Merawat Spirit Titipan Romo Mangun

Sekolah Eksperimental Mangunan Memperingati 25 Tahun Wafat Rm. YB. Mangunwijaya

News2016 Views

Sleman. Dalam rangka memperingati genap 25 tahun wafatnya Rm. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr atau yang dikenal sebagai Romo Mangun, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED) bersama dengan lima unit sekolah yang ada di dalamnya menggelar berbagai macam acara dan kegiatan yang bukan melulu bermuatan seremonial, tetapi justru memilih untuk merayakannya dengan berbagai kegiatan edukasi.

Kegiatan edukasi ini dilaksanakan selama dua hari, yakni Kamis-Jumat, 7-8 Maret 2024. Kemudian, pada Sabtu, 9 Maret 2024 dilanjutkan kegiatan bakti sosial dengan membagikan sembako kepada warga di sekitar sekolah yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk terus menghidupi semangat peduli dan empati kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir seperti yang selama ini dihidupi dan diperjuangkan juga oleh Romo Mangun.

Pada hari Sabtu itu juga diselenggarakan bazar dan pentas budaya yang melibatkan semua anak, orang tua, dan masyarakat sekitar sebagai satu keluarga besar Sekolah Eksperimental Mangunan. Semua kegiatan tersebut diselenggarakan di kompleks Sekolah Eksperimental Mangunan, Dusun Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Semua guru dan karyawan berperan serta dalam kegiatan tersebut. Dengan mengambil tema “Meletakkan Hati Meniti Masa”, bentuk-bentuk kegiatan yang dipilih adalah talkshow, seminar, dan workshop. Dengan mengusung konsep berbagi, maka semua guru dan karyawan terlibat untuk membagikan proses belajarnya dalam rangkaian kegiatan tersebut. Berbagi pengalaman menjalani proses dan dinamika belajar dengan konsep pendidikan pemerdekaan seperti yang digagas oleh Romo Mangun.

Dila dan Yoles. Kurikulum Merdeka sebenarnya menegaskan bahwa apa yang sudah dilakukan Sekolah Eksperimental Mangunan selama ini sudah benar.

Wilvridus Yolesa R. selaku Ketua I Panitia menjelaskan bahwa kemasan acara yang diselenggarakan berangkat dari hasil belajar, action research (AR) para guru yang dibagikan kepada peserta yang datang.

“Ada yang berbicara tentang iklim pembelajaran, pola asuh dalam pembelajaran, dinamika pembelajaran, dan sebagainya. Kami bagikan pengalaman kami kepada para guru dan pemerhati pendidikan yang kami undang. Mereka datang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jogja sendiri,” papar Yoles, sapaan akrabnya.

Para peserta disarankan mengikuti kegiatan secara utuh selama tiga hari. Hari pertama ada talkshow dengan narasumber orang-orang yang pernah berdinamika dengan Romo Mangun. Mereka ialah Rm. Vincentius Kirjito, Pr (pengagum karya dan teman diskusi Romo Mangun), Sri Wahyaningsih (teman diskusi Romo Mangun, mantan volunter Code), Lily Halim (pengembang Bahasa Indonesia Lab DED 1993-1997), Yohanes Siswandi (Guru SD Eksperimental Mangunan, Cupuwatu), dan Francisia Fegawaty Pramono (guru pertama TK Eksperimental Mangunan).

Dalam workshop pada hari kedua, diharapkan para guru dari luar Yayasan DED bisa menerapkannya di kelas dan sekolah masing-masing.

“Kami merawat spirit yang sudah Romo Mangun berikan dan titipkan,” ucap Yoles, guru Bidang Bahasa Indonesia SMP Eksperimental Mangunan ini.

Spirit Romo Mangun khususnya di bidang pendidikan, si anak menjadi subjek pembelajaran itu sendiri, sedangkan guru sebagai teman atau bidan yang membantu tumbuh kembang si anak.

“Itu salah satu spirit yang kami bawa, yakni bagaimana anak-anak dimerdekakan sebagai pembelajar tadi untuk berani mengeksplorasi dengan spirit eksplorasi dan harapannya bisa di tahap integral. Apa yang sudah dieksplorasi dan dikreasikan itu berguna untuk orang lain. Spirit Romo Mangun ini tidak hanya untuk kita, tetapi juga pendidikan di Indonesia. Mungkin itu mimpi kecilnya Romo Mangun. Beliau berusaha bisa menyumbang untuk pendidikan di Indonesia,” lanjut Yoles.

Augustinus Windu Aji memberikan materi action research (AR) berjudul “Menumbuhkan Sikap Peduli dan Keteraturan pada Anak melalui Musik Pendidikan”.

Sementara itu Desiana Dini Mardila, Ketua II Panitia, menyatakan Kurikulum Merdeka sebenarnya menegaskan bahwa apa yang sudah dilakukan Sekolah Eksperimental Mangunan selama ini sudah benar.

“Kalau kita cocokkan dengan istilah-istilah yang ada dalam Kurikulum Merdeka, kami justru bisa compare. Itu bagian yang ingin kami rawat. Dalam perjalanan setelah 25 tahun Romo Mangun wafat, yang mau kami pertahankan adalah tujuh modal dasar anak (karakter, bahasa, orientasi diri, logika kuantitatif, peranti, kerja sama, dan olahraga) serta jiwa ekspsloratif, kreatif, dan integral,” terang Kepala TK Eksperimental Mangunan ini.

Upaya merawat peninggalan Romo Mangun ini dilakukan lewat dinamika guru-guru di dalam kelas. “Iklim di dalam seluruh proses di sekolah ini, baik guru di dalam kelas, staf karyawan, dan semuanya, inilah yang kami apresiasi lewat acara ini,” ucap Dila, sapaan akrabnya.

Tahun ini, setelah 25 tahun berlalu, Yayasan DED telah berkembang cukup baik. Konsep Sekolah Merdeka yang digagas Romo Mangun terus dihidupi dan diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendampingan anak.

Bukan sekadar dilestarikan tetapi juga direalisasikan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sebagai dasar proses dan dinamika belajar, konsep tersebut tertuang dalam sebuah kurikulum yang kemudian disebut Pohon Kurikulum Mangunwijaya. Seperti yang diungkapkan Dila, konsep ini dalam perkembangannya banyak memiliki kesesuaian dengan Kurikulum Merdeka yang saat ini sedang diterapkan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *