Misa Pembukaan WUJA 2026 di Gereja Ganjuran, Simbol Harmoni Iman, Budaya, dan Persaudaraan Global

News854 Views

Bantul. Indonesia resmi menjadi tuan rumah Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026, pertemuan terbesar alumni lembaga pendidikan Jesuit dunia yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Asia. 

Lebih dari 1.000 delegasi dari 30 negara memulai rangkaian kongres lima hari dengan melakukan registrasi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, sebelum mengikuti Misa Pembukaan pada Rabu, 29 Juli 2026 di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia sebagai negara Asia pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah World Union of Jesuit Alumni sejak organisasi berdiri 70 tahun lalu. 

Kehadiran ribuan alumni Jesuit dari berbagai belahan dunia mencerminkan semangat kolaborasi lintas negara dalam menjawab tantangan global melalui nilai-nilai pendidikan Jesuit yang mengedepankan kemanusiaan, kepemimpinan, dan pelayanan.

Misa Pembukaan dipimpin Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ, Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia bersama Rm. Johanes Hariyanto, SJ, Pembimbing Rohani Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit Indonesia, serta Rm. Raymundus Sugihartanto, Pr, Pastor Paroki Gereja HKTY Ganjuran.

Pemilihan Gereja Ganjuran sebagai lokasi pembukaan bukanlah tanpa alasan. Gereja yang telah berdiri lebih dari satu abad ini memiliki kedudukan istimewa sebagai pusat ziarah kultural Nusantara sekaligus salah satu contoh inkulturasi Gereja Katolik di Indonesia yang paling berhasil. Di tempat inilah iman Katolik berpadu dengan kekayaan budaya Jawa secara harmonis tanpa kehilangan esensi ajaran Gereja.

Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ (paling kanan). Seni dan teologi Kristiani dipadukan dengan tradisi-tradisi keagamaan lokal.

Bagi komunitas Katolik di seluruh dunia, Gereja Ganjuran juga memiliki makna yang lebih luas. Pada awal abad ke-20, gereja ini memperoleh izin khusus dari Takhta Suci Vatikan untuk menghadirkan simbol Katolik melalui pendekatan budaya Jawa.

Yesus Kristus dan Bunda Maria divisualisasikan sebagai bangsawan Jawa, sementara kompleks gereja memadukan arsitektur bergaya Eropa berbentuk salib dengan joglo Jawa serta elemen candi Hindu dan Buddha. 

Perpaduan tersebut menjadikan Gereja Ganjuran dikenal secara internasional sebagai salah satu laboratorium inkulturasi teologi yang memperlihatkan bagaimana iman dapat berakar kuat dalam budaya lokal sekaligus tetap setia pada ajaran Gereja universal.

“Jika Anda punya waktu, saya mengundang Anda untuk melihat lebih dekat contoh-contoh terbaik dari pengintegrasian iman Kristen ke dalam bahasa, arsitektur, dan spiritualitas lokal,” tutur Rm. Bagus dalam homilinya.

Ia pun menunjuk patung Yesus dan Bunda tidak digambarkan dengan gaya Barat, melainkan menggunakan bentuk Dewi Kebijaksanaan dalam agama Buddha atau Dewi Lakshmi dalam agama Hindu.

“Maria dipandang dalam semangat perpaduan antara kebijaksanaan Timur dan kebijaksanaan Barat. Selain itu, perhatikan pula sosok-sosok malaikat tersebut. Mereka bukanlah penggambaran malaikat khas Barat. Mereka unik karena digambarkan sebagai para abdi istana Jawa dalam posisi pengabdian dan penyembahan serta ketaatan kepada raja. Ini menggambarkan pengabdian dan penyembahan kepada Raja Kristus,” urai Rm. Bagus.

Sementara itu, penggambaran Yesus Kristus tampak seperti raja Jawa penganut Buddha dengan mahkotanya.

Semua itu menunjukkan bahwa seni dan teologi Kristiani dipadukan dengan tradisi-tradisi keagamaan lokal yang berbeda dari Asia, seperti Hindu dan Buddha, yang bersatu di sini dengan cara yang sangat khas.

Setiap delegasi tidak hanya mengenal Indonesia sebagai tuan rumah, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana nilai persaudaraan, dialog, dan penghargaan terhadap keberagaman hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia.

“Di sebelah gereja ada candi yang sangat istimewa. Bentuknya menyerupai pura Hindu di Jawa Timur dan di dalamnya terdapat patung Hati Kudus Yesus. Tempat ini populer di kalangan para peziarah dari semua tradisi agama dan budaya. Tempat ini populer di kalangan peziarah muda maupun yang lebih tua, baik Muslim, Hindu, maupun penganut Konfusianisme. Tentu saja, umat Katolik adalah pengunjung yang paling sering datang ke sini,” tunjuk Rm. Bagus yang merupakan putra Paroki Ganjuran ini.

Lebih dari sekadar lokasi pembukaan, Gereja Ganjuran dipilih karena mencerminkan semangat yang ingin dibangun sepanjang Kongres WUJA 2026, yaitu dialog, persaudaraan, penghormatan terhadap keberagaman, dan kolaborasi lintas budaya. 

Ketua Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit Indonesia, Hendra Hudiono, mengatakan bahwa Indonesia ingin memperkenalkan wajah Gereja Indonesia yang terbuka terhadap dialog budaya sekaligus memperlihatkan nilai-nilai persaudaraan yang menjadi kekuatan bangsa. 

“Kami ingin setiap delegasi tidak hanya mengenal Indonesia sebagai tuan rumah, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana nilai persaudaraan, dialog, dan penghargaan terhadap keberagaman hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Memulai kongres di Gereja Ganjuran merupakan simbol bahwa iman dapat bertumbuh bersama budaya lokal, dan semangat harmoni itu kami harapkan menjadi fondasi perjalanan seluruh delegasi selama Kongres WUJA 2026,” papar Hendra.

Semangat harmoni yang lahir dari Gereja Ganjuran diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh peserta selama mengikuti rangkaian Kongres XI WUJA hingga 2 Agustus 2026. 

Dengan latar belakang budaya, bahasa, dan kebangsaan yang berbeda, para delegasi diajak untuk membangun jejaring global yang berakar pada nilai-nilai Ignasian serta bersama-sama mencari solusi atas berbagai tantangan dunia saat ini.

Pilihan menu jamuan makan malam mencerminkan perhatian panitia terhadap kualitas pengalaman sekaligus kesehatan para delegasi.

Hari pertama kongres ditutup dengan Welcome Reception dan jamuan makan malam yang menghadirkan perpaduan kuliner Indonesia dan internasional sebagai bagian dari pengalaman budaya bagi para tamu. 

Menu makan malam menampilkan beragam hidangan seperti satai klathak khas Bantul, siomai, sup sayuran, steak ikan kakap, ayam saus barbeque, daging sapi tabur wijen, hingga aneka hidangan penutup dan buah segar.

Salah satu hidangan yang menarik perhatian adalah nasi ungu yang secara khusus dipilih panitia WUJA 2026. 

Selain memberikan sentuhan khas pada jamuan makan malam, nasi ungu dipilih karena memiliki nilai gizi yang tinggi. Warna alami dari ubi ungu menjadikan hidangan ini kaya antioksidan antosianin, tinggi serat, memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan nasi putih, serta dipercaya membantu menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan daya tahan tubuh. 

Pilihan menu tersebut mencerminkan perhatian panitia terhadap kualitas pengalaman sekaligus kesehatan para delegasi selama berada di Indonesia.

Rangkaian Kongres XI WUJA 2026 akan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 dengan berbagai agenda strategis yang mempertemukan para pemimpin alumni Jesuit, akademisi, tokoh Gereja, serta pemimpin lintas sektor dari berbagai negara. 

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *