Aku dibesarkan dalam keluarga dengan banyak kehancuran. Jiwaku selalu kacau, mudah sensitif, dan panas, terutama dalam situasi yang kurang menyenangkan. Aku tidak mengenal cinta Tuhan secara pribadi. Akibatnya, aku tidak mampu mencintai sesamaku dengan sepenuh hati. Segala yang kuberikan ada syaratnya, demi kepentinganku secara pribadi.
Dalam Latihan Rohani Pemula (LRP), Tuhan mengizinkanku mengenal dan mengalami cinta kasih-Nya yang menyembuhkan dan mendamaikan. Semua yang ada padaku adalah tanda cinta kasih Tuhan sendiri.
Pengalaman merasa dicintai telah menyembuhkan penolakan dalam hidupku. Aku menyesal dan malu dengan sikap egoistisku selama ini sehingga tidak menyadari cinta kasih Tuhan.
Sepertinya tangki kasihku tidak pernah penuh. Mungkin kerana bocor atau salurannya tersumbat, menyebabkan damai dan sukacitaku senantiasa pasang surut. Kini, aku ingin berbagi kasih itu, karena aku pernah merasakannya secara pribadi. Aku mengawali penziarahan yang baru bersama dengan perasaan cinta itu.
Pengalaman rohani lain yang istimewa dalam LRP adalah menemukan jawapan makna penderitaan dan kesakitan yang kualami hingga kini.
Tahun 2017, aku mengalami kecelakaan sehingga menderita retak tulang belakang sebanyak lima bagian. Cedera itu menyebabkan aku menderita sakit fisik karena masalah saraf.
Selama beberapa tahun, aku mencoba mencari jawaban mengapa itu terjadi. Aku melakukan novena dan puasa, berharap Tuhan akan memberikan jawaban. Aku sempat merasa berada di titik paling bawah dalam hidup karena semua hal buruk dan derita yang aku alami.
Kadang-kadang aku goyah. Hatiku mengatakan, mungkin Tuhan sudah tidak peduli kepadaku atau mungkin menghukumku dengan musibah ini karena aku sangat berdosa.
Pergolakan batinku begitu hebat, sukar untuk ditenangkan, entah bila akan mereda. Aku mula goyah, kecewa, dan hanya mampu berharap pada belas kasihan-Nya.
Suatu ketika, dalam dialogku dengan sahabatku, Yesus, Dia mengatakan, “Aku tahu engkau menderita, tetapi jika penderitaan itu pada orang lain, nama-Ku tidak dipermuliakan seperti engkau memuliakan Aku.”
Tuhan Yesus tahu, walaupun aku menderita, tetapi aku tetap mau memuliakan-Nya, dengan belajar menyatukannya sebagai kurban silih. Pada saat itu, air mataku jatuh bercucuran kerana menerima jawaban dan penghiburan yang besar.
Aku menyadari bahwa aku tidak mengenali diriku sedalamnya seperti Yesus mengenaliku, pribadiku, perasaanku, pikiranku, kehendakku, dan apa adanya diriku. Walaupun Tuhan Yesus hadir bukan untuk menyembuhkanku secara fisik, tetapi batinku disembuhkan.
Aku bersyukur karena Tuhan Yesus memercayaiku sebagai seorang sahabat walaupun aku seorang manusia yang lemah dan rapuh terhadap dosa. Bahkan, Dia akan terus bersamaku dalam penziarahanku seterusnya.
Pengalaman menerima panggilan Raja, memberikanku sukacita besar karena pengertian baru tentang peristiwa pahit yang pernah kualami sebelum ini. Pergalaman pahit itu kuanggap seperti penyaliban secara rohani dalam hidupku. Aku dianiaya, difitnah, dihina, dan dijatuhi hukuman oleh pemimpinGereja tanpa pembelaan diri.
Aku merasa sangat malu dengan tuduhan mendirikan Gereja baru, terpaksa diasingkan oleh teman-teman, dan menjadi buah bibir segelintir umat. Aku juga trauma untuk datang ke gereja. Itu adalah pengalaman teramat pahit dalam hidupku sehingga aku sempat kehilangan arah dan kepercayaan diri untuk bergabung dalam berbagai pelayanan.
Namun aku tidak mampu untuk berpisah dari Misa Kudus karena ingin menerima Yesus dalam Ekaristi. Situasi ini sangat menekanku sehingga aku merasa seperti hampir gila dan putus asa.
Teks Doa dalam Panggilan Kristus mengatakan: “Kehendakku ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan Bapaku. Barang siapa yang ikut Aku dalam usaha itu, haruslah bersusah-payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan.”
Kalimat ini membuat aku tersentak sekejap, tetapi aku mulai mengerti lebih jelas tentang apa yang telah terjadi padaku. Aku tidak memilih sehat daripada sakit, keberhasilan daripada kegagalan. Aku harus berjuang berhadapan dengan sekelilingku, berjuang dengan pergolakan batinku, dan menerima pribadiku seadanya.
Melalui LRP, aku disembuhkan dan mendapat kekuatan baru untuk terus bersama dalam panggilan Raja walaupun akan berhadapan dengan banyak kesakitan dan penderitaan. Di dalam Dia, aku tetap ada damai dan sukacita, karena aku mengerti untuk apa semua itu berlaku. Tiada seorang pun dapat mengubah atau dapat mengambil-Nya dariku.
Mengenal Asas dan Dasar dalam LRP merupakan satu pengertian baru dalam hidupku. Kini, aku punya panduan yang jelas, tujuan sejati hidupku adalah untuk memuliakan, menghormati, dan mengabdi kepada-Nya.
Aku mulai mengerti bedanya tujuan dan anugerah yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Selama ini aku sering keliru tentang tujuan dan anugerah yang ada. Aku menyangka, melakukan pelayanan kepada sesama idalah yang terbaik di hadapan Tuhan. Namun, ternyata pengertianku meleset lagi, bahkan aku gagal menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya.
Aku tidak pernah menyelami sedekat mana dan sejujur apa aku di hadapan Tuhan. Aku tidak mengerti makna “Yesus sebagai sahabat sejati” sepanjang jalan hidupku, bahkan aku buta mengenal Tuhan yang sebenarnya.
Aku gagal membedakan dua hal, yaitu hubungan “antara aku dan Tuhan” serta “antara aku dan sesamaku”. Hidupku menjadi tidak seimbang. Rupanya, aku lebih mengutamakan anugerah-anugerah daripada tujuan hidupku.
Terima kasih, Tuhan, karena telah memberikanku pengertian yang baru untuk belajar hidup lebih seimbang, memilih hidup lepas bebas, dan mengolah kehidupan rohaniku untuk meneruskan penziarahan yang ada di hadapanku.
Pengetahuan tentang melakukan pembedaan roh memberikan satu pengetahuan yang istimewa dalam hidupku. Selama ini, aku menganggap tidak semua orang bisa melakukan pembedaan roh, karena pengajaran yang diberikan melalui seminar-seminar sulit untuk dimengerti.
Pembedaan roh hanya berkaitan dengan pengalaman supranatural dan penuh mistik. Bahkan, sering disebut hanya orang-orang yang punya karunia istimewa yang bisa melakukan pembedaan roh. Orang-orang seperti aku, yang tidak mempunyai karunia istimewa itu, tidak mampu untuk membedakan roh.
Ternyata, dalam LRP, pengetahuan itu meleset sama sekali. Pengetahuan untuk membedakan roh dalam LRP lebih kepada mengenal gerak-gerak batin masing-masing. Ini lebih mudah dipahami, malah sebaiknya perlu diketahui oleh semua umat bahwa mereka juga mampu dan perlu untuk melakukan pembedaan roh.
Apabila aku tidak mengikuti LRP, maka aku akan terus tinggal dalam kebodohan dengan pengetahuan seperti itu. Aku mungkin tidak mampu menemukan panduan mengenal Roh Baik dan Roh Jahat dalam penziarahan ini.
Minggu kelima LRP merupakan satu pengalaman yang sangat berharga bagiku. Panduan mengambil keputusan secara Ignasian telah memberikanku satu pengertian yang baru dan sangat praktikal sebagai panduan untuk membuat keputusan dalam kehidupan harian.
Dua perkara utama yang aku pertimbangkan untuk membuat keputusan adalah apa pilihanku yang lebih mendekatkan aku dengan Tuhan dan apa pilihanku sekiranya esok adalah hari kematianku. Panduan ini ringkas, jelas, dan memberikan keyakinan untuk membuat pilihan dalam hidupku. Semua pegetahuan ini aku jadikan bekal dalam perjalanan penziarahanku yang baru.
Setelah selesai LRP, aku mengenali Spiritualitas Ignatian sangat sesuai untuk jiwaku sebagai orang awam dalam kehidupan seharianku. Spiritualitas ini sangat jernih, praktis, dan realistis dengan kehidupan awam pada masa kini. Pengalaman ini mewarnai hidupku dan telah melengkapi bekal perjalananku. Aku menemui kompas hidup yang akan menentukan arah penziarahanku untuk sampai ke destinasi yang hendak kutuju.
Winnie Veronica Bian
46 tahun, Counselor HIV / AIDS, Kota Kinabalu Sabah, Malaysia
Artikel ini telah terbit di Majalah UTUSAN edisi No. 07 Juli 2024.








