaan terhadap Athanasius di Gereja Roma tidak dapat dipisahkan dari pembelaan terhadap Pengakuan Iman Nicea.

Pada tahun 356, Hilary dari Poitiers (kadang-kadang dikenal sebagai “Athanasius dari barat”) memuji rekan sezamannya yang lebih tua sebagai pahlawan Nicea dan korban tak berdosa dari penganiayaan “Arian” (David M. Gwynn, 2007).

Akan tetapi, pengaruh terbesar terhadap penerimaan Athanasius di Gereja Roma terletak pada karya pseudonim yang paling terkenal yang menggunakan namanya (David M. Gwynn 2012). Apa yang disebut sebagai Pengakuan Iman Athanasius (juga dikenal sebagai Quicunque dari kata pembukanya) pertama kali secara eksplisit dibuktikan oleh Caesarius dari Arles (uskup 502-542). Kemungkinan disusun di Galia selatan pada akhir abad kelima atau awal abad keenam, teologi kredo ini bersifat pasca-Athanasia (khususnya dalam Kristologi).

Skolastik abad XXI

Periode antara tahun 1100 dan 1600 menjadi tantangan tersendiri bagi studi tentang warisan Athanasius (tercermin dari minimnya referensi-referensi Athanasius dalam artikel-artikel ekstensif mengenai resepsi patristik yang disunting oleh Backus (1997a)). Otoritas Athanasius sebagai seorang Bapa Gereja diakui oleh semua orang, dan namanya tetap menjadi buah bibir untuk membela iman ortodoks (David M. Gwynn, 2012).

Dalam 50 tahun terakhir ini, minat terhadap Athanasius telah bangkit kembali, dengan dua generasi cendekiawan yang berdiri di atas pundak para raksasa pada abad-abad sebelumnya. Athanasius telah dikembalikan ke peran sentral dalam perdebatan modern mengenai Trinitas dan Kristologi, tidak hanya di kalangan akademis, tetapi juga melalui situs-situs populer dan kelompok-kelompok diskusi Kristen yang membuat tulisan-tulisannya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas (David Neal Greenwood, 2017).

Kontribusi dari Athanasius sejatinya memberikan cakrawala yang luas tentang pemahaman tentang ajaran iman Kristen. Ia bukan hanya menjawab para bidaah, melainkan juga memberikan ajaran autentik kepada umat Kristiani pada zaman modern ini.

Sebagai seorang pembela iman, ia menyadari bahaya itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari dalam Gereja. Oleh karena itu, pembaruan-pembaruan dalam iman selalu diperlukan setiap zaman agar tidak muncul lagi arianus baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *