Calon Krisma Paroki Brayut Kunjungi Pondok Pesantren Zuhriah Rejodani

News1127 Views

Sleman. Bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, Kamis, 1 Mei 2025, sejumlah 38 calon Krisma dari Paroki St. Yohanes Paulus II Brayut, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkumpul di Gereja Wilayah Santo Yosef Karanglo.

Dipimpin Romo Paulus Susanto Martowardoyo, Pr bersama Tim Pelayanan Hubungan Antaragama dan Keyakinan (HAK) dan para pendamping Krisma berangkat menuju Panti Asuhan Pondok Pesantren Zuhriah Rejodani, kurang lebih tujuh kilometer dari gereja wilayah.

Pendamping Pondok Pesantren Zuhriah menyambut kedatangan para calon Krisma dari Paroki Brayut dengan ramah dan penuh keakraban. Anjangsana ini merupakan salah satu program pembelajaran calon penerima Krisma untuk membangun kesadaran dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan belajar membuka diri untuk dialog yang saling membangun. 

Doa pembukaan dipimpin H. Mohamad Adam Ilhami, M.Pd atau Gus Adam (Pimpinan Pondok Zuhriah Rejodani) dan Rm. Paulus Susanto, Pr. Gus Adam menyatakan, kunjungan ini merupakan kesempatan yang baik untuk lebih saling mengenal dan memahami sebagai wujud kasih kepada sesama ciptaan Allah. Meskipun ada perbedaan tetapi tidak menjadikan halangan untuk berjalan bersama dan beriringan.

“Almarhum Gus Dur (Abdurrahman Wahid) berpesan, dalam kehidupan bersama hendaklah saling tolong-menolong dan jangan tanya agamamu. Bertolong-tolonglah dalam sisi kemanusiaan dan saling mengasihi. Dalam kehidupan bernegara, kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tidak memandang perbedaan sebagai penghalang dalam bersaudaraan. Baik beda suku, agama, budaya, juga adat istiadat,” ujar Gus Adam.

Persahabatan dengan saudara Muslim sudah lama terjalin dengan baik.

Sementara itu, Rm. Susanto berterima kasih karena kunjungan ini dapat diterima dengan ramah. “Satu kesempatan tidak akan mungkin terjadi bila tidak diupayakan. Maka, kunjungan ini sebagai upaya untuk membangun persaudaraan sehingga ke depan akan menjadi pembelajaran dalam membangun persahabatan bagi para calon Krisma,” harapnya.

Rm. Susanto merasakan, persahabatan dengan saudara Muslim sudah lama terjalin dengan baik sehingga anjangsana kali ini akan makin memperkukuh persaudaraan. “Persahabatan menjadi indah dengan saling menghargai pribadi masing-masing. Kunjungan persahabatan ini menjadi kebaikan bersama di kemudian hari,” katanya.

Dalam anjangsana ini, para calon Krisma membaur dengan para santri untuk berdiskusi dalam enam kelompok, yakni Dasilo, Kalam, Ekus Kabanus, Petir, Edelweis, dan Teratai Emas. Nama kelompok Dasilo (dadi siji ning loro/jadi satu tapi dua) dimaknai meskipun berbeda tetapi tetap satu dalam persahabatan dan kemanusiaan.

Sebagai pemantik diskusi, diputar film pendek berjudul KOLAK karya Ahmad Fadli Rizky yang menginspirasi untuk menjaga toleransi akan keragaman sosial, budaya, dan agama. Dalam diskusi kelompok, masing-masing pribadi menjadi cair dan akrab. Meskipun berbeda latar belakang, mereka belajar mengutarakan pendapat pribadi dan saling menghargai sehingga terbangun komunikasi yang baik.

Hasil diskusi kelompok dapat menjadi pembelajaran bersama bahwa dalam menjaga toleransi dalam keberagaman, saling tolong-menolong dapat menjadi keseimbangan dan harmoni dalam masyarakat.

Dalam peneguhannya, Gus Adam menyampaikan, “Umat Muslim mempunyai tanggung jawab menjaga hubungan dengan sesama Muslim, menjaga hubungan dengan negara, menjaga hubungan dengan makhluk ciptaan. Kita harus bersungguh-sungguh berusaha dan bekerja serta tetap percaya bahwa Tuhan akan pasti memberi jalan yang baik dan benar. Bersama tidak harus sama, lakum diinukum waliyadin.”  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *