Keprihatinan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini adalah merosotnya kesadaran umat beriman akan pentingnya Sakramen Rekonsiliasi. Sakramen Rekonsiliasi merupakan salah satu dari tujuh sakramen yang di tetapkan oleh Gereja.
Sakramen Rekonsiliasi normalnya diterima oleh umat Katolik saat menerima Sakramen Penguatan, mendekati masa Paskah dan Natal. Orang yang dapat memberikan kita Sakramen Rekonsiliasi adalah seorang imam.
Pada zaman sekarang, umat kurang sadar betapa pentingnya Sakramen Rekonsiliasi. Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, Sakramen Rekonsiliasi kurang mendapat tempat di hati umat sekarang.
Umat beriman zaman sekarang, terkhusus remaja maupun generasi Z, tidak lagi menghayati Sakramen Rekonsiliasi sebagai sakramen dalam Gereja yang menyelamatkan dirinya dari dosa. Para remaja sering kali cuek dan masa bodoh terhadap upaya Gereja untuk menyelamatkan dirinya dari dosa.
Gereja sudah memberikan beberapa upaya dalam memberi Sakramen Rekonsiliasi. Beberapa upaya yang dilakukan oleh Gereja adalah memberi pelayanan penerimaan Sakramen Rekonsiliasi setiap seminggu sekali.
Selain itu, Gereja sudah berupaya dengan terjun ke lingkungan agar umat dapat menerima Sakramen Rekonsiliasi. Namun, upaya yang dilakukan Gereja seakan tidak membuahkan hasil. Partisipasi para remaja untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi sangat minim.
Kurangnya motivasi umat beriman, terkhusus remaja, dalam menerima Sakramen Rekonsiliasi menyebabkan umat beriman enggan menerima Sakramen Rekonsiliasi. Para remaja lebih sering barmalas-malasan dan selalu ada alasan untuk menghindarinya.
Selain itu, umat yang telah menerima Sakramen Rekonsiliasi tidak menunjukan perubahan dalam berperilaku di kehidupan sosialnya. Kebanyakan umat beriman, terkhusus para remaja, berpendapat bahwa dosa yang disebutkan dalam pengakuan dosa akan dilakukan lagi.
Hal inilah yang menyebabkan pandangan umat beriman terhadap Sakramen Rekonsiliasi hanya sebagai formalitas. Umat merasa dirinya belum membawa pembaruan. Inilah pula yang menjadi alasan Sakramen Rekonsiliasi menjadi formalitas.
Para remaja zaman sekarang menerima Sakramen Rekonsiliasi hanya karena paksaan dari guru atau orang tua. Mereka sudah mengenal kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi alasan mereka untuk menjadikan Sakramen Rekonsiliasi sebagai formalitas.
Selain faktor teknologi dan ilmu pengetahuan, remaja sekarang juga dapat terpengaruh melalui lingkungan hidup di sekitarnya. Lingkungan hidup mereka dapat berakibat pada motivasi menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Bila lingkungan mereka mengajarkan kebaikan, maka dapat memengaruhi motivasi dalam menerima Sakramen Rekonsiliasi. Namun, bila lingkungan di sekitar mereka hanya mengajarkan keburukan, maka akan berakibat fatal terhadap motivasi mereka dalam menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Malu merupakan alasan remaja zaman sekarang untuk tidak menerima Sakramen Rekonsiliasi. Terkadang remaja malu mengungkapkan dosa yang telah dilakukanya. Hal ini dapat diartikan bahwa remaja zaman sekarang kurang mengerti bahwa Sakramen Rekonsiliasi merupakan salah satu usaha pembaruan hidupnya. Pemahaman seperti ini dapat berakibat fatal bagi dirinya.
Maka, saya mempunyai solusi atas masalah ini. Pertama, umat beriman terkhusus para remaja diberikan katekese mengenai Sakramen Rekonsiliasi sebagai pembaruan hidupnya.
Para remaja cenderung mudah terjatuh dalam dosa. Faktor lingkungan dapat menjadikan remaja zaman sekarang mudah jatuh dalam dosa. Apalagi zaman sekarang teknologi dan ilmu pengetahuan sudah maju. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan kurangnya kesadaran untuk menerima sakramen rekonsiliasi.
Kedua, bila para remaja sudah mendapat pengetahuan mengenai Sakramen Rekonsiliasi, pastor paroki dan ketua lingkungan dapat memberi imbauan kepada umat beriman, terkhusus para remaja, untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Imbauannya tentu tidak hanya lewat kata-kata, tetapi dapat melalui tindakan tegas dari pastor paroki dan aktivis lingkungan. Imbauan tidak hanya dilakukan satu dua kali, tetapi juga dapat dilakukan dengan taraf sering. Bila hanya dilakukan sekali, terkadang para remaja hanya mendengarkan dan tidak melakukan.
Solusi saya yang ketiga dapat dilakukan oleh masing-masing pribadi. Masing-masing pribadi dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya Sakramen Rekonsiliasi. Kita perlu sadar bahwa ini semua dilakuakan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Sakramen ini dilakuakan bukan hanya sebagai formalitas, tetapi untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Selain itu, kita juga perlu sadar dan berusaha untuk tidak melakukan dosa yang sudah kita lakukan kepada imam saat melakukan Sakramen Rekonsiliasi.
Sakramen Rekonsiliasi pada umumnya dilakukan saat menjelang Paskah dan Natal serta saat akan menerima Sakramen Penguatan. Kita sebagai umat beriman tidak hanya menerima Sakramen Rekonsiliasi pada saat-saat itu. Gereja sudah menyediakan sarana setiap minggu untuk melakukan Sakramen Rekonsiliasi. Gereja juga terbuka bila kita ingin menerima Sakramen Rekonsiliasi di luar jadwal yang sudah dibuat oleh Gereja.
Sakramen Rekonsiliasi dilakukan bukan hanya sebagai formalitas, akan tetapi kita memerlukan kesadaran bahwa Sakramen Rekonsiliasi berguna untuk diri kita. Kegunaan bagi diri kita adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Hubungan kita dengan Allah rusak dengan kita melakukan dosa. Maka, kita perlu sadar bahwa kita harus memperbaiki hubungan kita dengan Allah melalui Sakramen Rekonsiliasi. Kita juga perlu kesadaran untuk berusaha tidak mengulangi atau melakukan dosa yang telah kita lakukan saat menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Dukungan dari luar diri juga sangat diperlukan. Dukungan tersebut dapat dilakukan oleh pastor paroki dan aktivis paroki dengan memberi imbauan kepada remaja agar tidak hanya melakukan Sakramen Rekonsiliasi sebagai formalitas.
Filipus Krisna Nugraha Putra (Siswa Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan)








