Natalan Climen, Belajar dari Tiga Orang Majus

Perayaan Natal Lingkungan St. Matias Geblag

News1556 Views

Bantul. Menjelang Hari Raya Penampakan Tuhan, Lingkungan St. Matias Geblag, Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta menyelenggarakan perayaan Natal secara sederhana pada Jumat, 5 Januari 2024 di Pendapa Jodi Sarantan, Geblag, Bantul.

Yulius Sunaryo, ketua lingkungan, menjabarkan bahwa sehubungan dengan tahun politik menyambut pesta demokrasi, perayaan Natal tidak dilakukan dengan keramaian untuk menjaga situasi tetap kondusif.

“Bahasa Jawanya ‘natalan climen’, yang penting kita bersukacita atas kelahiran Tuhan kita sebagai penebus manusia di dunia ini,” sebut Naryo.

Tidak hanya umat Katolik warga Lingkungan St. Matias Geblag, perayaan Natal juga dihadiri sejumlah tetangga yang merupakan umat Kristen Protestan dan Muslim. “Perayaan Natal ini untuk kebersamaan, terbuka, dan menunjukkan masyarakat di sekitar kami itu heterogen,” jelas Naryo.

Ia berharap perayaan Natal kecil-kecilan ini tetap bermanfaat dan ada hikmahnya. Oleh karena itu, renungan dalam ibadat sabda disampaikan oleh Sr. Magdalena Rini RGS dari Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik.

Sr. Rini bercerita, “Pada malam Natal, 24 Desember 2023, ada seorang bayi yang harus kami ambil di rumah sakit karena ibunya nggak mampu untuk mengambilnya. Janjinya, setelah Natal ia akan mengambil kembali bayinya. Namun, sampai hari ini kami yang merawat bayi itu.”

Biarawati asal Muntilan, Jawa Tengah ini membayangkan bayi tersebut seperti bayi Yesus sehingga menjawab permenungan pribadinya, “Kalau Allah mau, Ia bisa hadir di tengah manusia bukan dalam rupa bayi, mungkin dalam sosok seperti pahlawan. Namun, Natal mengingatkan kita bahwa Allah memilih dilahirkan sebagai bayi.”

Sr. Magdalena Rini RGS. Orang majus mencari Tuhan dengan gigih.

Kemudian, Sr. Rini mengajak umat untuk belajar dari tiga orang majus. Para majus dipilih Allah datang menyembah Yesus secara resmi dalam tuntunan khas dari Allah. “Modal utama dari para majus adalah kebijaksanaan. Tidak semua orang mendapatkan roh kebijaksanaan serupa dengan situasi batin para majus. Namun bila kita mau, kita bisa mengenali tuntunan Allah seperti para majus,” paparnya.

Ada tiga hal yang dapat direnungkan dari para majus ini. Pertama, orang majus mencari Tuhan dengan gigih. Mereka datang dari timur, kemungkinan di wilayah Babel, yang jaraknya sangat jauh dari Yerusalem. Perjalanan darat melintasi padang gurun bisa beberapa minggu atau bulan, berjibaku dengan udara panas, badai pasir, serangan perampok, juga binatang buas. “Tapi, semua itu tidak menyurutkan niat mereka untuk datang menjumpai Kristus, Sang Raja yang baru saja dilahirkan itu,” ujar Sr. Rini.

Kedua, orang majus bersukacita karena kelahiran Sang Raja. Mereka tidak mendapati Sang Raja yang baru dilahirkan di istana megah Herodes, melainkan di tempat lain yang jauh dari kesan megah seperti istana. Namun, mereka tetap bersukacita meskipun tidak mendapati bayi Yesus di tempat yang awalnya mereka kira.

“Respons orang majus sangat berbeda dengan Herodes yang seketika merasa terancam karena kelahiran Sang Bayi. Herodes lalu berpura-pura ingin mencari tahu tentang siapa Sang Bayi itu, tapi dalam hati dia justru ingin membunuhnya,” papar Sr. Rini.

Ketiga, orang majus memberikan persembahan kepada Sang Raja. Mereka tidak datang dengan tangan hampa, karena telah mempersiapkan persembahan yang terbaik. Emas, dupa, dan mur yang mereka berikan adalah wujud pengakuan dan penyembahan mereka kepada Sang Raja yang baru dilahirkan tersebut.

Usai renungan, Sr. Rini berbagi tentang kisah panggilannya sebagai seorang biarawati, yakni menggantikan rekan kerjanya untuk mengikuti sebuah rekoleksi. Saat mengikuti rekoleksi, ia terkesan dengan para Suster Gembala Baik yang berkarya untuk para perempuan dan anak yang mengalami permasalahan moral. Ia pun terkesan, tersentuh, dan terpanggil untuk bergabung dengan kongregasi ini.

“Kami punya panti asuhan yang menampung anak-anak korban broken home, shelter untuk perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki, yang bagi saya sangat mengagumkan. Bagi anak-anak korban broken home para suster juga masuk ke diskotek untuk menjemput mereka. Maka, Suster Gembala Baik tidak memakai kerudung kalau berkarya,” kisah Sr. Rini.

Dari sharing panggilan Sr. Rini tersebut, Naryo berharap di Lingkungan St. Matias juga ada kaum putri yang terpanggil untuk menjadi suster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *