Sri Sultan: Yogyakarta, Pendhapa bagi Warisan Pendidikan Jesuit

News1289 Views

Sleman. Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Union of Jesuit Alumni (WUJA) Congress XI, forum internasional yang mempertemukan delegasi dari 30 negara.

Kongres ini dihadiri sejumlah tokoh penting dunia, di antaranya Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Pater Jenderal Serikat Yesus (Superior General of the Society of Jesus) Rm. Arturo Sosa, SJ, pimpinan lembaga pendidikan Jesuit, serta alumni Jesuit dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jepang, Filipina, India, Australia, Timor-Leste, Kenya, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan puluhan negara lainnya.

Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan sambutan dalam pembukaan WUJA 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Membuka kongres yang mengusung tema “Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan” pada Kamis, 30 Juli 2026 di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan kembali hakikat kepemimpinan di tengah dunia yang menghadapi berbagai tantangan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

Menurut Sri Sultan, kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh seberapa lantang seseorang berbicara, melainkan oleh kemampuannya mendengarkan, memahami, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

“Kepemimpinan tidak dapat diukur hanya dari kuatnya suara seseorang. Kepemimpinan juga tampak dari kemampuan mendengar suara yang lirih, memahami hal-hal yang belum pasti, serta memastikan bahwa kewenangan tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaannya,” tegas Sri Sultan.

Ia mengaitkan tema kongres dengan falsafah Jawa dalam Serat Sastra Gendhing. Menurutnya, sastra melahirkan makna, sedangkan gendhing menghadirkan irama. Keduanya hanya akan mencapai kesempurnaan ketika berjalan bersama. Demikian pula persatuan dan kepemimpinan, yang harus berjalan selaras agar mampu menghadirkan perubahan yang bermakna.

Pater Jenderal Serikat Yesus (Superior General of the Society of Jesus) Rm. Arturo Sosa, SJ kanan tengah memberikan sambutan saat pembukaan WUJA 2026 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Kamis, 30 Juli 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Sri Sultan juga mengingatkan, dunia saat ini dipenuhi begitu banyak suara dan informasi, tetapi justru kehilangan ruang untuk mendengarkan hati nurani. Karena itu, seorang pemimpin harus berani mengambil jalan yang lebih sunyi: rendah hati, mau berefleksi, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.

Sri Sultan mempertemukan kearifan budaya Jawa dengan spiritualitas Ignasian. Ia menyinggung filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yakni menjaga kehidupan, merawat keindahan ciptaan, dan mengupayakan kesejahteraan seluruh makhluk.

Nilai ini, menurutnya, sejalan dengan tradisi refleksi, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan (discernment), dan semangat pelayanan yang telah lama menjadi ciri pendidikan Jesuit.

Salah satu bagian penting pidato Sri Sultan adalah ketika ia menyinggung hubungan panjang Yogyakarta dengan pendidikan Jesuit.

Sri Sultan menyebut Yogyakarta telah lama menjadi pendhapa bagi warisan pendidikan Jesuit, mulai dari Kanisius, Kolese De Britto, hingga Universitas Sanata Dharma.

Selama puluhan tahun, lembaga-lembaga tersebut telah menaburkan benih pengetahuan, membentuk karakter, dan melahirkan generasi yang mengabdikan diri bagi masyarakat di berbagai bidang kehidupan.

Pernyataan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi pendidikan Jesuit di Yogyakarta yang terus berkembang hingga kini. Penyelenggaraan WUJA Congress XI di Universitas Sanata Dharma pun menjadi bagian dari perjalanan sejarah tersebut.

Sebagai satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia, Universitas Sanata Dharma dipercaya menjadi tempat berkumpulnya jejaring alumni Jesuit dunia untuk berdialog mengenai masa depan pendidikan, kepemimpinan, perdamaian, serta pelayanan bagi masyarakat global.

Sri Sultan juga mengutip kisah Nelson Mandela sebagai teladan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan menguasai rasa takut demi tetap memilih jalan kebajikan.

Ia menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tetap setia pada nilai-nilai kebenaran meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah, populer, ataupun cepat mendatangkan penghargaan.

Bagi Sri Sultan, menjadi tuan rumah WUJA Congress XI juga memiliki makna budaya yang mendalam. Dalam tata batin masyarakat Jawa, tamu bukan sekadar orang yang datang berkunjung, melainkan amanah yang membawa cerita, pengalaman, doa, dan harapan. Menyambut mereka berarti membuka ruang persaudaraan, tempat orang-orang dari berbagai bangsa dapat duduk bersama, saling mendengarkan, dan menemukan irama yang sama.

Sri Sultan berharap WUJA Congress XI menjadi ruang refleksi bersama setelah tujuh dekade perjalanan organisasi alumni Jesuit dunia tersebut. Ia mengajak seluruh peserta untuk terus memelihara “api kecil” dalam diri setiap manusia, api yang tidak membakar, melainkan menerangi; api yang tidak menghapus perbedaan, tetapi justru menuntun manusia untuk saling mengenali sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Romo Albertus Bagus Laksana, SJ, Provinsial Serikat Jesus Indonesia sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berbicara dengan utusan.net seusai pembukaan WUJA 2026. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Sementara itu, Provinsial Serikat Yesus Indonesia Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ menerangkan WUJA adalah pertemuan alumni sekolah-sekolah jesuit seluruh dunia. “Sasarannya eksternal dan internal. Yang eksternal adalah merespons tantangan-tantangan global sekarang. Ada tantangan ekologi, ada tantangan pendidikan, AI, teknologi, tetapi juga tantangan-tantangan politik, kesatuan kemanusiaan, juga pendidikan tentu saja,” beber Rm. Bagus.

Ia melanjutkan, “Tantangan internal ialah bagaimana membuat organisasi ini lebih berdaya, partisipatif, serta memberdayakan di semua sektor dan negara yang ada, kemudian bergerak bersama untuk menanggapi tantangan-tantangan eksternal itu. Selain itu juga menyejahterakan kehidupan pribadi, spiritualitas, kerohanian, makna hidup dari para anggotanya.”

Penyelenggaraan WUJA Congress XI di Universitas Sanata Dharma menjadi momentum penting yang mempertemukan nilai-nilai pendidikan, budaya, dan kemanusiaan dalam satu forum internasional. Dari Yogyakarta, para delegasi dari 30 negara membawa pulang pesan bahwa kepemimpinan masa depan adalah kepemimpinan yang mampu mendengar, melayani, membangun persaudaraan, dan menghadirkan harapan bagi dunia.

Slamet Riyadi & Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *