St. Yusuf, Aktor dalam Narasi Allah

Refleksi atas Hari Raya St. Yusuf, Suami Maria

Jendela626 Views

Setelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai juru bicara Presiden George W. Bush, Scott McClellan menulis buku yang berisikan kebusukan praktik politik Bush dan kroni-kroninya di Gedung Putih. Judulnya Inside the Bush White House and Washington’s Culture of Deception. 

Menarik bahwa McClellan berani buka suara atas kebobrokan yang terjadi di Gedung Putih. Di samping keberaniannya itu, McClellan tak luput dari kecaman dari sebagian pihak. Namun, hal ini tidak membuatnya gentar.

McClellan menulis, “Yang jauh lebih penting adalah cerita besar di mana saya memainkan peranan kecil di dalamnya.” Di sini dapat dilihat komitmen McClellan untuk mengungkapkan kebenaran.

Baginya, kebobrokan politik ini mesti dikonsumsi oleh masyarakat luas, tidak hanya dirinya. Dalam artian, masyarakat tidak disetir ke jalur politik yang palsu. Maka, masyarakat patut mengambil sikap tegas terhadap kebobrokan semacam ini.

Terlepas dari persoalan pelik yang disajikan dalam buku ini, saya hanya perlu menggarisbawahi kata-kata yang disodorkan oleh McClellan tadi.

Jika diterjemahkan secara tunggal, McClellan menyadarkan setiap orang bahwa hidup adalah sebuah narasi dan kita perlu bertindak dalam narasi itu, agar sekehendaknya kita memaknai narasi itu. Demikianlah yang dilakukan oleh McClellan. Ia memaknai “cerita besar” yang terjadi di gedung putih dengan menjadi aktor di dalamnya.

Dalam konteks umat Katolik, sadar atau tidak pada dasarnya kita hidup dalam narasi Allah. Lirik lagu “Indah rencana-Mu Tuhan/ di dalam hidupku” barangkali menjadi sebuah representasi kesadaran kita bahwa Allah sebetulnya menarasikan hidup kita. Maka, tugas setiap orang adalah menjadi aktor di dalamnya.

Kenyataan yang demikian kadang membuat kita lupa, apalagi ketika berhadapan dengan situasi yang tidak mengenakkan dalam hidup. Kita berusaha menghindari situasi tersebut. Padahal, Allah sedang memasukkan kita dalam narasi-Nya.

Dalam refleksi ini, saya perlu menghadirkan seorang figur yang sungguh-sungguh menjadi aktor di hadapan Tuhan, yaitu St. Yusuf, suami Maria. Bagi saya, ia adalah teladan cemerlang terutama dalam menghayati peranannya. Dalam situasi tidak mengenakkan pun, Yusuf mengambil bagian dalam narasi Allah.

Sapaan malaikat yang menjadi utusan Allah memantapkan Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya. (Ilustrasi: www.goodcatholic.com)

Yusuf: aktor dalam narasi Allah

Tanggal 19 Maret sudah menjadi aturan pakem Gereja untuk merayakan Hari Raya St. Yusuf, suami Maria. Rujukan biblis tentang St. Yusuf pun tidak lari jauh dari cerita seputar sebelum dan sesudah kelahiran Yesus. Selebihnya, tidak ada.

Akan tetapi, sederet cerita singkat tentangnya menyadarkan seluruh umat beriman akan peranannya dalam menyukseskan rencana besar Allah. Kendatipun tidak banyak diceritakan dalam Kitab Suci, Yusuf perlu diakui sebagai aktor hebat, yang telah memainkan peranannya dengan baik dalam narasi yang telah dirancang Allah dalam hidupnya.

Jika merujuk pada teks injil yang disajikan, tampak Yusuf berkehendak menceraikan Maria secara diam-diam (bdk. Mat. 1:1a). Menariknya, Allah, melalui malaikat-Nya mempertahankan keberadaan Yusuf sebagai aktor dalam narasi-Nya. Sapaan malaikat yang menjadi utusan Allah memantapkan Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya (Mat. 1:24).

Jika disimak, Yusuf sebetulnya berada dalam situasi ambigu, antara mengambil Maria atau tidak. Yusuf hendak menolak kenyataan yang terjadi atas tunangannya. Yusuf hendak keluar dari narasi yang telah Allah buat untuknya. Akan tetapi, Allah memperkenankan Yusuf untuk tetap ambil bagian dalam narasi-Nya.

Keputusan Yusuf kemudian membawanya pada sebuah tanggung jawab besar yang mau tidak mau harus diterima. Pada posisi ini, Yusuf mesti siap menerima segala konsekuensi yang akan terjadi, baik bagi dirinya sendiri, Maria, maupun pada Yesus di kemudian hari.

Pengalaman Yusuf tentu bertalian dengan konteks kita sebagai umat beriman. Kalau dibahasakan, Yusuf mengalami pergolakan dengan panggilannya. Saya melihat caranya yang diam-diam menceraikan Maria sebagai momen mengakhiri narasi yang telah tersusun baik oleh Allah.

Jika kembali ke konteks kehidupan umat beriman, tindakan Yusuf dapat disamaratakan dengan kehidupan kita yang enggan menerima penderitaan dalam hidup. Ada pergolakan dalam hati untuk menolak konsekuensi hidup.

Dan, pengalaman penderitaan menjadi sesuatu yang kurang mengenakkan. Berharap bahwa pada situasi semacam itu, kita cepat melupakannya. Tanpa kita sadari pula, sebenarnya Tuhan hendak memasukkan kita ke dalam narasi-Nya.

Jika ditarik ulur ke belakang, kita sebetulnya telah resmi mengambil bagian dalam tugas Allah ketika menerima Sakramen Pembaptisan.

Yusuf telah memainkan peranannya dengan baik dalam narasi yang telah dirancang Allah dalam hidupnya. (Ilustrasi: stpaulcenter.com)

Sakramen Pembaptisan: resmi menjadi aktor dalam narasi Allah

Dalam salah satu karyanya yang termasyhur, yakni Bakti Sejati Kepada Maria, St. Montfort memberi penekanan perihal janji baptis kita. Bagi St. Montfort, sebelum umat Kristiani menerima Sakramen Pembaptisan, mereka adalah hamba setan (BS 126).

Ketika Sakramen Pembaptisan itu diterima, baik diucapkan oleh diri sendiri maupun wali baptis, seorang Kristiani tersebut menolak setan. Dalam bahasa St. Montfort, seorang Kristiani tersebut “secara meriah menolak setan, semua godaan dan perbuatannya dan telah memilih Yesus Kristus sebagai Guru dan Tuhannya yang berkuasa, untuk bergantung pada-Nya sebagai hamba karena kasih” (bdk. BS 126, hal: 97).

St. Montfort pun menghubungkan konteks pembicaraan mengenai pembaptisan ini dengan bakti yang ia tawarkan. Dalam tulisannya tersebut, St. Montfort mengungkapkan bahwa persis apa yang dilakukan dalam pembaptisan, yakni menolak setan, dunia, dosa, dan dirinya sendiri juga digemakan dalam tulisannya ini. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah perihal pemberian diri seluruhnya kepada Yesus Kristus melalui tangan Bunda Maria.

Menyitir kata-kata yang dikemukakan oleh St. Montfort tadi bahwa sebelum kita dibaptis, kita adalah hamba setan. Jika saya bahasakan dalam konteks tulisan ini, kita hidup dalam narasi setan. Akan tetapi, dengan pembaptisan, kita sebagai pengikut Kristus mengambil bagian dalam urusan Allah atau menjadi aktor dalam narasi Allah.

Dengan menerima Sakramen Pembaptisan, kita memegang tugas penting, sebagaimana telah disinggung oleh St. Montfort di atas tadi, yakni menolak setan, dunia, dosa, dan bahkan diri sendiri. Kendatipun faktanya, umat beriman menjadi lalai dengan tugas mulia ini.

Saya juga mengalami hal yang sama. Akan tetapi, hal yang perlu direfleksikan lebih lanjut adalah apakah dengan ketidaksetiaan terhadap janji-janji pembaptisan, Tuhan sampai meninggalkan kita?

Term “Tuhan sebagai Maha pengampun” makin menyadarkan kita perihal kasih sayang-Nya yang besar. Bagi saya, penempatan gelar yang demikian tidak serta-merta membuat kita terus melakukan dosa, tetapi pada titik tersebut Tuhan menegaskan posisi-Nya yang terus mengingatkan kita agar berjalan dalam jalan-Nya. Artinya, Dia terus menghendaki setiap pihak untuk tetap mengambil bagian dalam narasi-Nya.

Sebagaimana yang terjadi dari pihak Yusuf, ketika pada saat itu ia hendak berpaling dari narasi Allah, yakni dengan menceraikan Maria sebagai istrinya, Allah hadir untuk meyakinkannya. Kita-pun demikian halnya. Kendatipun janji-janji baptis itu melenceng dalam praktik riilnya, Allah tetap memosisikan diri sebagai Sang Maha Pengampun agar kita sadar bahwa jalan yang telah kita pilih telah melenceng dari narasi-Nya.

Janji-janji pembaptisan kita adalah bagian dari narasi Allah atau dalam bahasa McClellan, yakni “cerita besar”. Meskipun kita punya peranan kecil di dalam praktik riil atau implementasi dalam kehidupan sehari-hari mengenai janji-janji pembaptisan, kita sebetulnya memberi pengaruh terhadap narasi yang dibuat oleh Allah ini.

Sebagaimana St. Yusuf, ia sepertinya hanya sedikit disinggung dalam narasi yang Allah buat, tetapi tokoh ini sangat memberi pengaruh di dalamnya. Pengaruhnya adalah narasi mengenai karya keselamatan Allah berjalan seperti yang sudah dirancang dan ini sudah terpenuhi dalam kehadiran Yesus Kristus sebagai penyelamat dan penebus dosa-dosa umat manusia.

Akhirnya, aktor dalam penegasan saya tidak hanya sampai pada penguasaan atas apa yang dibaca atau dalam hal ini menghafal janji-janji pembaptisan, tetapi lebih dari itu adalah implementasinya dalam kehidupan sehari-hari dan pengaruhnya bagi kehidupan sesama.

Pada posisinya, kita berusaha membawa berkat bagi sesama, tanpa ada intensi untuk mengangkat pamor kita. Dalam hal ini, keikhlasan dalam membagi berkat itu sungguh-sungguh atas niat dari hati.

Saya perlu mengutip sebuah lirik lagu rohani yang populer dan barang tentu selalu menjadi pengingat bagi kita. “Hidup ini adalah kesempatan/ Hidup ini untuk melayani Tuhan/ Jangan sia-siakan/ Waktu yang Tuhan b’ri/ Hidup ini untuk jadi berkat.”

Kiranya teladan St. Yusuf membantu kita untuk terus mengambil bagian dalam narasi Allah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *