Titik Awal Mahasiswa Katolik Saling Mendukung

Open House dan EKM Pusat Pastoral Mahasiswa DIY 2024

News2006 Views

Sleman. Open house dan Ekaristi Kaum Muda (EKM) Pusat Pastoral Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (PPM DIY) 2024 hari kedua dilaksanakan pada Minggu, 10 November 2024. Rangkaian acara berlangsung di SMA Kolese De Britto, Jl. Laksda Adisucipto No. 161, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Rangkaian acara open house didahului dengan EKM, dilanjutkan talkshow yang menghadirkan dua bintang dan ditutup pentas seni dari beberapa universitas di Yogyakarta.

Agustina Herawati, mahasiswi Antropologi UGM selaku ketua panitia menyampaikan alasan diambilnya tema “AGAPE, Akrab Gawe Penak” dalam acara ini. “Teman-teman diharapkan akan menjadi akrab setelah acara ini,” ujarnya sembari membeberkan pembentukan panitia hanya berlangsung selama satu bulan.

Rm. Agustinus Daryanto, SJ selaku Pembimbing PPM DIY mengungkapkan harapan untuk mengadakan open house lagi pada tahun selanjutnya. “Semoga acara ini menjadi titik awal untuk saling mendukung dan men-support. Semoga tahun depan semakin banyak yang datang,” harapnya lalu menjelaskan bahwa dalam Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) disediakan layanan konseling yang akan mendukung kesehatan mental teman-teman mahasiswa.

Talkshow bersama Walma Jelena (tengah) dan Rm. Gregorius Budi Subanar, SJ (berdiri) dipandu Tobias Nico Putra (kiri).

Sebelum memulai talkshow, Agra dan Rea selaku MC mengajak mahasiswa yang hadir untuk mengucapkan jargon bersama-sama. “From Zero to Hero” merupakan jargon yang digunakan selama acara berlangsung dan nyatanya cukup efektif untuk membangkitkan semangat dalam diri penonton.

Talkshow dalam open house ini menghadirkan dua narasumber, Walma Jelena, seorang konten kreator di aplikasi TikTok yang memiliki julukan “Mantilla Lady”, serta Rm. Gregorius Budi Subanar, SJ, salah satu penulis sejarah Gereja Indonesia. Tobias Nico Putra berperan sebagai moderator dalam memandu berjalannya sesi talkshow ini.

Rm. Banar banyak membahas mengenai buku terbarunya, Kinro Hoshi, sekaligus meluncurkannya. Rm. Banar menjelaskan alasannya menuliskan buku tentang Jepang karena penjajahan Jepang yang sangat pendek dan sumber sejarahnya sangat minim. “Jepang berkuasa sangat pendek, sumber sejarahnya tidak ada. Tiga tahun Jepang berkuasa menjadi tiga tahun yang menentukan Gereja Katolik Indonesia sekarang,” tuturnya.

Selanjutnya, Walma memberikan pendapatnya tentang wanita yang tidak memakai mantila ketika mengikuti Misa. “Orang yang menggunakan mantila dan tidak menggunakan, tidak ada hubungan dengan kadar keimanan seseorang,” ujarnya.

Ia juga membeberkan alasan memilih mantila sebagai bahan konten TikTok-nya, “Supaya orang muda tahu tradisi mantila dan kita tidak lupa tradisi karena tergerus zaman.”

Walma juga mengatakan ia memiliki moto, “Wartakan Injil ke seluruh makhluk.” Moto ini membuatnya terus bersemangat dalam membuat konten kekatolikan.

Setelah berbincang-bincang dengan dua narasumber, sesi talkshow ditutup dengan peluncuran buku Kinro Hoshi oleh Rm. Banar kepada pihak PT Kanisius selaku penerbit. Setelahnya, PT Kanisius memberikan buku tersebut kepada salah satu hadirin terpilih.

Tidak lama setelah sesi talkshow berakhir, open house ditutup dengan pentas seni dari beberapa universitas di Yogyakarta. Hal menarik tampak ketika penampilan pertama diisi oleh Rm. Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr alias Rm. Busyet yang sukses membuat hadirin tertawa karena stand up comedy yang dibawakannya.

Ada pula beberapa penampilan seperti tarian tradisional Universitas Gadjah Mada (UGM), teater Universitas Sanata Dharma (USD), band Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan tidak lupa tuan rumah SMA Kolese De Britto yang menampilkan bandnya, turut memeriahkan acara open house ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *